toggle
plus minus gleich
English Indonesian

BERITA KARET AGUSTUS 2016

BERITA KARET AGUSTUS 2016

  1. Gapkindo Tagih Janji Pemerintah Serap Karet
  2. Industri Karet Butuh Investasi Pendukung US$ 2 Miliar
  3. Agen Potong Harga
  4. Perlu Peremajaan
  5. Perlu Bibit Unggul
  6. Dinas Perkebunan Tanggapi Rendahnya Harga Getah Karet
  7. Babel-Jabar Akan Bangun Pabrik Karet
  8. Pengusaha Karet Sumut Stop Kontrak Ekspor Jangka Panjang
  9. Petani Karet Tabalong Dapat Bantuan Modal
  10. Perpanjangan Masa Ekspor Karet Dibahas dalam ITRC
  11. Pembatasan Ekspor Karet demi Seimbangkan Harga Karet

----------------------------------

Gapkindo Tagih Janji Pemerintah Serap Karet

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) mendesak pemerintah segera memberikan solusi terkait penurunan harga karet. Pasalnya, program pembatasan ekspor karet ternyata tidak mampu menggerek harga karet di dalam negeri.

Malah saat ini karet menyentuh harga terendah Rp 4.000 - Rp 5.000 per kilogram (kg) di tingkat petani, dari harga karet ideal Rp 12.000 per kg - Rp 14.000 per kg. Sementara, di pasar global harga karet juga jatuh di kisaran US$ 1,3 per kg.

Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo mengatakan, harga karet belakangan ini kembali tertekan. Kondisi ini merefleksikan kembali melemahnya ekonomi dunia. Saat ini, permintaan terhadap karet alam di dunia kurang kuat sehingga harga jatuh. "Gapkindo sudah secara aktif mendesak pemerintah untuk menggerakan penyerapan karet dalam proyek infrastruktur, namun sampai sekarang masih belum ada realisasinya," ujarnya, Kamis (28/7).

Ia bilang, upaya pemerintah menggerakkan penyerapan karet melalui proyek infrastruktur akan membuka pasar baru atau sektor penyerapan baru bagi industri karet di luar pasar yang sudah ada selama ini. Kondisi ini tentu saja dapat mendorong kenaikan harga karet di tingkat petani. Apalagi gerakan serupa dilakukan negara produsen utama karet di ASEAN yang saat ini tengah gencar melakukan pembangunan infrastruktur, sehingga harga karet akan kembali menguat.

Menurut Moenardji, sejauh ini kementerian terkait telah memberikan respons positif atas permintaan Gapkindo untuk membuka pasar baru bagi industri karet. Oleh karena itu, posisi Gapkindo saat ini menunggu realisasi janji tersebut. Intinya, Gapkindo mendesak pemerintah melakukan kreasi agar ada demand baru untuk industri karet.

Kontan, 28/07/2016

-----------------------------

Industri Karet Butuh Investasi Pendukung US$ 2 Miliar

Industri karet olahan membutuhkan investasi hingga US$ 2 miliar (Rp 26,99 triliun) untuk membangun industri pendukung yang mampu menyediakan komponen bahan baku campuran karet alam. Selama ini, industri karet olahan terpaksa mengimpor bahan baku tersebut karena tidak tersedia di Indonesia.

"Industri hilir selalu disalahkan karena mengimpor bahan baku dari luar. Tapi bagaimana bisa kalau industri antaranya saja sampai sekarang belum ada?," kata Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Aziz Pane kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Aziz menjelaskan, dibutuhkan sekitar 15-20 komponen bahan baku pendukung yang akan diolah bersama karet alam untuk memproduksi karet olahan. Sebagian besar komponen pendukung tersebut berupa bahan kimia yang dihasilkan dari industri antara.

"Sebenarnya industri karet olahan sangat mendambakan PT Pertamina untuk membangun industri antara yang memproduksi komponen-komponen kimia sebagai campuran crumb rubber. Pasalnya, investasinya sangat besar, bisa mencapai US$ 1-2 miliar," ujar dia.

Menurut dia, industri pendukung karet tersebut sebenarnya pernah ada di Indonesia. Tetapi hampir semua merelokasi pabrik keluar Indonesia saat krisis tahun 1998.

Aziz mengungkapkan, industri pendukung karet bisa dibangun di Sumatera Selatan. Daerah tersebut dinilai sangat strategis karena merupakan penghasil karet alam terbesar, sekaligus memiliki cadangan batubara dan gas yang cukup.

"Kita bisa undang investor untuk membangun industri kimia pendukung di sana," tutur dia.

Menurut Aziz, idealnya Indonesia harus memiliki industri karet yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. "Diantara hulu dan hilir itu harus ada industri antara, yang selama ini kita belum punya," kata dia.

Menurut dia, ketiadaan industri antara tersebut juga menyebabkan industri karet olahan di hilir susah berkembang karena tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku. Padahal, Indonesia sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia, sudah memiliki modal besar dengan tersedianya karet alam yang berlimpah.

"Kita punya potensi sangat besar untuk mengembangkan industri karet olahan. Dan untuk memaksimalkan keuntungan tersebut, kita harus membangun industri karet terintegrasi, jangan hanya di hulu dan hilirnya saja," jelas Aziz.

Karet Aspal

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah membuat proyek percontohan (pilot project) hilirisasi karet untuk aspal. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan serapan karet di dalam negeri, sekaligus menciptakan nilai tambah komoditas tersebut.

"Kami sudah mencoba skala kecil, tahun ini kita coba skala yang lebih besar. Kami akan bekerja sama dengan balai penelitian karet untuk skala setengah pabrik. Kami sedang membuat pilot plannya," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto baru-baru ini.

Panggah menegaskan pentingnya dilakukan pilot project tersebut. Pasalnya, sebelum masuk ke tahap pemasaran, harus terlebih dahulu disiapkan secara matang teknis produksi maupun produk yang dihasilkan.

"Teknologinya sudah ada, tapi benar-benar perlu dibuktikan dan teruji," ujar dia.

Karena masih dalam tahap pengkajian, menurut Panggah, aspal karet belum bisa banyak berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur pada tahun ini. "Hilirisasi ini juga masih menghadapi kendala, yakni aspal karet harganya lebih mahal 20% dibandingkan aspal biasa. Meski, umur aspal karet berdasarkan penelitian jauh lebih baik, dan lebih mudah secara perawatan," jelas dia.

Selain untuk aspal, terang Panggah, hilirisasi karet juga akan diarahkan untuk digunakan dalam pembuatan bantalan karet di pelabuhan (dock fenders), dan latex. Jika diversifikasi produk-produk tersebut berhasil, penyerapan karet domestik bisa meningkat dari 550 ribu ton per tahun, menjadi 650 ribu ton per tahun.

"Sekarang kan kita produksi 3 juta ton, konsumsi dalam negeri baru 550 ribu ton. Kalau secara teknis aplikasinya bisa dijalankan, penyerapannya akan meningkat," ujar Panggah.

Investor Daily, 27/07/2016

-------------------------------

Agen Potong Harga

Satu lagi kisah sendu yang mendera petani karet di Sumut adalah sebagian besar menjual getah karetnya ke agen atau pengumpul. Tapi dalam praktiknya, petani selalu mendapatkan harga lebih murah Rp 700 hingga Rp 1.000 dibandingkan langsung ke pabrik.

Petani menjual karetnya ke agen, bukan ke pabrik, karena jaraknya yang jauh. Agen-agen biasanya datang langsung dari Medan. Petani yang tidak punya pilihan harus rela dengan potongan harga, bisa sampai Rp 1.000 per kg. Tapi, sering juga para agen menukangi timbangannya.

"Petani kan tidak bisa berbuat apa-apa karena itu (praktiknya) sudah lama terjadi," kata Mulyadi, petani karet di Desa Timbang Jaya Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat.

Pemerintah yang 'terlihat' ogah mencampuri praktik ini, harapan petani harusnya memiliki solusi agar tidak terus terjadi. Misalnya, dengan membangun atau membuat semacam pelelangan agar getah karet tertampung. Namun dengan ketentuan bahwa harga ke petani akan sesuai dengan harga internasional. Selain itu, timbangannya pun tidak lagi diakali.

Jika ada yang bisa menjamin harga dan timbangan, tentu keuntungan petani tidak akan terpangkas. Karena hal itu sangat dirasakan petani terutama saat harga karet jatuh. Jadi petani mendapatkan kerugian yang beruntun.

Suparno, petani karet di Dusun Damar Itam Desa Mekar Makmur Kabupaten Langkat mengakui bahwa penjualan getah karet ke agen tidak menguntungkan petani. Bertahun-tahun menanggung kerugian, dia akhirnya memberanikan diri menjual langsung ke pabrik. Karena menjual ke agen selalu dihargai murah.

Misalnya, harganya Rp 8.000 per kg, hanya dibayar Rp 7.000 atau Rp 7.300 per kg. Jika getah yang mau dijual hanya 20 kg, tentu jumlahnya terlihat kecil. Namun jika 300-400 kg, kerugiannya besar. "Si agen jadinya yang untung besar. Petani malah buntung," ujarnya.

Dikatakan Suparno, petani memang harus memiliki keberanian dengan menjual langsung ke pabrik. Itu bisa juga dilakukan jika petani berkelompok. Sehingga harganya akan sama dengan pasaran dan timbangannya pun tidak diakali.

Karena untuk saat ini, masih sulit untuk mengharapkan pemerintah memiliki aturan soal karet agar petani dapat harga yang sesuai.

Medan Bisnis.id , 18/07/2016

---------------------

Perlu Peremajaan

Bukan hanya persoalan harga. Produktivitas yang merosot juga ikut menerpa tanaman karet. Tanaman yang sudah uzur alias berumur tua menjadi penyebabnya.

Catatan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara (Sumut), sekitar 40.000 hektare tanaman karet perlu diremajakan (replanting). Jumlah tersebut sekitar 10,14% dari total luas 394.113,57 hektare.

Sayangnya, replanting masih membutuhkan waktu dengan alasan tanaman harus diintensifikasi dulu sehingga meningkatkan hasil panen getah karet. Karena dengan intensifikasi, jumlah panen getah akan lebih tinggi, waktu panen getah lebih awal dan masa panen puncak lebih lama. Serta usia produksi karet lebih lama. Intinya, tanamannya perlu dirawat dulu.

Kepala Dinas Perkebunan Sumut Herawati mengatakan, replanting juga masih menunggu harga karet membaik. Sebab, petaninya akan bermasalah jika tanaman karetnya langsung direplanting. "Rata-rata pendapatan mereka (petani) hanya dari tanaman karet," ujarnya.

Tanaman yang perlu replanting sebagian besar berada di sentra karet di Sumut yakni Labuhan Batu, Labuhan Batu Selatan, Labuhan Batu Utara, Mandailing Natal (Madina), Serdangbedagai dan Deliserdang.

Replanting tanaman karet, menurut Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah, menjadi 'senjata' bagi petani untuk memerangi rendahnya produktivitas tanaman mereka. Karena replanting nantinya akan menggunakan bibit unggul.

Namun, di tengah harga yang anjlok, sebelum melakukan peremajaan, pemerintah juga harus memikirkan kompensasi bagi pendapatan para petani. "Petani mau makan dari mana kalau tanaman karetnya langsung diremajakan. Pemerintah harus memikirkan tanaman sela, kemudian terkait pemasarannya," ujarnya.

Peremajaan lahan tanaman karet, memakan waktu cukup lama yakni 3,5-4 tahun.  Selama waktu itu, petani harus memiliki kegiatan (pekerjaan) yang bisa mendatangkan pendapatan pengganti hasil tanaman karet.

Pemerintah memang akan melakukan replanting sejumlah perkebunan yang menjadi komoditas strategis di Indonesia termasuk karet. Program peremajaan ini rencananya akan menggunakan anggaran dari perbankan melalui kredit usaha rakyat (KUR).

Program replanting akan dilakukan paling cepat selama tujuh tahun. Untuk tahun 2016, pemerintah akan memberikan dana Rp 30 triliun. Namun untuk tujuh tahun ke depan, pemerintah akan memberikan dana maksimal Rp 104 triliun yang diberikan bertahap setiap tahunnya.

Medan Bisnis. Id, 18/07/2016

------------------------------

Perlu Bibit Unggul

Meski harga karet jatuh sejak tahun 2012 silam, sebagian besar petani masih bertahan dan tidak mengonversi lahannya ke tanaman lain. Namun, ketiadaan biaya membuat tanaman karet sudah tidak dipupuk selama tiga tahun belakangan.

Akibatnya, produksi melorot hingga 40%. Untuk pohon produktif berumur 15-20 tahun, produksi hanya 150 kg per hektare. Sementara jika menggunakan pupuk, bisa menghasilkan getah 200 kg per hektare. Bahkan untuk pohon yang sudah tua (di atas 25 tahun), biasanya bisa menghasilkan 120 kg per hektare, tapi kini hanya 100 kg per hektare.

"Pemerintah menganggap petani kebun itu sudah sejahtera sehingga tidak ada subsidi termasuk pupuk. Jadinya di saat harga rendah begini, ya tidak dipupuk," kata Suparno, petani karet di Dusun Damar Itam Desa Mekar Makmur Kabupaten Langkat.

Persoalan lain yang menyedot rasa optimisme petani dari tanaman langganan ekspor ini, rata-rata karet petani Sumut merupakan karet alam yang berasal dari biji. Berbeda dengan perusahaan-perusahaan perkebunan yang menggunakan okulasi.

Okulasi adalah salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan menempelkan mata tunas dari suatu tanaman kepada tanaman lain yang dapat bergabung (kompatibel). Tujuannya untuk menggabungkan sifat-sifat yang baik dari setiap komponen sehingga diperoleh pertumbuhan dan produksi yang baik.

Prinsip okulasi sama yakni penggabungan batang bawah dengan batang atas. Perbedaannya adalah umur batang bawah dan batang atas yang digunakan sehingga perlu teknik tersendiri untuk mencapai keberhasilan okulasi.

Keuntungan yang diharapkan dari batang bawah secara umum adalah sifat perakarannya yang baik, sedang dari batang atas adalah produksi latex yang baik. Dengan okulasi, perusahaan bisa menyadap getah karet 300 kg per hektare. Berbeda hingga 40-50% dibandingkan hasil sadapan petani.

Setelah produktivitas menurun karena tidak ada pemupukan, untuk pohon yang berumur tua dan ditumbangkan, terang Suparno, petani telah mengganti bibit dengan bibit unggul yang sama dengan perusahaan perkebunan. Bibit ini didapatkan dari bantuan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Petani dilatih menangkar bibit yang disumbangkan sekitar 50 pohon dan bisa menghasilkan 2.000 bibit. Setelah itu dilakukan penanaman dan kini sudah berumur setahun. Petani memang sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah seperti pupuk dan bibit.

Jadi ketika karet berumur tua atau malah sudah tumbang, penggantinya tak lagi karet alam namun bibit hasil okulasi. Standar di Sumut, pohon karet ditanam sekitar 550 pohon per hektare dengan jarak tanam 3x6 meter per sgei. Namun ada juga yang tak mengikuti standar dan sebagian besar petani sudah menyisip tanaman yang ada dengan bibit baru.

"Ya tujuannya agar produksi meningkat. Secara perlahan memang mau diubah menjadi bibit unggul. Jadi meski harganya terus turun, setidaknya petani masih punya harapan dari sisi produksi," kata Suparno.

Medan Bisnis.id,  18/07/2016

------------------------------------

Dinas Perkebunan Tanggapi Rendahnya Harga Getah Karet

Dinas Perkebunan Sumatera Barat (Sumbar) menanggapi rendahnya harga getah karet di Sijunjung yang saat ini Rp 5.000 hingga Rp 6000 per kg.

Kepala Dinas Perkebunan Sumbar Fajarudin mengutarakan, harga getah karet menurun karena permintaan karet oleh industri karet dari luar negeri juga menurun. Penyebab kurangnya permintaan tersebut karena daerah pengimpor memiliki banyak persediaan karet.

“Harga karet di dalam negeri dipengaruhi oleh permintaan karet dari luar negeri,” ujarnya di Padang, Senin (25/7).

Fajarudin mengungkapkan, 80% getah karet dari Sumbar yang dijual ke luar negeri digunakan untuk industri pembuatan ban. Jadi, jika permintaan dari industri luar negeri me­ningkat, harga getah karet di dalam negeri akan kembali naik. Perihal kapan harga tersebut kembali naik, ia tak tahu.

Ia mengaku bahwa pihaknya sudah berko­ordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perda­gangan (Disperindag) Sumbar agar harga karet tetap stabil. Dinas Perkebunan Sumbar dan Disperindag saat ini tengah merencanakan untuk mendorong pemerintah agar mendukung pe­ngembangan industri karet dalam negeri.

Selain melakukan kerja sama dengan Dis­perindag, kata Fajarudin, Dinas Perkebunan Sumbar juga mengimbau petani karet untuk menanam komoditas lain, seperti kelapa sawit, kakao, dan jagung. Saran itu disampaikannya agar petani karet tak hanya mengharapkan hasil dari panen karet, tapi juga dari tanaman lain.

Haluan, 26/07/2016

----------------------------

Babel-Jabar Akan Bangun Pabrik Karet

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk membangun pabrik karet guna menjaga stabilitas harga karet petani di daerah itu.

"Kita sudah mempersiapkan lahan 20 hektar untuk pembangunan pabrik karet ini," kata Gubernur Kepulauan Babel, Rustam Effendi di Pangkalpinang, Sabtu.

Ia menjelaskan kerja sama pembangunan pabrik karet dengan Pemprov Jawa Barat ini masih dalam tahap penjajakan dan diharapkan segera terealisasi sehingga pemerintah daerah bisa memperkuat ekonomi bidang pertanian dan perkebunan.

"Pabrik karet akan memangkas biaya distribusi penjualan karet petani dan secara otomatis harga akan meningkat," ujarnya.

Menurut dia, jika pabrik karet telah terbangun, pemerintah provinsi akan mengoptimalkan pembangunan sektor perkebunan karet agar dapat meningkatkan produksi karet petani.

"Pabrik ini bisa dibangun apabila suplai karet petani mencapai 65.000 ton. Jika masih di bawah 20.000 ton, maka pabrik belum bisa direalisasikan," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, petani diimbau untuk terus mengembangkan dan memperluas perkebunan karetnya guna merealisasikan pembangunan pabrik pengolahan karet di daerah ini.

"Saat ini harga karet petani anjlok pada kisaran Rp 2.000 hingga Rp 4.000 dari Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per kilogram, sehingga berdampak langsung menurunnya daya beli petani.

"Kami berharap petani untuk terus meningkatkan kualitas, untuk menaikkan kembali harga karet," ujarnya.

Antaranews, 24/07/2016

----------------------------------

Pengusaha Karet Sumut Stop Kontrak Ekspor Jangka Panjang

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara akan menghentikan kontrak ekspor jangka panjang akibat harga yang masih cenderung terus menurun.

Adapun, kontrak jangka panjang juga dinilai sebagai salah satu penyebab kerugian terus menerus yang dialami eksportir karet.

Sekretaris Gapkindo Sumut Edy Irwansyah mengatakan saat ini sekitar 40% ekspor karet Indonesia dilakukan melalui jasa trader dan berdasarkan kontrak jangka panjang.

Dengan kontrak jangka panjang, karet untuk pengapalan pada 1 tahun mendatang sudah dapat dikontrak dengan harga yang disepakati saat ini.

"Dengan kata lain, harga untuk tahun depan tidak akan jauh dari kondisi harga pada saat ini. Ini sudah berlangsung berbulan-bulan sehingga semacam ada lingkaran setan, di mana harga dikendalikan mekanisme kontrak jangka panjang ini. Selanjutnya, kami lebih memilih sistem spot," ucap Edy, Jumat (22/7/2016).

Lebih lanjut, dia menjelaskan, selama 2 tahun belakangan harga karet sudah berada di bawah level renumeratif. Adapun, Edy menyebutkan seharusnya level harga wajar adalah US$2 per kg untuk TSR20.

"Walaupun ada faktor-faktor yang mendukung naiknya harga, misalnya perekonomian dari negara konsumen utama sudah lebih baik dibandingkan dengan 2 tahun yang lalu, dan Thailand, Indonesia, dan Malaysia sedang menjalankan pembatasan ekspor tapi harga masih bertahan rendah sekitar US$1,3 per kg karena pelaku pasar lebih ahli dalam mengendalikan perdagangan," tambah Edy.

Adapun, rencana penghentian kontrak jangka panjang ini, ucap Edy akan dibahas pada Rakernas Gapkindo pada bulan depan di Jakarta. Langkah ini juga akan diusulkan kepada produsen karet ASEAN melalui forum ARBC (ASEAN Rubber Bussiness Council).

Dia mengemukakan, bila harga terus bertahan di bawah US$2 per kg, pabrik karet akan kesulitan mendapatkan bahan baku. Para petani karet akan lebih banyak yang mengkonversi lahannya ke komoditas lainnya.

Sebelumnya, Gapkindo Sumut mencatat, sepanjang semester I/2016, kinerja volume ekspor karet Sumut mengalami penurunan 5% yakni hanya 208.021 ton dibandingkan dengan semester I/2015 218.902 ton.

Kontraksi volume ekspor selama tengah tahun pertama tersebut terutama dialami pada Maret-April 2016.

Selama 2 bulan tersebut terjadi penurunan ekspor masing-masing 6.773,57 ton pada Maret 2016, dan 5.774,54 ton pada April 2016.

Selain itu, terakhir pada Juni 2016, volumenya juga menurun 1.731,15 ton. Adapun, untuk penyerapan karet domestik, pada periode yang sama, meningkat menjadi 9.744,86 ton dari 7.263,81 ton pada semester I/2015.

Bisnis Indonesia.com, 22/07/2016

--------------------------------

Petani Karet Tabalong Dapat Bantuan Modal

Petani karet di Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan akan mendapatkan bantuan modal melalui bank perkreditan rakyat untuk membantu pengembangan usaha.

Bupati Tabalong Anang Syakhfiani, di Tanjung, Jumat, mengatakan bantuan modal berupa pinjaman tanpa bunga nantinya bisa dimanfaatkan petani karet untuk meningkatkan kualitas hasil produksi karet lokal.

"Kelompok petani karet perlu bantuan modal agar bisa menghasilkan getah kualitas bagus, karena itu melalui BPR kami menyiapkan kredit tanpa bunga," ujar Anang.

Menurut Anang, jika karet yang dihasilkan petani berkualitas bagus harga jualnya mencapai Rp 9.000 sampai Rp 10.000 per kilogram.

Sebaliknya getah karet kualitas rendah berupa lum mangkokan saat ini harganya anjlok hingga Rp 4.000 per kilogram.

Selain memberikan bantuan modal berupa pinjaman tanpa bunga, Pemkab Tabalong juga memberikan bantuan peralatan sit angin kepada petani karet di `Bumi Saraba Kawa` ini.

Petani lokal diharapkan bisa memproduksi karet olahan berupa sit angin karena kualitasnya lebih baik dan harga jual lebih tinggi.

Produksi karet olahan berupa sit angin telah diuji pada pencanangan Program Gerakan Masyarakat Meningkatkan Mutu Karet (Gemas Mekar)

Antaranews, 15/07/2016

-----------------------------

Perpanjangan Masa Ekspor Karet Dibahas dalam ITRC

Negara produsen utama karet dunia yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council atau ITRC dijadwalkan akan mengadakan pertemuan membahas perlu tidaknya diperpanjang masa pembatasan ekspor karet yang berakhir Agustus 2016.

“Pertemuan dijadwalkan pada minggu ketiga Agustus atau sebelum batas akhir pembatasan ekspor karet 31 Agustus sejak diberlakukan 1 Maret 2016,” kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwasnyah di Medan, Selasa.

Menurut dia, pertemuan itu memang penting mengingat juga harga jual karet di pasar dunia tidak bisa naik signifikan seperti yang diharapkan pascapemberlakuan pembatasan ekspor.

Harga jual karet misalnya masih di kisaran US$ 1,3 per kg atau pernah paling tinggi US$ 1,588 per kg pada April.

“Memang ada tren kenaikan, tetapi harga jualnya dinilai belum juga seperti yang diharapkan sehingga bukan saja eksportir yang kesulitan tetapi juga petani,” katanya.

Edy mengatakan, dampak masih belum membaiknya harga jual dan permintaan karet itu sudah berdampak ke penerimaan devisa Sumut dari golongan karet dan barang dari karet.

Nilai ekspor karet dan barang dari karet Sumut hingga Mei 2016 misalnya sudah turun 20,61% dibandingkn periode sama tahun 2015 atau menjadi US$ 390.069 juta.

“Penurunan devisa bukan hanya karena harga jual yang turun tetapi juga volume ekspor yang berkurang karena permintaan melemah,” katanya.

Volme ekspor karet Sumut hingga Mei 2016 turun sebesar lima persen dari periode yang sama tahun 2015 atau tinggal 172.329.462 kilogram (kg).

Pada periode Januari-Mei 2015, volume ekspor karet anggota Gapkindo Sumut masih bisa sebanyak 181.478.598 kg.

Penurunan ekspor hampir terjadi setiap bulan, kecuali pada Februari 2016 yang naik menjadi 38.128,364 kg dari Februari 2015 tercatat 36.440,639 kg.

“Selain permintaan yang melemah, penurunan volume ekspor memang juga sebagai dampak adanya kesepakatan penahanan atau pengurangan ekspor karet antara Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam,” katanya.

Pengamat ekonomi Sumut, Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, pemerintah harus menjalankan kebijakan membantu petani karet yang sudah lama kesulitan akibat harga jual karet yang sudah lama anjlok.

“Pemerintah Malaysia dan Thailand sudah lama memberi bantuan ke petani karet untuk mempertahankan petaninya tetap berkebun karet,” katanya.

Harga karet di tingkat petani yang selama ini dirumuskan dengan hitungan satu kg karet bisa dapat dua kg beras harus diwujudkan kembali dengan berbagai upaya.

“Jangan sampai petani menebang semua pohonnya, lalu Indonesia yang awalnya pengekspor dan termasuk produsen utama menjadi negara pengimpor karet,” katanya.

Moneter.co.id, 12/07/2016

------------------------------------

Pembatasan Ekspor Karet demi Seimbangkan Harga Karet

Tujuan dilaksanakannya pembatasan volume ekspor karet yang pertama untuk menyeimbangkan harga di pasar global. Yang kedua tujuannya agar harga tidak jatuh di level yang lebih dalam lagi.

“Di Minggu ketiga ini kemungkinan tiga negara akan membahas perlu tidaknya pembatasan volume ekspor karet tersebut. Kalau dari Indonesia sikap tersebut harus diambil dari Gapkindo pusat dan Gapkindo Sumut belum mengetahui arahnya ke mana, masih menunggu kepastian dan sikap,” kata Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, Rabu (13/7/2016).

Ia menjelaskan, tiga negara penghasil karet alam yakni Thailand, Malaysia dan Indonesia yang tergabung di International Tripartite Rubber Council (ITRC) tersebut sepakat mengurangi ekspor karet alam sebanyak 615 ribu ton untuk periode 1 Maret hingga 31 Agustus 2016.

“Alokasi pengurangan dari tiga negara anggota ITRC tersebut masing-masing adalah Thailand sebanyak 324.005 ton, Indonesia sebanyak 238.736 ton, dan Malaysia sebesar 52.259 ton,” jelasnya

Ia mengatakan, di tahun lalu, tercatat Thailand mengekspor karet 3,8 juta ton, Indonesia 3,7 juta ton, Malaysia 400.000 ton. Sedangkan Vietnam yang juga ikut mungurangi volume ekspor 15% mengekspor 1 juta ton. Keempat negara ini berkontribusi 70% terhadap ekspor karet dunia.

“Jika dilihat dari kondisi harga karet saat ini yang masih rendah, pembatasan volume ekspor tersebut masih diperlukan terutama agar harga karet tidak semakin jatuh ke level yang lebih rendah lagi,” katanya menandaskan.

Tribun-Medan, 13/07/ 2016

email Cetak PDF