toggle
plus minus gleich
English Indonesian

BERITA KARET OKTOBER 2016

  1. Bursa Fisik Karet Dirilis Akhir September
  2. Pengusaha Karet Minta Cicilan PPh 25 Dikaji Ulang
  3. Peningkatan Penjualan Mobil Di China Topang Penguatan Harga Karet
  4. Menperin Tutup Investasi Baru di Industri Semen dan Karet Industri Bahan Dasar Karet Masih Sedikit di Indonesia
  5. Tidak Ada Pembatasan Ekspor Akan Pengaruhi Harga Kare
  6. Industri Plastik dan Karet Potensial Dikembangkan Karena Vital
  7. Sulawesi Tengah Lirik Usaha Perkebunan Karet untuk Dorong Ekonomi
  8. Konsumsi Karet Alam China Tahun 2015 4,68 Juta Ton, Import Meningkat 4,8%
  9. Petani Nikmati Harga Lebih Tinggi
  10. Pendampingan Mandek, Sebagian Besar UPPB Mati Suri

 

-----------------------------------

Bursa Fisik Karet Dirilis Akhir September

Merosotnya harga karet sebesar 81,13% dari US$5,3 per kilogram pada 2011 menjadi US$1 per kilogram, membuat otoritas bakal merilis bursa fisik komoditas tersebut pada akhir September sebagai acuan di kawasan regional.

Chief Excutive Officer Indonesia Commodity Derivatives Exchange (ICDX) Megain Widjaja mengatakan pihaknya akan merilis bursa komoditas karet bersama dengan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, pada 30 September 2016.

"Bulan ini tiga negara janjinya mau go live 30 september. Tapi kan enggak gampang karena kami ini harus mengkordinasi antara kepentingan Thailand, Malaysia, dan Indonesia," katanya di sela-sela Indonesia Tin Conference & Exhibition (ITCE) di Nusa Dua, Bali, Selasa (20/9/2016).

Dia menjelaskan, kesulitan berdirinya bursa fisik karet lantaran harus menyesuaikan dengan regulasi di tiga negara tersebut, sekaligus dengan pemangku kepentingan. Penyesuaian dinilai butuh proses yang tidak mudah.

Dia menargetkan, bursa fisik karet dapat beroperasi penuh pada akhir tahun ini. Pengoperasian secara penuh bursa karet itu direncanakan pada 26 Desember dengan target minimum 6 bulan.

Dia menyebut kesepakatan pembentukan bursa fisik karet dilakukan oleh tiga menteri dari negara-negara tersebut. Bursa karet yang akan menjadi rujukan harga regional itu diproyeksikan membuat kian stabil.

"Untuk menstabilkan harga karet bagaimana caranya membentuk sebuah standardisasi harga ASEAN. Jadi, posisi powernya lebih banyak," tuturnya.

Kepala Bappebti Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengatakan untuk lebih menstabilkan harga, tiga negara produsen utama karet seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia sudah membuat bursa karet regional Asia Tenggara. Keberadaan bursa diharapkan bisa membuat harga lebih stabil dan menahan pelemahan harga lebih lanjut ke depan.

Pengelola pasar fisik di bursa regional dari Indonesia akan diwakilkan oleh ICDX atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). Pasalnya, BKDI sudah mengikuti berbagai sidang International Tripartie Rubber Council (ITRC) terkait bursa karet regional kurang lebih sejak empat tahun silam.

Berdasarkan data Bank Dunia, lima peringkat teratas produsen karet terbesar pada tahun lalu ialah Thailand sebanyak 4,47 juta ton, Indonesia 3,17 juta ton, Vietnam 1,02 juta ton, China 794.000 ton, dan Malaysia 722.000 ton.

Harga karet RSS3 pada tahun ini diprediksi senilai US$1,5 per kilogram, turun tipis dari 2015 sebesar US$1,56 per kilogram. Meskipun demikian, tren harga diperkirakan meningkat hingga menuju US$1,81 per kilogram.

Bisnis Indonesia, 21/09/2016

----------------------------------------------

Pengusaha Karet Minta Cicilan PPh 25 Dikaji Ulang

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) meminta pemerintah mengevaluasi kembali sistem cicilan Pajak Penghasilan (PPh) 25. Sebenarnya, UU PPh tersebut relatif bagus, tetapi karena saat ini tengah terjadi kelesuan harga jual komoditas, kebijakan itu bisa mengancam kerugian pengusaha.

Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Edy Irwansyah mengatakan, kebijakan itu merugikan karena di saat harga komoditas lesu maka cicilan yang dibayar setiap bulan bisa menimbulkan kurang berkeadilan atau kelebihan bayar.

“Kami usul kebijakan itu evaluasi karena saat ini harga komoditas sedang lesu, cicilan PPh 25 itu bisa merugikan,” kata dia di Medan, Minggu (18/9).

Dia menjelaskan, pada pasal 25 ayat 1 UU PPh menyebutkan bahwa besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak atau WP adalah pajak penghasilan yang terutang tahun lalu dikurangi dengan PPh 21, PPh 23 dan 22 yang dipungut pihak lain dibagi 12.

Memang ada kemudahan ada untuk meminta pengurangan cicilan bulanan apabila perusahaan mampu membuktikan bahwa PPh25 yang akan terhutang menjadi 75% dari total PPh 25 dalam Surat Pajak Terhutang (SPT). Namun hal tersebut kurang berkeadilan pada saat bisnis sedang lesu karena rawan ada kelebihan bayar setiap bulan yang bisa mengganggu cash flow perusahaan.

“Jadi, Gapkindo meminta pemerintah mengevaluasi sistem cicilan PPh25 tersebut,” katanya seperti dilansir Antara.

Sementara itu, Ketua Gapkindo Provinsi Sumatera Selatan Alex K Eddy mengatakan, tata niaga penjualan karet dari petani hingga ke pabrik harus disederhanakan karena selama ini terlalu panjang yang melibatkan dua hingga tiga pedagang perantara. “Jika pabrik dapat mengambil langsung maka setidaknya petani akan lebih besar marginnya. Ini yang menjadi persoalan sehingga harga karet di tingkat petani ada selisih cukup jauh dengan harga beli pabrik,” kata dia.

Seharusnya, jika rantai penjualan karet dapat dipotong maka petani bisa menjual getah karet menyamai harga di pabrik yakni di kisaran Rp 7.000 per kilogram (kg). Sedangkan saat ini karena ada pedagang perantara membuat harga jual petani hanya Rp 4.000 per kg.

Beritasatu.com, 18/09/2016

---------------------------------------------------------

Peningkatan Penjualan Mobil Di China Topang Penguatan Harga Karet

Harga karet melanjutkan kenaikan seiring dengan melemahnya mata uang yen dan naiknya penjualan mobil di China.

Pada penutupan perdagangan Selasa (13/9) harga karet kontrak Februari 2017 di Tokyo Commodity Exchange menguat 0,59% atau 0,90 poin menuju 153,90 yen (US$1,505) per kilogram. Sebelumnya, melemah 3,65% atau 5,80 poin menjadi 153 yen (US$1,501) per kg.

Gu Jiong, analis perusahaan broker Yutaka Shoji, menyampaikan menguatnya data ekonomi China menjadi sentimen positif penguat harga karet. Penjualan mobil di Negeri Panda pada Agustus 2016 meningkat 24,3% (y-o-y) sebanyak 2.071.043 unit.

Pembelian mobil berpenumpang mencapai 1.795.512 unit, atau naik 26,4%. Adapun penyerapan mobil komersial seperti truk dan pick up tumbuh 12% menjadi 275.531 unit.

Di sisi lain, kekhawatiran hujan yang meluas di wilayah produsen karet terbesar seperti Thailand mengganggu proses penyadapan. Alhasil sektor suplai terhambat dan mendukung kenaikan harga.

Departemen Meteorologi Thailand memaparkan hujan deras bakal memasuki wilayah selatan, termasuk Provinsi Southern sebagai area perkebunan utama.

"Membaiknya data China dan hambatan cuaca menjadi sentimen positif yang menguatkan harga karet," tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/9/2016).

Pada Selasa (13/9) pukul 18:40 WIB, mata uang yen mengalami koreksi 0,42 poin atau 0,41% menuju 102,28 per dolar AS. Turunnya nilai yen turut memicu naiknya permintaan terhadap komoditas karet.

JP Morgan dalam publikasi risetnya memaparkan, harga karet cenderung menurun dan stagnan hingga semester II/2018. Alasannya, meski sisi suplai mulai stabil, segi permintaan mengalami pelemahan.

Harga karet sampai akhir 2016 diperkirakan senilai 145,3 yen per kg, turun 7,16% dari tahun sebelumnya sejumlah 155,7 per kg. Adapun harga pada 2017 dan 2018 stagnan di posisi 155 yen per kg.

Kebangkitan harga yen cenderung tertahan oleh penguatan mata uang yen. Morgan memprediksi mata uang Negeri Sakura senilai 118,5 yen per dolar AS pada 2016, serta 110 yen per dolar AS pada 2017 dan 2018.

Bisnis.com, 13/09/2016

----------------------------------------------

Menperin Tutup Investasi Baru di Industri Semen dan Karet

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendukung rencana Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk menutup ruang investasi baru di sejumlah sektor industri yang berlebih kapasitas produksi. Beberapa sektor manufaktur yang didorong Menperin untuk ditutup bagi kegiatan penanaman modal adalah industri semen dan karet.

"Industri semen itu produksinya sudah 90 juta ton per tahun dan pasar domestiknya 60 juta ton per tahun. Jadi tentu kita dari segi pemerintah, dalam arti membuat valve (katup), mana yang over mana yang kurang," ujar Airlangga ketika menerima kunjungan CNNIndonesia.com di ruang kerjanya, Kamis (25/9).

Inti dari pembatasan investasi, kata Airlangga, untuk menjaga kesinambungan bisnis semen. Menurutnya, kapasitas produksi semen nasional saat ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangunan untuk empat hingga lima tahun ke depan.

"Karena kami tidak ingin semuanya tidak sustainable. Dengan adanya investasi di Papua sudah ada pabrik semen dengan kapasitas 2 juta ton per tahun. Coverage pabrik semen untuk pembangunan sudah terpenuhi selama empat hingga lima tahun ke depan.

Berbeda halnya dengan industri karet. Airlangga mengatakan pertimbangan utamanya agar investasi baru di sektor ini dibatasi lebih pada faktor harga yang tengah terjun bebas.

"Memang (industri) crumb rubber dilepas dari DNI (Daftar Negatif Investasi), asing diberi kesempatan. Persoalannya bukan itu, tapi harga karet yang jatuh," tuturnya.

Untuk mendongkrak harga karet, Airlangga mewacanakan program mandatory pencampuran karet sebesar 5% sebagai bahan baku aspal pembuat jalan. Kebijakan ini tengah didorong untuk meningkatkan permintaan dan harga karet yang trennya menurun.

"Kemenperin sudah membuat prototipe untuk menggunakan karet sebagai bahan campuran pembuatan jalan, aspal, sebesar 5%," ungkap Airlangga.

CNN Indonesia.com, 26/09/2016

--------------------------------------------

Industri Bahan Dasar Karet Masih Sedikit di Indonesia

Ada peluang besar untuk pengembangan industri karet hilir di dalam negeri. Hal itu disebabkan karena Indonesia merupakan salah satu negara utama penghasil karet alam dengan produksi melebihi 3 juta ton per tahun.

Menteri Perinduatrian Airlangga Hartarto menyampaikan produksi karet alam nasional masih dapat ditingkatkan mengingat potensi lahan yang ada mencapai 3,5 juta hektar.

"Selain itu, pertumbuhan tersebut bisa didukung oleh program-program penelitian dan pengembangan yang dilakukan baik oleh pemerintah, institusi pendidikan maupun pihak swasta,” tuturnya di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (20/9/2016).

Namun demikian, konsumsi karet alam domestik untuk memproduksi barang-barang bernilai tambah tinggi hanya sekitar 20% dari total produksi nasional.

“Tingkat konsumsi domestik ini masih jauh dibawah Malaysia, China dan India yang menyerap lebih dari 40% hasil produksinya,” ungkap Airlangga.

Mengenai kondisi tersebut, pemerintah telah memandang bahwa langkah-langkah untuk peningkatan konsumsi karet alam dalam negeri perlu segera dilakukan sehingga meningkatkan nilai tambah potensi sumber daya alam nasional.

Peningkatan konsumsi karet Pada kesempatan yang sama, Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Teddy C Sianturi mengatakan, upaya peningkatan konsumsi karet alam dalam negeri perlu didukung dengan kemampuan industri nasional dalam menyerap karet alam.

“Konsumsi karet alam yang saat ini sebesar 580.000 ton per tahun masih berpotensi untuk ditingkatkan,” ujarnya.

Upaya yang perlu dilakukan, antara lain melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi ekspor barang karet serta menciptakan cabang-cabang industri baru seperti industri ban pesawat dan vulkanisir pesawat terbang yang berpotensi menyerap karet alam dan menghasilkan devisa nasional.

“Kami juga telah melakukan dengan penguatan struktur industri barang-barang karet, pemberian insentif untuk industri berteknologi tinggi maupun industri berorientasi ekspor, serta pengembangan kawasan industri,” paparnya.

Kompas.com, 21/09/2016

-------------------------------------------

Tidak Ada Pembatasan Ekspor Akan Pengaruhi Harga Karet

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Sumatera Utara (Gapkindo Sumut) mendukung pengurangan ekspor karet dilanjutkan. Jika tidak ada pembatasan dalam ekspor karet, harga akan semakin jatuh.

“Petani semakin banyak berkurang berproduksi kalau harga jatuh. Kemudian dengan produksi yang berkurang, maka pabrik akan semakin kesulitan mendapatkan bahan baku,” kata Sekretaris Gapkindo Sumut, Edy Irwansyah, Senin (19/9).

Dijelaskannya, jika pabrik kesulitan mendapatkan bahan baku maka akan berdampak kepada operasional yang semakin tinggi. Untuk Indonesia sendiri, 85% berasal dari karet rakyat, munculnya permasalahan akan mengganggu industri karet.

“Wajarnya harga karet ditingkat petani sekitar US$2 per kg. Sepanjang belum mencapai US$2 per kg, maka belum menggairahkan bagi petani,” jelasnya.

Pada prinsipnya, sebut Edy, yaitu tentang kebutuhan sehari-hari dari petani karet. Kalau para petani tidak berpenghasilan Rp 50.000 dalam sehari, dimana angka tersebut berdasarkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Rp 1,6 juta, banyak petani yang beralih.

“Akhirnya para petani meninggalkan pohon karet dan produksi karet jadi berkurang,” ungkapnya.

Sejak berdirinya ITRC (International Tripartite Rubber Council) pada 2001 di Bali yang diikuti tiga negara yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia hingga kini telah empat kali menjalankan AETS (Agreed Export Tonnage Scheme) atau skema pengurangan ekspor.

AETS ke-4 diumumkan 28 Januari 2016, dijalankan 1 Maret hingga 31 Agustus 2016. Gapkindo kembali ditugaskan pemerintah untuk menjalankan.

“Tujuan dilanjutkannya pengurangan ekspor agar pasokan dan permintaan global lebih seimbang, dan diharapkan harga tidak jatuh ke posisi yang lebih rendah pada saat AETS ke empat diumumkan,” terang Edy.

Analisa daily, 19/09/2016

----------------------------------

Industri Plastik dan Karet Potensial Dikembangkan Karena Vital

Prospek industri plastik dan karet hilir di Indonesia cukup potensial untuk dikembangkan karena merupakan sektor vital dengan ruang lingkup hulu, antara, hingga hilir yang dibutuhkan banyak industri lain dan memiliki variasi produk beragam.

”Konsumsi industri plastik cukup tinggi dan aplikasi yang luas untuk sektor industri lain seperti industri kemasan untuk makanan dan kosmetik, elektronik, otomotif, serta sektor lainnya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam Pameran Produk Industri Plastik dan Karet Hilir di Kementerian Perindustrian.

Oleh karena itu, Kemenperin fokus melakukan pengembangan industri plastik dan karet hilir sebagai sektor prioritas pada tahun 2015-2019 berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN).

”Kami terus berupaya meningkatkan daya saing industri ini melalui berbagai kebijakan strategis, khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan perdagangan bebas dunia,” tutur Airlangga.

Menperin mengungkapkan, jumlah industri plastik hingga saat ini mencapai 925 perusahaan dengan memproduksi berbagai macam produk plastik yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 37.327 orang dan memiliki total produksi sebesar 4,68 juta ton.

“Permintaan produk plastik nasional mencapai 4,6 juta ton dan meningkat sebesar lima persen dalam lima tahun terakhir,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, untuk memacu pengembangan industri plastik dalam negeri, Kementerian Perindustrian terus berupaya mengurangi ketergantungan bahan baku impor serta mendorong peningkatan kualitas, kuantitas maupun spesifikasi produk yang dihasilkan.

“Dalam menghadapi kendala pemenuhan bahan baku dan persaingan menghadapi MEA, salah satu langkahnya adalah pemberian fasilitasi melalui bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP),” kata Airlangga.

Dukungan lain dari Kemenperin, yakni melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), fasilitasi promosi dan investasi, penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), tata niaga impor, penguatan research and development (R&D) serta kebijakan lain yang mendukung peningkatan daya saing.

“Kami juga mendorong agar pelaku industri plastik nasional mampu bersinergi dan terintegrasi melalui kerjasama antar stakeholders sehingga produk plastik dalam negeri bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu bersaing di pasar internasional,” paparnya.

Airlangga mengungkapkan, peluang besar untuk pengembangan industri karet hilir di dalam negeri karena Indonesia merupakan salah satu negara utama penghasil karet alam dengan produksi melebihi 3 juta ton per tahun.

Produksi karet alam nasional masih dapat ditingkatkan mengingat potensi lahan yang ada mencapai 3,5 juta hektar serta didukung oleh program-program penelitian dan pengembangan yang dilakukan baik oleh Pemerintah, institusi pendidikan maupun pihak swasta.

Poskotanews, 21/09/2016

--------------------------------------------

Sulawesi Tengah Lirik Usaha Perkebunan Karet untuk Dorong Ekonomi

Semakin banyak petani di provinsi Sulawesi Tengah yang mulai menanam tanaman karet di wilayah tersebut setelah Dinas Kehutanan setempat mensosialisasikan potensi ekonomi yang ditawarkan tanaman karet.

Data Dinas Kehutanan menunjukkan perkebunan karet di Sulawesi Tengah telah meluas. Pemerintahan provinsi pun memperkirakan bahwa karet akan menjadi komoditas utama karena petani mulai menanam pohon karet setiap tahun. Berdasarkan data dari Badan Pembangunan Regional Sulawesi, perkebunan karet di Sulawesi Tengah saat ini seluas 6,520 ha dengan volume produksi tahunan 7.216 ton lateks.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah Nahardi, jumlah pohon karet yang telah disadap di provinsi tersebut saat ini hanya sekitar 30.000 pohon yang terletak di Desa Malonas, Kabupaten Donggala.

Nahardi mengatakan Dinas Kehutanan mempromosikan perkebunan karet karena tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi yang sangat besar disamping dapat menghutankan kembali lahan yang sudah gundul.

Mengenai harga lateks, Narhadi mengatakan pasar lateks tidak mengalami penurunan karena permintaannya yang terus konsisten.

“Di Sulawesi Tengah para pembeli umumnya datang langsung ke para petani sehingga memfasilitasi petani dalam menjual produk mereka,” kata Narhadi.

Narhadi mengharapkan lebih banyak lagi petani yang menanam karet karena perkebunan karet juga dapat digunakan untuk tanaman lainnya terutama tanaman tumpang sari.

Menurut Narhadi persuasi dibutuhkan untuk mendorong masyarakat menanam tanaman karet karena masyarakat Sulawesi Tengah pada umumnya tidak familiar dengan tanaman karet.

“Pada awalnya memang sangat sulit untuk mendorong masyarakat untuk menanam karet. Beberapa desa bahkan menolak untuk menanam karet. Namun setelah melihat tetangga desa mereka sukses, baru mereka menyadarinya,” tuturnya.

Sebuah kisah yang berbeda terjadi di Morowali Utara dimana seorang penduduk mengatakan harga karet di wilayah kabupaten Morowali Utara terus mengalami penurunan.

Dewasa ini petani karet di Sulawesi Tengah menjual lateks kepada pedagang pada tingkat harga 6.000 rupiah per kg atau US$ 0.46 per kg. Padahal sebelumnya harga sempat mencapai 20 ribu rupiah per kg.

Lateks merupakan komoditas ekspor utama bagi para petani di Kecamatan Lembo and Lemboraya di Morowali Utara sehingga mereka mengalami pukulan parah ketika harga karet jatuh.

Seorang petani di Desa Lembar, Kecamatan Lembo juga menyatakan jatuhnya harga karet telah mengakiibatkan banyak petani karet yang beralih menjadi buruh bangunan atau perkebunan kelapa sawit dengan pendapatan harian sekitar 70.000 rupiah. Sejumlah petani sudah mulai membudidayakan tanaman padi dan mulai menanam kakao dan cengkeh.

Rubberjournalasia.com 25/09/2016

---------------------------------------

Konsumsi Karet Alam China Tahun 2015 4,68 Juta Ton, Import Meningkat 4,8%

Pasar karet alam dunia secara konsisten mengalami kelebihan pasokan sejak 2011 yang mencapai 220.000 ton dan sekitar 140.000 ton pada tahun 2015. Situasi kelebihan pasokan secara global akan terus berlanjut pada tahun 2016 hingga 2020 dengan volume kelebihan pasokan sekitar 110.000 ton pada tahun 2020. Hal itu dipicu oleh makin luasnya areal sadapan karet alam di sejumlah kawasan produsen karet utama dan melemahnya pertumbuhan industri karet, demikian menurut sebuah laporan oleh Research in China yang berjudul ‘Global and China Natural Rubber Industry Report, 2016-2020’.

Harga karet alam juga tetap bertahan di level rendah karena pertumbuhan ekonomi global yang lamban dan kelebihan pasokan karet alam. Pada akhir tahun 2015 harga karet alam China jatuh ke sekitar US$1.140 per ton yang juga merupakan harga biaya pokok. Pada tahun 2016 harga rata-rata dunia karet alam berfluktuasi pada US$1.200 per ton sampai US$1.500 per ton.

Produksi karet alam China turun 5,5% pada tahun 2015 menjadi 794.280 ton. Selain karena faktor cuaca, areal kebun karet yang semakin terbatas dan kondisi harga yang berada di sekitar biaya produksi telah mengakibatkan para petani karet China untuk meninggalkan kebun karet mereka. Pada tahun 2016 produksi karet alam China diperkirakan kembali mengalami penutunan sebesar 5,3% menjadi 752.100 ton.

Sebagai konsumen karet alam terbesar dunia, China mengkonsumsi 4,682 juta ton karet alam pada tahun 2015, atau menguasai pangsa konsumsi sebesar 38,5% konsumsi dunia. Mengingat telah terjadinya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, China mengimpor sebagian besar kebutuhan karetnya untuk memenuhi permintaan tradisional dari industri ban. Volume import meningkat 4,8% menjadi 2,736 juta ton, sedangkan harga impor rata-rata turun 24,5% menjadi US$ 1.431,6 per ton pada tahun 2015.

Di balik penurunan harga karet alam dan menciutnya luasan kebun karet, industri otomotif China terus berekspansi seiring dengan terus meningkatnya penjualan mobil yang memicu peningktan permintaan ban yang pada gilirannya juga mendorong permintaan terhadap karet alam. Pada tahun 2016 hingga 2020 kontradiksi antara pasokan dan permintaan karet alam di China akan terus berlangsung, bahkan akan lebih intensif. Pada tahun 2020 permintaan karet alam di China diperkirkan mencapai 5,142 juta ton atau naik 32,3% dibandingkan dengan tahun 2015.

Karena keterbatasan distribusi sumberdaya, industri karet alam sangat terpusat di Thailand, Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya, diwakili oleh perusaahan seperti Sri Trang Agro-Industry, Von Bundit, Southland Rubber, Thai Rubber Latex dan Sinochem International.

Mengingat sedang menurunnya pasar karet alam, perusahaan bisa mempercepat pengembangan sumberdaya dan strategi, memperluas penanaman karet di sejumlah negara produsen utama karet alam, disamping meningkatkan layout pabrik pengolahan untuk meningkatkan kapasitas produksi tahun depan. Selain itu mereka juga perlu terus memperhatikan pasar customisation dan high-end aplikasi karet seperti ban untuk kendaraan militer untuk meningkatkan keuntungan dan daya saing produk.

Rubberjournalasia.com, 09/09/2016

--------------------------------------------

Petani Nikmati Harga Lebih Tinggi

Pembentukan unit pengelolaan dan pemasaran bersama bahan olah karet dinilai menjadi solusi di tengah tertekannya harga karet. Dengan sisitem ini petani menikmati selisih harga Rp 2000 per kilogram getah karet. Itu didapat dari membaiknya kualitas karet dan diputusnya beberapa mata rantai pemasaran.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonsia (Gapkindo) Sumatera Utara, Edy Irwansyah, Minggu (25/9) di Medan, Sumattera Utara, mengatakan pembentukan Unit Pengelolaan dan Pemasaran Bersama (UPPB) menolong petani karet di tengah terpuruknya harga. Namun sejak dicanangkan tahun 2008, baru satu yang terbentuk di Sumut, yakni UPPB Dolok Merawan di Kabupaten Serdang Berdagai.

UPPB Dolok Merawan dibentuk Agustus 206 dan mulai memasarkan bahan olah karet secara langsung ke pabrik. “Mereka menjual getah karet ke pabrik Rp 6.000 per kilogram, lebih tinggi daripada harga pasar, yakni Rp4.000 per kilogram,” kata Edy.

Sejak 2011, harga getah karet terus merosot dari sekitar Rp 20.000 menjadi Rp 4.000 per kilogram di tingkat petani.”Harga tertekan karena produksi lebih tinggi dari permintaan pasar dunia,” kata Edy.

Edy menuturkan, UPPB dicanangkan Kementerian Pertanian sejak 2008 melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38/Permentan/OT.140/8/2008 tentang Pedoman Pengelolaan dan Pemasaran Bahan Olah Karet. Namun, pembentukannya terkendala karena minimnya sosialisasi kepada petani.

UPPB adalah kelompok yang mengatur anggotanya agar memproduksi karet dengan cara yang baik dan benar sehingga kualitas karet lebih baik. Selama ini lebih dari setengah karet yang dihasilkan petani berkualitas buruk.

“Padahal 85 persen produksi karet Indonesia dihasilkan petani. Ini juga membuat daya saing karet Indonesia di pasar dunia lemah karena kualitasnya rendah,” kata Edy.

Edy mengatakan, bahan penggumpal karet yang digunakan sebagian besar petani masih pupuk TSP Itriple Super Phosphat). Ini membuat elastisitas karet berkurang dan mudah patah.

Pada getah karet yang dideres petani masih terdapat bahan pengotor seperti batu. Petani kerap merendam karet di air agar berat bertambah. “Padahal, pabrik pasti menghitung kadar air dan bahan pengotor lainnya sebelum membeli. Ini justru akan menekan harga karet karena pabrik harus menghitung tambahan biaya pengelolaan,” ujar Edy.

Di beberapa tempat, kata Edy, pembentukan UPPB masih terkendala karena petani tidak langsung mendapat uang ketika menyerahkan getah karet ke kelompok.

Petani karet di Kabupaten Deli Serdang, Martin Tarigan, mengatakan, para petani belum mengetahui prinsip-prinsip UPPB. “ Selama ini pengelolaan karet kami lakukan secara tradisional dengan cara turun temurun. Saat harga karet anjlok, banyak di antara kami yang justru berhendti menyadap karet,” katanya.

Kompas, 26/09/2016

--------------------------------------------------------

Pendampingan Mandek, Sebagian Besar UPPB Mati Suri

Dari 32 unit pengolahan dan pemasaran bersama bahan olah karet di tingkat petani di Provinsi Jambi, hanya empat unit yang masih memproduksi bahan olah karet menjadi produk setengah jadi. Sebagian besar lainnya seperti mati suri meski berbagai jenis bantuan mesin dan peralatan industri hilir telah diberikan.

Menurut Ketua Asosiasi Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet Provinsi Jambi Budi Wibowo, sebagian besar unit pengolahan dan pemasaran bersama (UPPB) mati suri karena minimnya pendampingan kepada petani.

Pemerintah telah menyalurkan mesin olah karet ke setiap UPPB. Namun, setelah mesin disalurkan kepada petani tidak ada pendampingan. Padahal, yang dibutuhkan petani tidak sekadar mengolah karet tersebut menjadi bahan setengah jadi, tetapi juga pendampingan mulai cara budidaya karet yang benar hingga membuka akses pemasaran seluas-luasnya.

“Semula petani bersemangat untuk maju ke arah perbaikan mutu dan upaya hilirisasi karet. Namun, pendampingan rupanya mandek di tengah jalan,” kata Budi di Jambi, Selasa (27/9).

Saat ini, lanjutnya, hanya empat UPPB yang masih aktif menghasilkan ribbed smoked sheet (RSS), salah satu jenis karet olahan yang berasal dari lateks. Empat unit tersebut tersebar di Kabupaten Sarolangun yang memproduksi 800 kilogram RSS per bulan, 2 unit di Muaro Jambi dengan produksi 1 ton dan 1 unit di Batanghari yang memproduksi 400 kilogram RSS.

Produksi total RSS 2,2 ton per bulan, kata Budi, belum mencukupi tingginya kebutuhan di Provinsi Jambi. Untuk usaha industri vulkanisir ban saja, kebutuhan RSS mencpai 40 ton. Artinya, meski Jambi memiliki perkebunan karet yang luas, kebutuhan bahan karet setengah jadi untuk industri sebagian besar dipenuhi dari luar Jambi.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Provinsi Jambi M Hatta Arifin, mengatakan, produksi karet olahan terus turun sejak 2013. Produksi karet olahan dari 10 pabrik di Jambi yang mencapai 379.298 ton pada 2013, turun menjadi 345.109 ton pada 2014 dan turun lagi 15 % pada 2015. Perkebunan karet di Jambi seluas 588.043 hektar dengan produksi 312.925 ton karet yang diolah menjadi karet remah.

Pengembangan UPPB bahan olah karet di Sumatera Selatan juga lamban. Kurangnya anggaran dan rendahnya kesadaran petani menjadi kendala utama. Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpian , di Palembang mengatakan , jumlah UPPB itu belum sesuai dengan lahan karet di Sumsel yang seluas 1,2 juta hektar dengan jumlah petani karet 556.418 keluarga.

Kompas, 28/09/2016

email Cetak PDF