toggle
plus minus gleich
English Indonesian

BERITA KARET DESEMBER 2016

  1. Aksi Spekulatif Melarkan Harga Karet
  2. Produksi Karet Turun di 3 Negara
  3. Lonjakan Harga Karet Diprediksi hanya Sementara
  4. Gubernur: Luas Lahan Karet Jambi Tidak Diperluas
  5. Nasib AETS Ditentukan Bulan Desember
  6. Anggota ITRC Berupaya Dongkrak Harga Karet
  7. Lebak Punya 34 Ribu Hektare Lahan Karet Rakyat
  8. Harga Karet Bullish
  9. Gapkindo Tanggapi Surat Pelindo II Cabang Palembang
  10. Guangken Rubber Segera Catatkan Saham Pabrik Karetnya di Thailand di Bursa LN
  11. Dewan Karet India Terapkan Sistem Penyadapan Baru
  12. Kenaikan Produksi Karet Menekan Laju Kenaikan Harga, Karet India Kini Lebih Murah
  13. Dukung Petani Karet, Kementerian PUPR Gunakan Aspal Karet Alam
  14. AETS Diharapkan Berlanjut

-----------------------------------------------------------

Aksi Spekulatif Melarkan Harga Karet

Dalam sebulan terakhir, harga karet kembali melar. Berdasarkan data harga karet di Tokyo Comodities Index per 26 Oktober 2016 tercatat masih ¥ 179 per kilogram (kg) atau US$ 1,59 per kg (US$ 1= ¥ 112,53).

Harga tersebut meningkat drastis hingga Kamis (24/11) kemarin yang mencapai ¥ 238,8 per kg atau setara US$ 2,12 per kg. Ini artinya, dalam sebulan harga karet melonjak hingga 33,33%.

Kenaikan harga ini, tak pelak membuat petani karet sedikit lebih lega. Maklum, jika akhir bulan lalu harga karet masih dibanderol Rp 5.000-Rp 6.000 per kg, maka di akhir November ini, harganya sudah melejit menjadi Rp 8.000-Rp 10.000 per kg.

Namun kenaikan harga karet ini diprediksi tidak berlangsung lama, karena situasi perekonomian global mengalami ketidakpastian pasca Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

Trump dalam kampanye pemilihan presiden AS sebelumnya mengancam akan melakukan proteksi terhadap pasar AS dan akan menyetop impor dari China. Padahal, China merupakan salah satu negara yang menyerap karet dalam volume besar.

Bila hal itu terjadi, maka otomatis negara Tirai Bambu tersebut akan mengurangi produksi dan penyerapan karet di pasar global. "Jadi kenaikan ini paling banter bertahan sampai kuartal pertama tahun depan," ujar Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane kepada KONTAN, Kamis (24/11).

Azis mengatakan, kenaikan harga karet saat ini tidak didasarkan pada fundamental karet yang menguat, tapi lebih banyak karena spekulasi pasar. Kendati begitu, langkah pembatasan ekspor karet yang dilakukan oleh tiga negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) yakni Thailand, Indonesia, Malaysia, dan plus Vietnam turut mendorong peningkatan harga karet.

Apalagi, pembatasan ekspor karet ini disokong dengan menipisnya stok karet di China yang mendorong negara itu meningkatkan penyerapan di akhir tahun ini.

Selain karena ancaman ketidakpastian kebijakan ekonomi AS di bawah Trump, Azis juga bilang, ketidakpastian ekonomi Uni Eropa juga berpotensi membuat harga karet akan anjlok lagi. Sebab, saat ini, Uni Eropa tengah direcoki proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan pemilihan Kanselir Jerman yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian baru.

Penyerapan pasar lokal

Moenardji Soedargo, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) mengatakan, saat ini harga karet sudah lebih baik dibandingkan kondisi awal tahun lalu yang tersungkur di kisaran US$ 1 per kg.

Menurutnya, kejatuhan harga karet waktu itu tidak sesuai dengan nilai fundamentalnya. Karena itu, proses perbaikan harga karet akan terjadi dan itu mulai terasa saat ini ketika harga karet terus menanjak tinggi.

Namun, untuk mengantisipasi ketergantungan pada permintaan pasar global dan ketidakpastian ekonomi globa, Gapkindo mendorong agar pemerintah berperan aktif dalam meningkatkan konsumsi karet dalam negeri, khususnya oleh negara penghasil karet, termasuk Indonesia.

Gapkindo menyarankan agar pemerintah melakukan penjajakan ke beberapa negara tetangga untuk membatasi ekspor karet dan meningkatkan konsumsi karet di dalam negeri masing-masing.

Selain itu, Gapkindo mendesak agar janji pemerintah untuk menambahkan karet sebagai bahan baku pada beberapa proyek infrastruktur segera diimplementasikan. Salah satu contohnya adalah pencampuran karet dengan aspal yang telah dijanjikan sejak tahun 2015 lalu.

Kontan, 25/11/2016

------------------------------------------

Produksi Karet Turun di 3 Negara

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut mencatat harga ekspor karet di pasar internasional masih terus berfluktuasi. Hal ini diakibatkan karena kembali menurunnya harga minyak mentah dan melemahnya nilai tukar mata uang Yen terhadap dolar AS.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, mengatakan harga masih di kisaran US$ 1,7 per kg.

“Harusnya di tengah produksi yang masih melemah dan permintaan banyak menjelang akhir tahun, harga bisa lebih tinggi, tapi justru ini masih fluktuasi,” tuturnya kepada Waspada Online, Senin (28/11).

Penurunan produksi karet akibat turunnya produksi di tiga negara penghasil komoditas tersebut menyusul terjadinya musim hujan di daerah tersebut.

Edy menambahkan, adapun pengaruh melemahnya nilai Yen terhadap dolar AS ke penurunan harga karet itu adalah karena Jepang termasuk pembeli karet terbesar dunia.

“Harga karet hingga akhir tahun diprediksi tidak mengalami kenaikan signifikan dari yang seharusnya terjadi. Karena melihat masih terus berfluktuasinya harga karet serta melemahnya kembali Yen atas dolar AS dan harga minyak mentah yang juga turun,” tambahnya.

Namun harga karet masih melemah atau rata-rata US$ 1,63 per kg di tahun 2016. Tetapi, harga komoditas itu jauh lebih tinggi dari harga rata-rata sepanjang tahun 2015 yang masih US$ 1,47 per kg, pungkas Edy.

Waspada Online, 28/11/2016

--------------------------------------

Lonjakan Harga Karet Diprediksi hanya Sementara

Dalam sebulan terakhir, harga karet mencatat kenaikan fantastis hingga 30%. Saat ini, harga karet di pasar global telah melampaui US$ 2 per kg, di atas harga karet sebelumnya sekitar US$ 1,3 per kg.

Kenaikan harga karet global diikuti peningkatan harga di tingkat petani yang mencapai Rp 8.000-Rp 10.000 per kg. Namun, kenaikan harga karet ini diprediksi tidak berlangsung lama, karena situasi perekonomian global mengalami ketidakpastian setelah Donal Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

Trump dalam kampanye pemilihan presiden AS sebelumnya mengancam akan melakukan proteksi terhadap pasar AS dan akan menyetop impor dari China. Padahal, China merupakan salah satu negara yang menyerap karet dalam volume besar. Jika itu terjadi, maka otomatis negara Tirai Bambu tersebut akan mengurangi produksi dan penyerapan karet di pasar global.

"Jadi kenaikan ini paling banter bertahan sampai kuartal pertama tahun depan," ujar Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Aziz Pane, Kamis (24/11).

Aziz mengatakan, kenaikan harga karet saat ini tidak didasarkan pada fundamental karet yang menguat, tapi lebih banyak karena spekulasi pasar. Kendati begitu pembatasan ekspor karet yang dilakukan tiga negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) yakni Thailand, Indonesia, Malaysia dan plus Vietnam turut mendorong peningkatan harga karet.

Apalagi pembatasan ekspor karet itu terjadi di tengah menipisnya stok karet di China. Sehingga Tiongkok meningkatkan penyerapan karet.

Selain karena ancaman ketidakpastian kebijakan ekonomi AS, Azis bilang, ketidakpastian ekonomi Uni Eropa juga berpotensi membuat harga karet akan anjlok lagi. Sebab saat ini Uni Eropa tengah direcoki proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan pemilihan Kanselir Jerman yang menimbulkan ketidakpastian baru.

Belum lagi AS berencana menaikkan suku bunga pada bulan Desember yang berpotensi memicu nilai tukar rupiah loyo.

Kontan, 25/11/2016

----------------------------------------

Gubernur: Luas Lahan Karet Jambi Tidak Diperluas

Gubernur Jambi Zumi Zola mengatakan, luas tanaman karet di wilayahnya tidak akan diperluas namun fokus pada produktivitas dan kualitas untuk meningkatkan harga karet yang tengah anjlok.

"Pada 2017 nanti kita sepakat tidak lagi memperluas lahan perkebunan karet, tapi lebih fokus pada produktivitas dan kualitas serta juga pengolahan karet itu sendiri," katanya di Jambi, Kamis.

Zola mengatakan dirinya sudah menggelar rapat dengan Asosisasi Petani Karet Indonesia (Aspekindo) Jambi bersama seluruh bupati di Jambi. Saat itu diputuskan tidak ada program penambahan luas lahan karet di Jambi.

"Pemerintah saat ini terus berupaya mencari solusi atas keluhan yang dirasakan para petani karet di Jambi terutama harga. Salah satunya meminta pendapatan para pakar dan para petani karet untuk mencari solusi yang terbaik," katanya.

Pemprov Jambi kata Zola juga menawarkan beberapa program seperti yang telah diterapkan para petani karet di Desa Muhajirin, Kabupaten Muarojambi. Dimana petani setempat mengolah karet dengan mesin "sit angin".

"Saat ini sebetulnya karet petani ini sudah bisa diolah menjadi gelang, tangan karet dan juga bentuk-bentuk lainnya yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi. Solusinya kita akan bantu dengan alat produksi karet yakni "sit angin", katanya.

Permintaan pengelohan karet dengan "sit angin" menurutnya sangat banyak, namun produksinya belum mampu dipenuhi pasar Jambi, karena petani yang memiliki mesin "sit angin" masih terbatas.

"Desa Muhajirin ini lah yang akan menjadi percontohan untuk dapat diterapkan di kabupaten lainnya. Sebab itu Pemkab juga diminta ikut andil dalam meningkatkan harga karet ini, salah satunya dengan menghidupkan kembali Koperasi Unit Desa (KUD)," katanya.

Antara, 04/11/2016

-----------------------------------------------

Nasib AETS Ditentukan Bulan Desember

Kelanjutan pembatasan volume ekspor karet global baru akan ditentukan bulan depan (Desember) di tengah positifnya pergerakan harga komoditas perkebunan itu.

Strategi Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) yang diberlakukan sejak Maret 2016 diklaim mampu menahan harga karet di level positif setelah sempat jatuh pada tahun lalu. Skema tersebut awalnya hanya akan berlangsung hingga Agustus 2016, tapi kemudian diperpanjang sampai Desember 2016.

International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang mencakup Indonesia, Malaysia, dan Thailand, sepakat untuk mengurangi volume ekspor sebanyak 700.000 metrik ton lewat skema tersebut. Negara-negara ITRC plus Vietnam merupakan eksportir karet terbesar dunia.

Dengan AETS, volume ekspor karet Indonesia tahun ini diperkirakan berkisar 2,45 juta-2,5 juta metrik ton. Jumlah itu lebih rendah dari realisasi 2015 yang sebesar 2,63 juta metrik ton.

Vietnam, negara yang menjadi partner strategis ITRC, juga mendapat alokasi pengurangan ekspor sebesar 85.000 metrik ton. Namun, alokasi pemangkasan tersebut tidak terealisasi dan akhirnya kuota itu diambil alih oleh ketiga anggota ITRC.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Dody Edward mengungkapkan belum ada pembahasan mengenai kelanjutan skema itu. Menurut dia, pembicaraan tentang AETS baru akan digelar bulan depan.

“Desember baru akan duduk bersama lagi, tapi tanggal pastinya belum ditentukan. Untuk status Vietnam juga masih belum ada perkembangan,” ungkap Dody kepada Bisnis.

Pada Agustus 2016, pemerintah menyampaikan perlunya kerja sama yang lebih luas untuk menjaga kualitas dan harga karet dunia. Salah satu caranya yaitu dengan mengajak negara-negara produsen lainnya, termasuk Vietnam dan Kamboja, untuk menjalin kerja sama lebih dalam.

Bisnis.com, 09/11/2016

-----------------------------------------------------------------------

Anggota ITRC Berupaya Dongkrak Harga Karet

Negara-negara produsen karet terbesar di dunia yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) akan melakukan pertemuan membahas penurunan harga karet di Kementerian Perdagangan, Senin (7/11). Anggota ITRC tersebut yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia plus Vietnam. Mereka membahas mengenai ketidakstabilan harga karet dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam sepekan terakhir, harga karet anjlok sekitar 3,10% menjadi US$ 177,80 per kg pada 4 November 2016 dari dari sebelumnya US$ 183,50 per kg pada 31 Oktober. Ketua Dewan Karet Indonesia, Azis Pane mengatakan, salah satu poin yang akan dibahas dalam pertemuan ini adalah tentang kebijakan kembali membatasi ekspor karet.

"Pengembangan hilirisasi dalam negeri masing-masing juga menjadi salah satu poin penting yang dibahas," ujar Azis kepada KONTAN, Minggu (6/11).

Ia menjelaskan sejauh ini harga karet sudah lebih baik bila dibandingkan awal tahun 2016 lalu. Untuk itu, ke depan bila ekspor karet dibatasi dan industri karet dalam negeri sudah berkembang, maka harga karet akan dapat meningkat lagi sehingga petani karet kembali menyadap karet.

Kontan,co,id, 06/11/2016

-------------------------------------------------------------------------------------------

Lebak Punya 34 Ribu Hektare Lahan Karet Rakyat

Potensi komoditas karet di Lebak, Banten, cukup besar dengan luas lahan mencapai 34 ribu Hektare. Namun warga di Lebak tak menikmati hasil penjualan karet.

Kabupaten Lebak terdiri dari 28 kecamatan. Hampir seluruh kecamatan memiliki kebun karet yang dikelola masyarakat setempat.

Komoditas karet rakyat di Lebak mengalami kejayaan berpuluh-puluh tahun lalu. Pada 2012, harga karet rakyat dibanderol Rp15 ribu per kg.

"Dulu, harga ekonominya tinggi. Banyak warga menjadi pemilik atau pekerja di kebun karet. Bahkan penyadapan getah karet dilakukan setiap hari," ungkap Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Kosim Ansori, di ruang kerjanya, Rabu (16/11/2016).

Namun belakangan, pesanan dari pengusaha tak sebanyak tahun-tahun lalu. Pengusaha lebih memilih menggunakan karet sintetis.

Harga karet rakyat anjlok hingga Rp4.000 per kg. Banyak petani yang tak lagi menggarap lahan karetnya.

Lantaran itu, kata Kosim, Pemkab berupaya mengembalikan kejayaan karet rakyat di Lebak. Pemerintah mendatangi petani agar tetap menggarap lahan karet.

"Kami meminta petani tak menebang pohon karet di lahan masing-masing. Sebab Pemkab tengah mengupayakan menjadikan Lebak sebagai lumbung terbesar penghasil karet," ujar Kosim.

Metrotvnews.com, 16/11/2016

--------------------------------------------

Harga Karet Bullish

Harga karet diprediksi mengalami tren positif seiring dengan bertumbuhnya permintaan China. Sampai akhir 2016, harga diprediksi stabil di atas 200 yen per kg.

Pada penutupan perdagangan Rabu (30/11), harga karet untuk kontrak Mei 2017 di Tokyo Commodity Exchange anjlok 4,92% atau 11,80 poin ke level 228,10 yen per kg.

Sebelumnya pada Senin (28/11), harga karet mencapai 243,3 yen per kg, atau naik sebesar 33% sepanjang November 2016. Ini menjadi peningkatan bulanan terbesar sejak Mei 1988.

Sementara itu, di bursa Shanghai harga karet sudah meningkat hampir dua kali lipat sepanjang 2016. Adapun di bursa Thailand sebagai produsen terbesar di dunia, harga karet melonjak 70% sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data Bloomberg Commodity Index, harga karet telah melampaui seluruh komoditas pertanian setelah mengalami koreksi dalam tiga tahun ke belakang. Naiknya konsumsi China menjadi faktor pendorong utama.

PENJUALAN TRUK

Ma Xuezhe, analis Brilliant Futures Co. Ltd., mengatakan pemerintah China menerapkan kebijakan untuk mengurangi penggunaan truk tua guna penjagaan lingkungan dan menindak muatan barang yang berlebih bagi truk besar. Hal ini menyebabkan lonjakan permintaan ban yang tak terduga.

"Permintaan ini mendorong harga karet. Penjualan dan produksi truk-truk besar telah meningkat lebih dari 20% selama tahun ini, dan ada pertumbuhan 50% pada November," tuturnya, Selasa (29/11).

Menurut data China Association of Automobile Manufacturers, penjualan truk berat (heavy trucks) meningkat 54% sepanjang tahun berjalan pada Oktober 2016.

Sementara itu, China Passenger Car Association menyebutkan penjualan mobil pada Oktober naik 20% menjadi 2,22 juta unit, sekaligus mencatatkan pertumbuhan dalam delapan bulan berturut-turut.

Xuezhe menyampaikan, penguatan harga karet juga didorong oleh turunnya persediaan di Negeri Panda. Berdasarkan data Shanghai Future Exchange, stok berkurang 35% menjadi 237.602 ton pada pekan lalu.

Sementara itu, menurut perhitungan Bloomberg, persediaan di Qingdao anjlok 69% dalam delapan bulan sampai Oktober 2016 menjadi 83.200 ton.

Deddy Yusuf Siregar, analis Asia Tradepoint Futures, menuturkan dalam waktu dekat harga karet terdorong sentimen positif karena minimnya stok karet di China dan tumbuhnya permintaan dari negara tersebut. Di bursa Shanghai, cadangan karet merosot 35% menjadi 237.602 ton, yang menunjukkan penurunan terbesar sejak 2004.

Dari Tanah Air, banyak pengusaha karet di tingkat eksportir yang menahan stok agar harga di tingkat petani ikut meningkat. Penimbunan persediaan oleh tangan pertama juga membuat kebutuhan karet untuk industri mengalami kenaikan karena menipisnya pasokan.

Komoditas untuk bahan baku ban ini juga terdorong penguatan harga minyak karena menyebabkan biaya pembuatan karet sintetis terkerek. Deddy pun berpendapat hingga akhir tahun harga cenderung menguat karena perbaikan fundamental.

"Melihat kondisi sekarang, harga karet di bursa Tokyo sampai akhir tahun berpeluang bergerak dalam rentang 200 yen-248 yen per kg," tuturnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (30/11).

Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, mengatakan ada sejumlah faktor yang menguatkan harga karet. Dari sisi fundamental, produksi sedang mengalami hambatan akibat jumlah curah hujan yang tinggi di wilayah Asia Tenggara. Puncak musim hujan diperkirakan bakal terjadi pada Desember 2016-Januari 2017.

Rubber Authority of Thailand menyatakan hujan yang membasahi sekitar 60% wilayah selatan telah menghambat produksi karet. Sentimen ini mendukung harga untuk naik.

Dari sisi permintaan, perekonomian China, India, AS, dan negara-negara Eropa menunjukkan perbaikan yang mengindikasikan tumbuhnya konsumsi. Bahan baku karet terutama digunakan dalam industri otomotif untuk ban.

Adanya kesepakatan antara International Tripartite Rubber Council (ITRC), yakni kelompok negara penghasil karet yang terdiri dari pemerintah Thailand, Malaysia, dan Indonesia untuk memangkas kapasitas ekspor atau Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) mulai Maret-Desember 2016 juga memberikan dampak positif terhadap harga.

Di bawah perjanjian AETS, tiga negara yang memasok 60% kebutuhan karet global akan memotong total ekspornya sebanyak 615.000 ton.

Rincian adalah Thailand sekitar 324.005 ton, Indonesia sebesar 238.736 ton, dan Malaysia sejumlah 52.259 ton. Dengan langkah tersebut, ITRC berharap harga komoditas karet menuju normal, sekitar US$2-US$3 per kg.

Berdasarkan data Bank Dunia, lima peringkat teratas produsen karet terbesar pada tahun lalu adalah Thailand sebanyak 4,47 juta ton, Indonesia 3,17 juta ton, Vietnam 1,02 juta ton, China 794.000 ton, dan Malaysia 722.000 ton.

Bisnis Indonesia, 01/12/2016

--------------------------------------------------

Gapkindo Tanggapi Surat Pelindo II Cabang Palembang

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memberikan tanggapan sehubungan dengan surat Pelindo II Cabang Palembang No. UC.034/30/II/I/C.PLG016. Ada tiga poin yang dilontarkan Gapkindo dalam tanggapannya itu.

Pertama, Gapkindo sangat mendukung ketentuan SOLAS (Safety of Life at Sea) 1972 Bab IV Pasal 2 tentang keselamatan kapal dan berat kotor peti kemas dari IMO (International Maritime Organization); yang berlaku sejak 1 Juli 2016 dimana kontainer ekspor sebelum dinaikan ke atas kapal wajib dilakukan penimbangan berat kotor (VGM, Verified Gross Mass) peti kemas.

Kedua, dalam diberlakukannya VGM, anggota Gapkindo adalah eksportir karet selaku shipper yang harus memberikan deklarasi atau sertifikat VGM kepada shipping line untuk setiap partai ekspor. Dalam hal ini kewajiban Anggota Gapkindo adalah menyampaikan deklarasi VGM yang harus diverfikasi oleh Operator Terminal Peti Kemas. Gapkindo protes keras apabila untuk melakukan verifikasi ini Anggota Gapkindo dikenakan biaya. Menurut hemat Gapkindo, jembatan timbang pada pintu masuk Terminal Peti Kemas adalah bagian dari infrastruktur yang harus dimiliki oleh Terminal Peti Kemas.

Ketiga, Gapkindo juga menilai belum ada dasar hukum pengenaan biaya verifikasi VGM karena tidak ada nomenklaturnya dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 15 Tahun 2014 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 6 Tahun 2013 Tentang Jenis, Struktur, dan Golongan Tarif Jasa Kepelabuhanan.

Tim Buletin

--------------------------------------------------------------

Guangken Rubber Segera Catatkan Saham Pabrik Karetnya di Thailand di Bursa LN

Dua tahun setelah Guangdong Guangken Rubber Group Co. mengakuisisi Thai Hua Rubber Public Co. yang merupakan pabrik karet alam terbesar ketiga di dunia, perusahaan kini berencana untuk mencatatkan saham pabriknya di Thailand itu di bursa saham Thailand dan Hong Kong.

Guangken yang merupakan salah satu perusahaan karet alam terbesar di China dengan rantai bisnis yang lengkap termasuk pembibitan, perkebunan, pemrosesan dan penjualan, menyelesaikan proses akuisisinya atas 60% saham Thai Hua pada harga 1,2 miliar yuan (US$174 juta) pada bulan Agustus. Perusahaan selanjutnya berencana untuk melakukan tambahan investasi sebesar 600 juta yuan.

Thai Hua memiliki kapasitas pemrosesan sekitar 1 juta ton per tahun dimana Thailand menguasai sekitar 40% dari produksi dunia. Sementara itu kapasitas produksi Guangken yang berbasis di China sebesar 200.000 ton per tahun. Kini, setelah akuisisi, Guangken memiliki kapasitas pemorsesan karet alam sebesar 1,5 juta ton per tahun dan perkebunan karet seluas 133.330 ha.

Sebelum akuisisi, Guangken sudah mengoperasikan pabrik karet di Thailand dan Indonesia, dan mengelola perkebunan karet di Malaysia dan Kamboja. Perusahaan juga mengoperasikan sebuah perusahaan trading di Singapura, kata Xiong Yinzhong, salah satu anggota dewan direksi dari kelompok usaha tersebut.

China merupakan negara konsumen karet alam terbesar di dunia dengan produksi tahunan 800.000 ton sedangkan permintaannya 4,8 juta ton per tahun.

Akuisisi Thai Hua sejalan dengan kebijakan industri pemerintah China di bawah apa yang dinamakan ‘Inisiatif Sabuk dan Jalan’ dan memberi Guangken sebuah keunggulan komparatif mengingat kawasan Asia Tenggara merupakan lokasi yang baik untuk perkebunan karet, kata Xiong.

Keunggulan modal dan management Guangken akan dikombinasikan dengan kekuatan Thai Hua sebagai merek internasional dalam kerjasama dengan perusahaan-perusahaan ban China, kata dia.

“Dalam banyak sekor bisnis, termasuk sektor sumberdaya alam, trennya sekarang adalah sentralisasi,” tutur Xiong.

Selain mengincar pencatatan saham di bursa luar negeri, Guangken kini juga mengincar pencatatan saham di bursa dalam negeri untuk seluruh group dalam kurun waktu tiga tahun, kata Xiong.

Guangken diperkirakan akan mendapatkan keuntungan berupa penghematan biaya yang signifikan berkat rendahnya biaya lahan dan buruh di Thailand yang difasilitasi oleh kawasan perdagangan bebas ASEAN-China, tutur Cao Xiaping, associate professor dan direktur program doktoral di departemen keuangan, Lingnan College, Sun Yatsen University di Guangzhou.

Situasi politik yang stabil di negara-negara anggota ASEAN menjadikan kawasan tersebut pilihan terbaik bagi perusahaan-perusahaan China dalam mengejar target go internasionalnya, kata dia seraya menambahkan perusahaan seperti Guangken dapat mengumpulkan dana dari pasar lokal di ASEAN sejalan dengan tingginya keberterimaan Renmimbi di wilayah tersebut.

Akuisisi Thai Hua dilakukan pada waktu yang tepat di tengah rendahnya harga karet alam dunia, tutur Xu Wenying, sekretaris jenderal China Rubber Industry Association.

Guangken merupakan perusahaan karet China pertama yang terlibat dalam bisnis perkebunan karet di luar negeri dan akuisisi terakhir ini akan membantu perusahaan dalam alokasi dan penentuan harga sumberdaya di pasar internasional, tutur Xu seraya menambahkan bahwa Guangken memiliki kesempatan untuk memasok karet ke empat pabrik ban milik perusahaan China di Thailand.

Guangken yang merupakan anak perusahaan dari Guangdong Agribusiness Group, menerima suntikan modal 500 juta yuan dari China Agricultural Industry Development Fund dan hina Cinda Asset Management Co. ***

Rubberjournalasia.com, 28/11/2016

-----------------------------------------------

Dewan Karet India Terapkan Sistem Penyadapan Baru

Dewan Karet India telah berhasil mengembangkan sistem penyadapan baru dimana penyadapan dapat dilakukan hanya terhadap seperempat dari permukaan batang pohon karet, lebih rendah dari bidang sadap yang selama ini dilakukan, ayitu setengah dari permukaan batang pohon karet.

Dengan mengadopsi sistem baru itu, seorang penyadap dapat menyadap lebih banyak pohon karet karena panjang bidang sadap dikurangi setengah dari bidang sadap normal.

Rekomendasi umum dari Dewan Karet yang selama ini berlaku adalah menyadap setengah dari permukaan batang karet setelah batang pohon mencapai keliling 50 cm. Pohon karet akan mencapai diamter batang tersebut setelah berumur tujuh tahun.

Setelah dimulainya masa penyadapan, tingkat pertumbuhan akan berkurang menjadi 2 cm per tahun, bahkan di perkebunan-perkebunan besar dimana sistem penyadapannya sudah baik.

Namun demikian, dalam sistem penyadapan baru tersebut dimana hanya seperempat permukaan batang pohon karet disadap dan penyadapan dilakukan sekali dalam tiga hari, pertumbuhan pohon tidak akan terpengaruh.

Stimulan produksi harus diaplikasikan dengan konsentrasi 2,5% sebanyak enam kali dalam setahun, sehingga tidak terjadi penurunan hasil produksi, katanya.

KU Thomas, direktur Rubber Research Institute of India, mengatakan penyadapan karet di India dilakukan pada setengah luas lingkar batang pohon karet sekali dalam setiap tiga hari. Untuk memulai penyadapan, pohon harus memiliki lingkar batang paling tidak 50 cm. Namun demikian petani umumnya memulai penyadapan lebih awal ketika lingkar batang mencapai 44-45 cm. Mereka menyadap batang pohon karet setengah spiral yang mengakibatkan pertumbuhan pohon terhambat.

Dengan praktek penyadapan seperempat spiral batang pohon karet yang baru direkomendasikan, kata Thomas, pohon karet dapat mulai disadap ketika lingkar batangnya mencapai 45 cm. Pada tahun-tahun awal, penyadapan yang dilakukan dengan sistem ini tidak akan mempengaruhi pola pertumbuhan pohon selama fase pra-matang. Keunggulan lainnya dari sistem baru tersebut adalah bahwa seluruh permukaan batang pohon dibagi ke dalam empat kuartal dan rekomendasinya adalah untuk menyadap sekali dalam tiap tiga hari. Dengan frekuensi sadap sekali dalam tiga hari itu maka setiap bidang sadap batang pohon karet dapat disadap selama tujuh tahun. Hal ini berarti bahwa setiap batang pohon karet perawan akan dapat disadap selama 28 tahun.

Dengan sistem penyadapan yang lama yaitu setengah spiral dengan frekuensi satu kali sadap untuk setiap tiga hari, bidang sadap yang masih perawan hanya dapat disadap selama 14 tahun. Oleh karena itu, sistem penyadapan baru itu akan mengakibatkan loncatan kuantum dari kehidupan ekonomi dari pohon tersebut, tuturnya. ***

Global Rubber Markets, 23/11/2016

--------------------------------------------------------

Kenaikan Produksi Karet Menekan Laju Kenaikan Harga, Karet India Kini Lebih Murah

Impor karet India akan segera memasuki babak baru. Faktanya sekarang adalah harga karet di pasar domestik lebih tinggi dari harga di pasar global yang mendorong industri pengguna karet untuk mengimpor lateks dalam jumlah besar. Namun kini tren yang berlawan sedang berlangsung. Harga karet di pasar luar negeri saat ini 10 rupee per kg lebih mahal dari harga di India dalam sepekan terakhir. Dengan pengenaan bea masuk maka harga karet impor akan mencapai 170 rupee per kg sedangkan harga karet India hanya 130 rupee per kg.

Namun, kekhawatiran penurunan produksi di wilayah timur laut India akibat musim hujan masih menghantui industri karet. Menurut para pelaku industri karet, musim hujan akan menurunkan produksi yang akan tampak terlihat mulai Januari tahun depan.

“Akibat demonetisasi akan terjadi penurunan penjualan ban di pasar domestik sebesar 30-40%. Hal ini mungkin akan memperlambat pertumbuhan sektor industri ini. Namun harga karet India kini lebih murah dan karena itu hal ini akan sangat baik bagi para petani. Kisah panjang karet segera dimulai,” kata Tomy Abraham, presiden Indian Rubber Dealers Federation.

Data yang dikeluarkan Dewan Karet India menyebutkan produksi karet alam India meningkat 15% menjadi 60.000 ton pada bulan Oktober dan konsumsi tumbuh 4% menjadi 86.000 ton.

“Produksi dan konsumsi karet berturut-turut mencapai 52,000 ton dan 82.650 ton pada bulan Oktober tahun lalu. Sementara itu, impor karet meningkat 3% menjadi 44.520 ton pada bulan Oktober tahun ini. Selama periode April-Oktober 2016/2017, produksi meningkat hampir 11% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” demikian laporan Dewan Karet India.

“Dampak dari kondisi tersebut akan segera terasa dan peningkatan produksi masih belum terasa. Terlebih lagi terjadi gangguan kedatangan stok baru akibat demonetisasi. Akibatnya, ketersediaan karet alam akan tetap menjadi perhatian walaupun produksi telah meningkat,” kata Rajiv Budhraja, direktur genderal Automotive Tyre Manufacturers’ Association (ATMA), seraya menambahkan bahwa peningkatan import karet alam selama periode April-Oktober akan berdampak kepada petani. ***

Global Rubber Markets, 29/11/2016

---------------------------------------------

Dukung Petani Karet, Kementerian PUPR Gunakan Aspal Karet Alam

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) menerapkan penggunaan pelapisan ulang perkerasan jalan dengan aspal karet alam. Kementerian PUPR bahkan melakukan uji coba jalan dengan teknologi karet alam di jalan Lido Sukabumi, Kamis (1/12).

Ujicoba dilakukan pada jalan sepanjang 4,2 kilometer (km) dan lebar 10,5 meter dengan pengerjaan 60 hari kerja. Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto berkomitmen untuk menerapkan teknologi karet alam tersebut dalam proyeknya.

“Semoga dengan dihadirkannya teknologi aspal karet alam oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan, Badan Litbang, Kementerian PUPR ini kesejahteraan petani karet dapat meningkat kembali,” katanya kepada Republika melalui siaran pers, Jumat (2/12).

Sementara itu Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang Kementerian PUPR Herry Vaza mengatakan, penelitian dan pengembangan karet alam di bidang jalan tersebut dilakukan oleh Pusjatan Balitbang Kementerian PUPR bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian dan Pusat Penelitian (Puslit) Karet Bogor. Dari hasil pengembangan sementara ini, kata dia, pihaknya sudah dapat memanfaatkan aspal dengan kandungan karet alam sebesar 7%.

Menurutnya, aspal karet alam dapat meningkatkan kualitas perkerasan aspal dalam hal usia layanan dan ketahanan terjadap alur. Peneliti Puslitbang Jalan dan Jembatan Anwar Yamin menjelaskan, dengan teknologi tersebut dalam setiap ton campuran beraspal panas dapat dimanfaatkan kurang lebih 4,2 kilogram karet alam.

Untuk mendukung upaya tersebut, diperlukan peran Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan untuk memastikan suplai aspal karet alam yang berkualitas. Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia.

Setiap tahun produksi karet alam Indonesia mencapai 3,2 juta ton dan 0,6 juta ton yang dimanfaatkan industri dalam negeri, sementara 2,4 juta ton lainnya di ekspor ke mancanegara. Akibat menurunnya kondisi ekonomi dunia, permintaan ekspor karet alam dalam negeri menurun cukup signifikan sehingga harga karet alam jatuh dan merugikan para petani.

Untuk menghadapi permasalahan tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan nasional pemanfaatan karet alam oleh berbagai sektor. Termasuk salah satunya pemanfaatan karet alam dalam pembangunan infrastruktur PUPR agar harga karet kembali membaik.

Republika.co.id, 03/12/2016

---------------------------------------------------------

AETS Diharapkan Berlanjut

Pemerintah diminta melanjutkan kebijakan pengurangan volume ekspor karet melalui mekanisme Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) mengingat jangka waktu kesepakatan yang dijalankan oleh tiga negara produsen karet besar di dunia itu bakal habis pertengahan bulan ini.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane mengatakan skema tersebut sangat efektif dalam menge rek harga komoditas tersebut secara global. “Kami sedang upayakan supaya diperpan jang,” ujar dia kepada Bisnis, Jumat (2/12).

Sejak AETS diberlakukan pada Maret 2016, harga karet dunia bergerak naik dari di bawah US$1 per kilogram dan sempat menembus US$2 per kilogram. Harga yang berada di level tinggi saat ini antara lain disebabkan mulai menipisnya stok di China dan permintaan yang cukup besar dari Amerika Serikat (AS) pascaterpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS yang baru.

Banyaknya permintaan tersebut disinya lir merupakan antisipasi jika Negeri Paman Sam itu benar-benar mereali sasikan kebijakan proteksionisme. Seperti diketahui, International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang mencakup Indonesia, Malaysia, dan Thailand, sepakat mengurangi volume ekspor sebanyak 700.000 metrik ton lewat skema ini.

Dengan AETS, volume ekspor karet Tanah Air pada 2016 diperkirakan berkisar 2,45 juta-2,5 juta metrik ton atau lebih rendah dari realisasi tahun lalu yang sebesar 2,63 juta metrik ton. Vietnam, negara yang menjadi mitra strategis ITRC, juga mendapat alokasi pe ngu rangan ekspor sebanyak 85.000 metrik ton.

Namun, alokasi pemangkasan tersebut tidak terealisasi dan akhirnya kuota itu diambil alih oleh ketiga anggota ITRC. Menurut Dekarindo, produksi karet nasional saat ini hanya sekitar 3,1 juta ton karena faktor cuaca dan petani tidak melakukan penyadapan. Tahun lalu, angkanya mencapai 3,28 juta ton.

Di sisi lahan, Indonesia hanya memiliki 3,28 juta hektare lahan karet. Luasan tersebut masih di bawah Thailand yang sudah sekitar 4,15 juta hektare. Oleh karena itu, penting melakukan replanting karena banyak pohon karet yang tidak produktif. Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo menyerahkan keputusan terkait dengan AETS kepada pemerintah.

Akan tetapi, secara funda mental dia mengakui harga sudah lebih baik. “Boleh dikatakan ini hasil yang cukup menggembirakan atas kesepakatan bersama beberapa bulan lalu.”

Harga sudah terantarkan ke kondisi fundamental,” tutur Moenardji. Pasokan yang ada disebut tidak terlalu berlimpah lagi, lebih sesuai dengan level kebutuhan global. Gapkindo meminta pemerintah tidak hanya fokus pada perdagangan luar negeri tetapi juga memperhatikan tingkat permintaan domestik.

Di luar penyerapan dari industri ban nasional, penting untuk menciptakan kebutuhan baru. “Misalnya infrastruktur. Thailand sudah lebih dulu menggunakan campuran karet di aspal. Demand creation lebih indah dibandingkan dengan kebijakan sementara,” terang dia.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengakui Indonesia terlambat mela kukan replanting karet. Padahal, ada peta ni yang memilih menebang pohon ketika harga tertekan. “Akan tetapi, kalau dia replanting, dia bilang jaminan saya apa? Nah, sekarang kami hentikan industri. Kita tidak impor ban kecuali ban yang tidak bisa diproduksi. Kenapa? Kita harus dorong industri dalam negeri,” papar dia.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan penyerapan karet alam na sio nal dan berdampak terhadap naiknya harga. Terkait dengan habisnya jangka waktu AETS, Enggar mengungkapkan ITRC bakal melakukan pertemuan pada 15-16 Desember 2016 untuk membahas hal ini. Dia enggan mengungkapkan apakah Indonesia bakal meminta perpanjangan AETS atau tidak.

SERAPAN DOMESTIK

Di sisi lain, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PERA) melakukan uji coba pemanfaatan karet alam untuk campuran aspal. Uji coba tersebut dilakukan di Jl. Raya Sukabumi, Bogor, Jawa Barat pada 1 Desember 2016.

Dalam pernyataan resmi yang diterima Bisnis, Minggu (4/12), Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Nurlaila Nur Muhammad mengatakan uji coba itu adalah implementasi komitmen pemerintah memanfaatkan karet alam secara masif lewat domestic demand creation, khususnya dalam pembangunan infrastruktur do - mes tik yang dibiayai APBN.

Pencampuran ini diklaim membuat jalan lebih tahan cuaca dan beban. Pemerintah menargetkan campuran karet alam dalam aspal karet mencapai 15% dari total produksi aspal,

Bisnis Indonesia,05/12/2016

----------------------------------------

 

email Cetak PDF