toggle
plus minus gleich
English Indonesian

BERITA KARET NOVEMBER 2016

  1. Gapkindo Dorong Pembentukan Koperasi Petani Karet
  2. Harga Karet di Jambi Mulai Naik
  3. Kuartal Terakhir Harga Karet Diprediksi Meningkat
  4. Sistem Resi Gudang Tak Dimanfaatkan
  5. Jambi Modali BUMD Perkebunan Karet
  6. Orang Rimba Diberi Hak Kelola 114 Ha Kebun Karet
  7. Ekspor Malaysia Diluar Dugaan Meningkat 1,5% YoY di Agustus

 

------------------------------------------

Gapkindo Dorong Pembentukan Koperasi Petani Karet

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) mendorong pembentukan koperasi petani karet. Pasalnya koperasi ini bisa berdampak positif bagi petani karena mereka bisa bermitra dengan industri pengolahan karet di setiap daerah. Nah industri pengolahan karet ini selalu membeli karet dengan harga yang sesuai dengan fluktuasi harga internasional. Sehingga ketika harga naik, petani karet bisa seketika menikmatinya.

Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo mengatakan, sebenarnya setiap ada kenaikan harga, maka anggota Gapkindo selalu menyesuaikannya dengan harga pembelian di pabrik. Cuma, alur berniaga bahan baku karet dimana petani tidak langsung menjualnya ke pintu pabrik, maka petani tidak bisa menikmati kenaikan harga karet seketika.

Sebab selama ini petani menjual karet melalui beberapa rantai pedagang pengumpul, baru sampai ke pabrik. "Sehingga fluktuasi harga karet tidak langsung secara instan dirasakan oleh petani," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (18/10).

Namun bagi petani karet yang sudah membentuk kelompok tani, Moenardji mengklaim sudah merasakan kenaikan harga karet. Sebab mereka ini langsung bermitra dengan pabrik pengolahan karet anggota Gapkindo. Nah pembentukan kelompok tani ini perlu digencarkan agar petani bisa langsung bermitra dengan pabrik pengolahan karet di setiap daerah. Tentu saja ini bukan tugas Gapkindo sendiri tapi juga perlu peran pemerintah.

Saat ini harga karet di pasar internasinoal sudah mulai menggeliat di kisaran US$1,5 per kg hingga US$1,84 per kg. Harga ini tergolong naik bila dibandingkan dengan harga sebelumnya di kisaran US$1,3 per kg.

Dengan harga sekarang, maka seharusnya harga karet di tingkat petani sudah berada di kisaran Rp 7.000-Rp 8.000 per kg. Namun karena panjangnya rantai pasok maka petani belum menikmatiharga karet dan tetap sajaharga karet petani di kisaran Rp 5.000-Rp 6.000 per kg.

Kontan.co,id, 18/10/2016

----------------------------------

Harga Karet di Jambi Mulai Naik

Harga karet di Jambi, mulai naik. Tentunya hal ini membuat para petani tersenyum. Salah satunya petani karet di Kabupaten Bungo. Khususnya Kecamatan Tanah Sepenggal dan Tanah Sepenggal Lintas.

Sebelumnya, harga karet sempat berada di angka terendah Rp 6000 di sejumlah pasar lelang karet. Namun, kini pasar lelang karet terbesar di Bungo yang terletak di Simpang Lubuk Landai, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, harga karet tembus hingga Rp 10.200, dengan harga dasar Rp 15.300.

Kepada awak media, Almusafar salah satu petani karet mengatakan, kenaikan harga karet sudah menaruh harapan besar kepada para petani, ia berharap kenaikan terus merangkak dan ke depan tidak menurun lagi.

“Mudah-mudahan kenaikan harga karet ini bertahan, harap kita terus merangkak naik, kalaupun tidak, tetap bertahan, jangan turun lagi,” harapnya.

Begitu juga dengan Muhammad Yani, ia juga mengaku karet miliknya dibeli dengan harga Rp 9.750 per kg, ia mengaku hampir dua tahun berlalu, dan inilah harga tertinggi karet di Pasar Lelang Lubuk Landai.

“Kita berharap hargo terus naik bang, sudah sangat lamo petani mengalami kesusahan karna harga karet anjlok,” tutupnya.

buletinjambi.com, 18/10/2016

------------------------------------------------

Kuartal Terakhir Harga Karet Diprediksi Meningkat

Harga karet diprediksi mengalami tren positif seiring dengan berkurangnya pasokan di Cina. Pada kuartal terakhir, harga diperkirakan begerak di kisaran 183-188 yen per kilogram.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 11 Oktober 2016, harga karet RSS3 di Tokyo Commodity Exchange menurun 0,45% atau 0,8 poin menuju 176 yen (US$ 1,70) per kilogram. Sebelumnya, harga menguat ke level tertinggi sejak pertengahan Agustus di posisi 176,8 yen per kilogram.

Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar menuturkan dalam waktu dekat harga terdorong sentimen positif karena minimnya stok karet di Qingdao sebagai pusat komoditas China. Persediaan merosot 11% menuju 91 ribu ton pada 23 September 2016 yang merupakan level terendah sejak 2011.

Dari Tanah Air, banyak pengusaha karet di tingkat eksportir yang menahan stok agar harga di tingkat petani ikut meningkat. Penimbunan persediaan oleh tangan pertama juga membuat kebutuhan karet untuk industri mengalami kenaikan karena menipisnya pasokan.

Komoditas untuk bahan baku ban ini juga terdorong penguatan harga minyak karena menyebabkan biaya pembuatan karet sintetis terkerek sebagai alternatif bahan. Deddy pun berpendapat dalam jangka pendek hingga akhir tahun harga cenderung menguat karena perbaikan fundamental.

"Harga karet di bursa Tokyo pada kuartal keempat berkisar 183-188 yen per kilogram," tuturnya.

J.P. Morgan dalam publikasi risetnya memaparkan, harga karet cenderung menurun dan stagnan hingga semester II/2018. Alasannya, meski sisi suplai mulai stabil, segi permintaan mengalami pelemahan.

Harga karet sampai akhir 2016 diperkirakan senilai 145,3 yen per kilogram, turun 7,16% dari tahun sebelumnya sejumlah 155,7 per kilogram. Adapun harga pada 2017 dan 2018 stagnan di posisi 155 yen per kilogram.

Kebangkitan harga yen cenderung tertahan oleh penguatan mata uang yen. Morgan memprediksi mata uang Negeri Sakura senilai 118,5 yen per dolar AS pada 2016, serta 110 yen per dolar AS pada 2017 dan 2018.

Berdasarkan data Bank Dunia, lima peringkat teratas produsen karet terbesar pada tahun lalu ialah Thailand sebanyak 4,47 juta ton, Indonesia 3,17 juta ton, Vietnam 1,02 juta ton, China 794 ribu ton, dan Malaysia 722 ribu ton.

Harga karet RSS3 pada tahun ini diprediksi senilai US$ 1,5 per kilogram, turun tipis dari 2015 sebesar US$ 1,56 per kilogram. Meskipun demikian, tren harga diperkirakan meningkat hingga menuju US$ 1,81 per kilogram.

Tempo.co.id, 11/10/2016

------------------------------

Sistem Resi Gudang Tak Dimanfaatkan

Meski ekspor karet sedang dibatasi lewat skema Agreed Export Tonnage Scheme, tetapi sistem resi gudang komoditas tersebut belum dimanfaatkan oleh petani dan pelaku usaha, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Bachrul Chairi mengatakan hingga saat ini belum ada petani maupun pelaku usaha yang memanfaatkan sistem tersebut.

“Belum ada sama sekali,” ungkap dia kepada Bisnis, Kamis (6/10). Menurut Bachrul, ada dua faktor yang menjadi penyebab. Pertama, produksi karet petani langsung diserap oleh pengusaha. Kedua, sistem resi gudang mengenakan bunga yang sama dengan kredit komersial sehingga dinilai menambah beban bagi pengusaha.

Suku bunga kredit komersial di perbankan nasional saat ini masih berkisar double digit. Untuk mendapatkan resi gudang, pelaku usaha tidak harus menggunakan gudang milik pemerintah karena juga bisa memakai gudang swasta. Asalkan, gudang tersebut sudah memenuhi standar seperti tidak ada kebocoran dan memiliki pengamanan yang baik untuk komoditas tersebut.

Berdasarkan catatan Bisnis, pelaku usaha yang menggunakan resi gudang dikenakan bunga komersial dan akan mendapat pembiayaan sebesar 70% dari nilai barang yang disimpan. Sistem tersebut dapat digunakan jika pelaku usaha memerlukan tambahan dana untuk mempercepat arus kasnya.

Sementara, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dan petani akan memperoleh subsidi bunga 6% per tahun. Masuknya perusahaan pelat merah seperti PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) diyakini dapat meningkatkan minat petani maupun pelaku usaha untuk menggunakan sistem itu. “Jamkrindo kan membantu sistem resi gudang secara keseluruhan supaya bank lebih aman dalam memberikan pinjaman. Ke depannya diharapkan bisa mendorong pemanfaatannya,” papar dia.

Akhir bulan lalu, Jamkrindo merilis produk resi gudang yang terutama menyasar petani. Setiap hasil panen yang disimpan dalam gudang akan dijamin risiko kerugian atas kemungkinan terjadinya kegagalan pengelola gudang. Selain karet, komoditas yang dapat menggunakan resi gudang adalah gabah, beras, jagung, kopi, kakao, lada, rumput laut, rotan, dan garam.

Adapun pembatasan volume ekspor dengan skema Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) dilakukan sejak Maret 2016 oleh International Tripartite Rubber Council (ITRC). Negara-negara yang tergabung dalam ITRC adalah Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Langkah itu diambil demi menjaga pergerakan harga karet dunia setelah jatuh cukup dalam pada 2015 sampai awal tahun ini.

Skema tersebut awalnya dilaksanakan selama 6 bulan sehingga berakhir pada Agustus 2016. Tetapi, ITRC memutuskan memperpanjangnya sampai Desember tahun ini. Tidak tertutup kemungkinan bakal kembali diperpanjang jika masih dirasakan perlu.

SKEMA CMA

Secara terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo tidak membantah pemanfaatan sistem resi gudang yang disediakan pemerintah oleh pelaku usaha saat ini masih nihil. Namun, terang dia, eksportir menggunakan resi karet skema collateral management asset (CMA) yang sudah lama berjalan di perbankan.

“Memang mirip karena bisa sama-sama digunakan untuk penjaminan pembiayaan, tapi resi gudang CMA digunakan oleh eksportir sejak belasan tahun lalu. Resi gudang yang disosialisasikan oleh Bappebti umumnya di tingkat petani,” tutur Moenardji. Dia menyatakan dengan adanya penyesuaian volume ekspor, memang seharusnya resi gudang termasuk dengan skema CMA banyak dipakai oleh pengusaha.

Pasalnya, eksportir tetap menyerap karet dari petani karena pabrik tidak menghentikan operasi. Tetapi, Gapkindo mengaku tidak memiliki data tentang hal itu karena tidak ada kewajiban pelaporan. Ada beberapa kendala yang diperkirakan menghambat penerapan sistem ini, yaitu suku bunga yang tinggi sehingga membebani petani dan tidak semua karet dari petani dapat memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Sementara, sistem resi gudang memerlukan standar yang jelas agar nilai pembiayaan yang diberikan bisa dihitung dengan benar. Adapun CMA sudah memiliki standar internasional sehingga mudah dihitung.

Bisnis Indonesia,07/10/2016

---------------------------------------------------------

Jambi Modali BUMD Perkebunan Karet

Pemprov Jambi mematangkan skema pemberian modal kepada BUMD yang bergerak di bidang perkebunan karet untuk melakukan intervensi pasar terhadap harga karet di Jambi.

Gubernur Jambi Zumi Zola mengatakan saat ini Pemprov dan Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Jambi atau Gapkindo Jambi tengah mengidentifikasi penyebab jatuhnya harga karet di tingkat petani Jambi.

“Kita tengah mengkaji skema pemberian modal kepada BUMD untuk mengintervensi harga karet di Jambi. Intervensi pasar ini sepertinya logis untuk menaikkan harga karet masyarakat dari harga normal saat ini pada kisaran Rp 4.000 hingga Rp 5.500 per kilogram,” ujar Zola usai memimpin rapat dengan Gapkindo di Jambi (10/10/2016).

Menurut dia, hasil dari rapat dengan Gapkindo ini mengungkapkan fakta penyebab rendahnya harga karet masyarakat selama ini karena permainan tengkulak dan lemahnya modal petani untuk menimbun karet.

“Petani karet kita lebih cenderung menjual karet ke tengkulak dibanding sabar mengumpulkan karet untuk dijual langsung ke pabrik atau sentra KUD pengolah karet menjadi "sit angin" dengan alasan kebutuhan modal. Ke depan mata rantai tengkulak ini akan kita putus dengan menampung karet masyarakat itu melalui sentra-sentra KUD yang ada di desa. Ini yang akan kita siapkan dan tahun depan sudah mulai berjalan,” kata Zola.

Wakil Ketua Gapkindo Jambi Jon Kennedy mengakui sulit menaikkan harga karet di tengah kondisi pasar global yang belum stabil saat ini. Namun menurut dia, petani perlu metoda baru dengan system sit angin seperti yang diterapkan warga Desa Muhajjirin di Kabupaten Muaro Jambi.

Hasil karet latek yang diolah menjadi sit angin ini menurut dia diterima dengan baik oleh pasar dengan harga di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 25.000 per kilogramnya.

“Sistem ini baru diterapkan di 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Batanghari, Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Barat dengan melibatkan KUD. Dan sit angin ini sangat laku di pasaran dan sudah ada penampungnya di Medan dan Jawa Barat,” ujar dia.

Hanya saja saat ini kata Jon, ketersedian bahan baku ditengah petani tidak mencukupi. “Medan dan Jawa Barat ini kan penampung besar di atas 50 ton/bulan. Hanya petani kita di 3 kabupaten sentra karet yang telah menerapkan sit angin itu hanya mampu menampung di bawah 50 ton/bulan. Tadi bersama pak gubernur kita akan merumuskan, bagaimana sistem sit angin ini sudah ada di setiap kabupaten penghasil karet di Jambi,” kata dia.

Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi menyebutkan produksi olahan karet (crum rubber) di Provinsi Jambi mengalami kenaikan sebesar 41,22 juta kilogram/bulan di 2016 ini. Naik 18% dari proyeksi 2015 lalu sebesar 34,87 juta kilogram/bulan.

Bisnis Indonesia, 11/10/2016

----------------------------------------------------

Orang Rimba Diberi Hak Kelola 114 Ha Kebun Karet

Orang Rimba kini memiliki hak untuk mengelola tanaman karet seluas 114 hektar (ha) dalam konsesi perusahaan di daerah Terab, Kecamatan Bathin XXIV, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.

“Hak itu diperoleh setelah diadakannya dialog antara Orang Rimba dan PT Wana Perintis yang digelar pada Selasa (18/10) di Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Jambi yang difasilitasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” kata Direktur Bina Usaha Hutan Produksi Kementerian LHK, Gatot Soebiantoro, Kamis (20/10).

PT Wana Perintis merupakan pemegang usaha tanaman industri karet akhirnya memberikan lahan seluas 114 ha kepada orang rimba untuk mengelola perkebunan karet tersebut sebagai sumber pendapatan orang rimba, atau yang dikenal Suku Anak Dalam (SAD).

Dalam dialog yang dihadiri Kadis Kehutanan Provinsi Jambi Irmansyah, dan Ida Mangiri dari Kementerian Sosial, serta ikut hadir sejumlah Orang Rimba, termasuk empat unsur pimpinan di wilayah Terab, yakni Tumenggung Menyurau, Tumenggung Ngamal, Tumenggung Nyenong, dan Tumenggung Ngirang.

Semua pihak sepakat untuk memberikan lahan seluas ratusan hektar tersebut kepada orang rimba untuk mengelolanya.

“Atas kerelaan PT Wana Perintis menyerahkan hak kelola itu, pemerintah pun memberi kompensasi dengan menghapus, atau mereduksi nilai provisi sumber daya hutan (PSDH) dari investasi yang dikeluarkan perusahaan pada areal tanam itu,” jelas Gatot.

Setelah kalkulasi dibuat, akan dirembuk lagi mengenai persentase bagi hasil penjualan getah karet dalam skema kemitraan perusahaan dan Orang Rimba. Pada akhirnya, kedua pihak akan menyelesaikan finalisasi draf kesepahaman pada 24 Oktober nanti.

Terobosan baru dalam upaya penyelesaian konflik itu didukung semua pihak dan untuk saat ini perusahaan terbebani biaya investasi. Dari 6.900 hektar areal konsesi hutan tanaman industri (HTI), hanya 2.700 ha yang baru dapat ditanami.

Dari penanaman itu, perusahaan belum memperoleh untung. Sementara itu, areal yang dituntut untuk pengelolaan Orang Rimba masuk areal tanaman pokok, bukan areal konservasi maupun kehidupan.

Gatot mengatakan, sesuai aturan, memang tidak seluruh areal dapat dibuka menjadi HTI. Perusahaan wajib mengalokasikan arealnya untuk tanaman kehidupan, konservasi, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Mengenai lahan 114 ha yang terletak pada areal tanaman pokok, selanjutnya dapat dilakukan revisi rencana kerja usaha perusahaan, sehingga masuk areal tanaman kehidupan.

Orang Rimba merupakan komunitas adat yang turun-temurun menempati Bukit Duabelas. Ekosistem itu terdiri atas Taman Nasional Bukit Duabelas seluas 60.500 ha dan hutan penyangga sekelilingnya yang menghampar di empat kabupaten, yakni Batanghari, Sarolangun, Tebo, dan Merangin.

Beritasatu.com, 18/10/2016

-------------------------------------------------

Ekspor Malaysia Diluar Dugaan Meningkat 1,5% YoY di Agustus

Ekspor Malaysia di luar dugaan naik di bulan Agustus terdorong oleh meningkatnya pengapalan barang-barang manufaktur dan naiknya harga minyak kelapa sawit, ungkap data yang dikeluarkan pemerintah pada Jumat.

Nilai ekspor bulan Agustus naik 1,5% dibandingan bulan yang sama tahun sebelumnya, angka tersebut berbeda dengan hasil polling Reuters yang diperkirakan akan mengalami penurunan 1,6%.

Pada bulan Juli nilai ekspor Malaysia turun 5,3%, penurunan terbesar dalam kurun waktu 15 bulan.

Ekspor minyak kelapa sawit dan barang-barang manufaktur masing-masing naik 19.9% dan 1,5% yang mampu menutupi penurunan pengapalan gas alam cair, demikian data yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri.

Nilai impor Malaysia selama bulan Agustus juga mengalami kenaikan sebesar 4,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, namun masih mengalami penurunan sebesar 4,8% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pada bulan Agustus Malaysia menikmati surplus perdagangan sebesar 8,5 miliar ringgit (US$2,05 miliar), jauh lebih besar dibandingkan surplus perdagangan bulan sebelumnya yang mencapai 1,9 miliar ringgit.

Ekspor ke China turun 1,3% dibandingkan tahun sebelumnya karena turunnya ekspor logam, barang-barang manufaktur dan karet, sedangkan ekspor ke Uni Eropa tumbuh 0,5%.

Ekspor ke AS tumbuh 5,2% dibanding tahun sebelumnya, terdorong oleh tingginya permintaan produk-produk kelistrikan dan elektronik, khususnya peralatan photosensitive semi-conductor.

Reuters, 07/10/2016

------------------------------------------------------

email Cetak PDF