toggle
plus minus gleich
English Indonesian

BERITA KARET SEPTEMBER 2016

BERITA KARET SEPTEMBER 2016

  1. Produksi Karet Alam Diprediksi Menurun
  2. Pembatasan Ekspor Karet Diperpanjang
  3. RI Paling Untung Jika Negara Produsen Utama Karet Lakukan Replanting
  4. 4. Pemerintah Cari Terobosan Baru Dongkrak Harga Karet
  5. Peta Jalan Peremajaan Karet Belum Rampung
  6. Naikkan Harga Karet, Pemerintah Lobi Tiga Negara Ini
  7. Kawasan Sepakati Standar Baru Karet
  8. ANRPC : Harga Karet Tertahan di Level Rendah
  9. Harga Karet Naik Dipicu Pelemahan Yen
  10. Bappebti Akan Evaluasi
  11. Pemangkasan Ekspor Berlanjut, Karet Ditutup Menguat 0,76%
  12. Musim Hujan Kendurkan Harga Karet

----------------------------------

Produksi Karet Alam Diprediksi Menurun

Produksi karet alam Indonesia pada 2016 diperkirakan hanya sebanyak 2,95 juta metrik ton. Jumlah ini lebih rendah dari perkiraan target produksi yang ditetapkan sebelumnya sebesar 3,1 juta metrik ton.

Melesetnya produksi karet alam dari target itu antara lain disebabkan pengaruh La Nina dan pergeseran musim gugur daun di belahan selatan Indonesia menyebabkan produksi karet alam menurun.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) Moenardji Soedargo, di sela-sela Rakernas GAPKINDO di Jakarta, Kamis (25/8). "Jadi perkiraan saya produksi kita sendiri akan berpotensi mengalami penurunan 100 ribu hingga 150 ribu metrik ton menjadi 2,95 juta metrik ton tahun ini," katanya.

Kondisi tersebut, ungkapnya,   membuat ekspor Indonesia terhadap karet alam mengalami penurunan. Apalagi ditambah adanya pembatasan volume ekspor karet alam sesuai kesepakatan International Tripartite Rubber Council (ITRC) melalui skema Agreed Export Tonnage Scheme (AETS).

Ekspor karet alam Indonesia pada 2016 ini diprediksi hanya 2,4 juta ton hingga 2,5 juta ton. Jumlah tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan capaian realisasi ekspor karet alam Indonesia pada tahun lalu sebesar 2,6 juta metrik ton.

Menurut Moenardji, bukan hanya Indonesia yang mengalami penurunan produksi dan ekspor karet alam. Beberapa negara produsen karet alam terbesar dunia seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, dan India juga mengalami penurunan.

"Di negara lain juga diperkirakan mengalami penurunan. Kalau mereka, lebih disebabkan karena El Nino atau musim kering di bagian bumi sebelah utara," paparnya.

Hingga 2014, produsen terbesar karet alam dunia masih diduduki Thailand sebesar 3,98 juta metrik ton. Indonesia di posisi kedua dengan produksi sebanyak 3,2 juta metrik ton. Sementara tempat ketiga diisi oleh Vietnam dengan jumlah produksi sebesar 1,04 juta metrik ton.

Dalam sambutannya di pembukaan Rakernas GAPKINDO, Menko Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan kalau karet mempunyai sejarah panjang di Indonesia maupun di Asia Tenggara. Komoditas ini muncul sebagai hasil bumi yang berperan signifikan dan menjadi sumber pendapatan rakyat.

Merujuk pada hal tersebut, pemerintah dan GAPKINDO perlu bersama-sama meningkatkan produktivitas petani karet maupun kualitas dari bahan baku karet. Darmin juga berharap anggota GAPKINDO bisa melihat problem karet secara komprehensif dan diselesaikan secara bersama. “Anggota GAPKINDO tidak dapat hanya berfokus pada berbisnis di hilir tanpa bersama-sama menyelesaikan pokok permasalahan di sektor hulu”, kata Darmin.

Menko Perekonomian menyatakan harapan agar GAPKINDO dapat mendorong para anggotanya untuk mengadop sifat karet yang lentur, tahan banting, dan selalu bounce-back menghadapi tekanan. Selain itu, ia juga berharap industri ini akan kembali menjalankan peran signifikannya.

“Kita harus bersama-sama menata industri karet dari hulu sampai hilir, meningkatkan kualitas, produktivitas dan nilai tambah dari industri karet. Dengan demikian, industri ini akan kembali menjadi salah satu pilar penting pengentasan kemiskinan di Indonesia,” pungkas Darmin.

Tim Buletin

-----------------------------------------

Pembatasan Ekspor Karet Diperpanjang

Pengurangan alokasi ekspor karet alam oleh tiga negara produsen yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) diperpanjang hingga Desember 2016, dengan harapan harga di pasar tetap berada di level tinggi.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward mengatakan negara-negara ITRC telah bertemu pada 11 Agustus dan menyepakati perpanjangan pembatasan volume ekspor karet (Agreed Export Tonnage Scheme /AETS) tersebut.

AETS telah berjalan sejak Maret 2016 dan akan berakhir pada 31 Agustus 2016. “Ini untuk menjaga sentimen positif pasar terhadap karet alam. Selain itu, menghindari ketidakseimbangan supply dan demand,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (23/8).

Kemendag menyatakan tidak tertutup kemungkinan skema pengurangan ekspor tersebut bakal diperpanjang lagi setelah Desember 2016 jika memang dirasa perlu, terutama dipandang dari sisi harga. Sejauh ini, implementasi skema tersebut dinilai berhasil mendongkrak harga karet alam di pasar internasional.

Data Bloomberg menunjukkan harga karet global selama setahun terakhir bergerak cukup fluktuatif dengan rata-rata 150,3 yen—160,2 yen per kg.

Sepanjang tahun ini, harga karet alam sempat menyentuh harga terendah, yakni 146,9 yen per kg pada 12 Januari. Sementara itu, harga komoditas tersebut sempat menyentuh harga tertinggi pada 21 April, yakni di 202,2 yen per kg. Pada Selasa (23/8), harga karet alam tercatat menyentuh 151,4 yen per kg atau turun dari posisi sehari sebelumnya yang masih sebesar 155,1 yen per kg.

Jatah Vietnam

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) Moenardji Soedargo mengungkapkan tidak ada pemangkasan tambahan dalam perpanjangan waktu pembatasan ekspor ini, tetapi hanya menjalankan alokasi ekspor yang awalnya diberikan kepada Vietnam. “Total pengurangan ekspor adalah 700.000 metrik ton yang dibagi kepada negara-negara ITRC dan Vietnam. Nah, Vietnam punya alokasi 85.000 metrik ton, tapi ternyata belum dilaksanakan oleh mereka dan inilah yang akan dilanjutkan Indonesia, Thailand, dan Malaysia,” jelasnya.

Dengan demikian, alokasi pengurangan ekspor karet secara keseluruhan hingga Desember 2016 tetap sebanyak 700.000 metrik ton. Namun, tidak disebutkan berapa porsi masing-masing negara ITRC dari sisa 85.000 metrik ton itu. Adapun, alokasi ekspor Indonesia sebelumnya adalah sebesar 238.736 metrik ton, Malaysia sebanyak 52.259 metrik ton, dan Thailand mencapai 324.005 metrik ton. Vietnam memang belum menjadi anggota ITRC dan sekarang ini berstatus sebagai strategic partner.

Seperti diketahui, keempat negara tersebut merupakan eksportir karet terbesar dunia. Moenardji mengaku tidak mengetahui alasan pasti di balik keengganan Vietnam mengurangi ekspornya. “Tidak tertutup kemungkinan ini karena negara itu belum terikat dengan ITRC.” Dia melanjutkan dengan masih berlakunya pembatasan ini, kegiatan ekspor karet masih berada dalam pantauan dan pengawasan Kementerian Perdagangan.

Di sisi harga, GAPKINDO memandang pascapenerapan skema AETS, pergerakan harga karet alam cukup positif. “Ketika diumumkan pada Februari 2016, harga masih US$1.000 per ton, dan sempat naik ke US$1.500 per ton. Meski pernah ada koreksi, tetapi sekarang rata-rata ada di level US$1.300 per ton. Jadi, ada perbaikan harga,” terang Moenardji.  Kendati demikian, GAPKINDO menilai harga masih belum berada di level ideal, dan berpotensi bisa kembali meningkat. Bila sudah ada keseimbangan yang ideal, diharapkan harga karet internasional dapat naik hingga US$1,5—US$2 per kg.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane juga mengakui ada efek positif terhadap harga dari pengurangan ekspor yang dilakukan ITRC. Dekarindo, menurut Azis, sebenarnya berharap skema itu bisa berlanjut hingga tahun depan, dengan alokasi sama dengan yang ditetapkan pada periode Maret-Agustus 2016. “Harga sudah agak lumayan, kami harapkan tidak jatuh lagi. Kami juga menyadari stok dunia, seperti di AS dan Jepang sudah mulai menipis. Kalau kami sesuaikan lagi, mudah-mudahan terus membaik,” paparnya

Bisnis Indonesia, 24/08/2016

---------------------------------------------------------------

RI Paling Untung Jika Negara Produsen Utama Karet Lakukan Replanting

Pemerintah Indonesia terus berupaya mengajak negara-negara penghasil karet terbesar dunia untuk mengendalikan produksi. Sebab jika tidak dikendalikan, maka harga komoditas karet global akan terkoreksi cukup dalam.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku bahwa Indonesia menjadi negara yang paling diuntungkan jika tiga negara penghasil utama karet dunia lainnya yakni Malaysia, Thailand, dan Vietnam melakukan pengendalian produksi dengan merevitalisasi perkebunan karet melalui penanaman kembali (replanting).

"Sebetulnya kalau ini terjadi dan kita punya ruang yang lebih lebar untuk melakukan replanting, maka Indonesia akan memetik keuntungan paling besar dalam jangka menengah panjang," ujar Darmin, di Hotel Fairmont, Jalan Asia Afrika, Jakarta Pusat, Kamis (25/8/2016).

Dia melanjutkan, hal ini karena usia tanaman perkebunan karet Indonesia merupakan yang paling tua dibanding tiga negara produsen lainnya. Karena paling tua dan direplantasi, maka varietasnya akan menjadi lebih baik.

"Kita merupakan produsen karet terbesar sekarang ini, tapi usia tanamnya yang paling tua. Karena paling tua sehingga paling untung dilakukan replanting. Jika begitu, maka varietasnya lebih baik dan mempengaruhi jumlah produksi yang juga semakin baik," yakinnya.

Namun demikian, tiga negara lainnya dinilai kurang semangat mengikuti langkah Indonesia melakukan replanting. Persaingan bisnis untuk merebut penerimaan yang paling banyak jadi alasannya.

"Ini dia tantangannya. Oleh sebab itu saya mengundang GAPKINDO (Gabungan Perusahaan Karet Indonesia) untuk bersama-sama pemerintah melakukan lobi ke mereka. Ini harus dilakukan segera, sebab jika ditunda maka akan menimbulkan dampak negatif kepada para petani karet kita," pungkas Darmin.

Seperti diketahui, harga karet global pada Juni 2016 mencapai US$1,3/kg atau mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya sebesar US$1,5/kg. Padahal harga karet global sempat menyentuh harga tertinggi perdagangan pada 2011 sebesar US$5,5/kg.

Metrotvnews.com, 25/08/2016

---------------------------------------------------------

Pemerintah Cari Terobosan Baru Dongkrak Harga Karet

Pemerintah diminta mencari terobosan baru untuk mendongkrak harga karet, sehingga bisa membantu perekonomian para petani di Sumatera Selatan.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Sumatera Selatan Budiarto Marsul di Palembang, Kamis menyampaikan hal itu saat ditanya mengenai harga karet yang terus mengalami penurunan.

Menurut dia, sekarang ini Thailand dan Vietnam, mereka memproduksi karet lebih tinggi jumlahnya dan kualitasnya juga baik.

Ia menyatakan, mereka itu tidak mau mencampur karetnya dengan serbuk dan lainnya sehingga kualitasnya lebih tinggi, kemudian biaya tenaga kerja juga rendah sehingga biaya produksinya rendah dan harganya rendah pula.

"Persaingan ini yang sulit untuk melawannya, karena itu pemerintah agar mencari terobosan baru untuk mendongkrak harga karet dengan industri hilirisasi yang berkali-kali sudah didengungkan," katanya.

Ia mengatakan, misalnya dengan membuat pabrik ban, sarung tangan yang sifatnya produk turunan karet, jadi dibuat pabrik-pabrik, tanpa itu susah untuk meningkatkan harga karet.

Sekarang ini, lanjutnya, persoalannya kenapa orang tidak mau masuk untuk membuat pabrik itu, dan ini harus dikaji oleh pemerintah, karena pemerintah mempunyai lembaga penelitian, mungkin ada hambatan-hambatannya.

Ia menilai, mungkin agak panjang harga karet yang kurang menarik ini, karena di negara lain harganya lebih murah.

Celakanya di Sumatera Selatan ini salah satu provinsi terbesar di dunia penghasil karet, sehingga dampaknya pada masyarakat paling banyak.

Daerah penghasil karet di Sumsel itu di Kabupaten Musirawas, Lahat, Banyuasin dan Muaraenim luar biasa, sehingga ketika harga komoditas tersebut jatuh, sulit perekonomian masyarakat, katanya.

Antaranews.com, 11/08/2016

----------------------------------------------------------

Peta Jalan Peremajaan Karet Belum Rampung

Pemerintah akan melakukan peremajaan tanaman (replanting) penghasil komoditas perkebunan strategis, yakni karet, kakao, teh, kopi, dan pala, di sejumlah wilayah di Indonesia. Program ini akan menggunakan anggaran dari perbankan melalui kredit usaha rakyat (KUR). Salah satu komoditas yang menjadi prioritas utama program tersebut adalah karet.

Namun sejak kebijakan itu diambil, pemerintah ternyata masih belum menyalurkan dana untuk replanting tersebut. Pemerintah masih membuat peta jalan (roadmap) untuk program itu melalui dana KUR. "Kita masih harus konsolidasi kembali sebab banyak menteri-menteri yang baru untuk membahas roadmap dulu," kata Menko Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta.

Darmin menjelaskan, KUR untuk replanting karet memang membutuhkan dana besar, sekitar Rp 30 triliun dengan jangka waktu tujuh tahun. Karena pembiayaan yang besar dan waktu yang diperlukan cukup panjang, maka pemerintah masih memerlukan waktu untuk membahas roadmap tersebut.

Dalam pembahasan roadmap tersebut, pemerintah masih harus melakukan negosiasi dengan sejumlah negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang memiliki komoditas serupa untuk bersama-sama mendorong harga karet lebih tinggi lagi. Sebab, pada saat replanting akan ada produksi karet dalam negeri yang berkurang yang bisa mengubah harga di pasaran.

Untuk itu, pemerintah mendorong agar periode kenaikan harga karet ini bisa dilakukan bersama, karena jangan sampai ketika harga karet dari Indonesia naik karena keterbatasan produksi, tapi harga karet di negara lain masih sama. “Ditakutkan nantinya harga karet dari Indonesia justru kalah bersaing ketika tidak ada konsolidasi antarnegara penghasil karet. "Kalau tidak ada kesepakatan nanti mereka untung duluan, tanpa menunggu nanti mereka bisa langsung isi produksi," jelas dia.

Sementara untuk penggantian anggaran kepada petani karet ketika replanting, pemerintah kemungkinan melakukan replanting masing-masing 50% untuk setiap perkebunan milik petani. Artinya, separuh lahan karet akan diremajakan dan separuh lagi untuk menanam yang lain, sehingga petani juga masih bisa menghasilkan ketika lahan karet mereka diremajakan.

Investor daily, 29/08/2016

---------------------------------------------------------------

Naikkan Harga Karet, Pemerintah Lobi Tiga Negara Ini

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan harga jual karet di Indonesia saat ini sangat rendah. Merosotnya harga jual karet Indonesia disebabkan tanaman karet Indonesia tergolong tua dan memerlukan replantasi untuk bisa berproduksi dengan kualitas yang kembali baik.

Untuk itu, menurut Darmin, pemerintah melobi negara-negara produsen utama karet di Asia Tenggara untuk mengurangi produksi karetnya. “Kuncinya adalah bagaimana bicara dengan Vietnam, Thailand, dan Malaysia agar bersama-sama mengurangi produksi,” ucapnya saat ditemui dalam Rapat Kerja Nasional Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) di Hotel Fairmont Senayan, Jakarta, pada Kamis, 25 Agustus 2016.

Lobi ini dilakukan agar negara-negara produsen utama karet menekan jumlah produksinya untuk meningkatkan harga. Bila peremajaan dilakukan, harga Indonesia bisa kembali bangkit. Namun tampaknya langkah ini tak mudah.

“Tantangannya adalah bagaimana meyakinkan negara tetangga untuk mengurangi produksi agar bisa replantasi bersama,” ujar Darmin seraya menambahkan, negara-negara tetangga sulit untuk setuju. Pasalnya, tanaman karet di sana tak setua Indonesia sehingga mereka menganggap peremajaan belum perlu dilakukan.

Namun, bila mereka setuju, Indonesia akan menjadi yang paling diuntungkan. Sebab, Indonesia merupakan negara penghasil karet terbesar di Asia Tenggara. Sebagai negara dengan tanaman karet tertua, replantasi sangatlah bagus, apalagi tanaman tertua memiliki varietas unggul.

Pemerintah, Darmin melanjutkan, sudah pasti memiliki andil dalam hal diskusi terkait dengan penahanan produksi karet. Meski begitu, bukan berarti tanggung jawab hanya dibebankan kepada pemerintah, tapi juga pengusaha.

Ketua Umum GAPKINDO Moenardji Soedargo menyatakan mendukung rencana pengurangan produksi. GAPKINDO sudah mengurangi ekspor karet sampai akhir tahun ini.

Moenardji menjelaskan, pengurangan ekspor berpengaruh terhadap peningkatan harga walaupun tak signifikan. “GAPKINDO mengimbau pemerintah untuk memperluas kerja sama perihal pengurangan produksi ini ke negara ASEAN lain, bukan hanya tiga negara.”

Tempo. Co.id, Kamis, 25/08/2016

---------------------------------------------------

Kawasan Sepakati Standar Baru Karet

Para pakar dan pejabat pemerintah dari negara-negara anggota ASEAN berkumpul di Siem Reap kemarin untuk menyepakati harmonisasi standar untuk produk karet yang akan menfasilitasi perdagangan lintas batas.

Kelompok kerja produk berbasis karet atau Rubber Based Product Working Group (RBPWG) yang berada di bawah the ASEAN Consultative Committee for Standards and
Quality (ACCSQ) menyepakati 61 harmonisasi standard selama pertemuan, demikian disampaikan Chan Borin, Direktur Umum The Institute of Standards.

Chan mengatakan sepertiga dari standar baru tersebut diaplikasikan terhadap produk karet, sedangkan sisanya diterapkan pada metodologi pengujian.  Komite dan kelompok kerja juga memformulasikan petunjuk untuk laboratorium dan lembaga penilai yang akan menerbitkan sertifikat kesusaian terhadap standard dimaksud.

“Jika kita menginginkan terjadinya pergerakan barang secara bebas kita harus menggunakan standard yang sama yang diterima oleh semua negara ASEAN,” kata dia.

Chan mengatakan dengan mengadopsi standard industri yang sama dengan negara anggota ASEAN lainnya, akan mendorong para investor untuk membangun pabrik karet di Kamboja.

“Dengan demikian karet alam kita akan memiliki pasarnya sendiri dan kita akan dapat mengekspor produk akhir ke pasar ASEAN dan pasar internasional sehingga harga karet tidak akan tergantung pada pasar lainnya,” kata dia.

Men Sopheak, Direktur Sopheak Nika Investment Group yang mengoperasikan perkebunan karet besar di propinsi Kampong cham, mengatakan harmonisasi standard memainkan peranan penting dalam mempromosikan produk karet di pasar domestik, tetapi itu hanya salah satu dari faktor yang dapat menarik investasi di sektor yang sedang tumbuh tersebut.

“Tidak hanya standard yang dapat menarik investor untuk berinvestasi disini, masih ada faktor lainnya seperti peluang pasar dan undang-undang investasi, serta bagaimana daya saing kita dibandingkan dengan negara tetangga kita,” katanya.

Sopheak mengatakan pabrik karet milik perusahaannya hanya memproduksi produk karet setengah jadi, dan dia lebih menginginkan untuk memproduksi produk akhir.

“Saya berusaha mencari investor untuk membangun pabrik disini, tapi belum berhasil,” kata dia.

Harga karet dunia telah merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat dari melimpahnya pasokan global.  Ekspor karet alam Kamboja mencapai angka tertinggi pada tahun 2015, naik 24% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tapi nilai ekspornya justru turun 2,5% menjadi US$150 juta, menurut data Kementerian Pertanian Kamboja. ***

Globalrubbermarkets.com, 26/08/2016

-------------------------------------

ANRPC : Harga Karet Tertahan di Level Rendah

Asosiasi negara-negara penghasil karet alam atau ANRPC menyantakan harga karet tidak mengalami pertumbuhan signifikan walau tidak ada peningkatan pasokan karet alam dalam beberapa waktu terakhir ini.

Dalam laporan bulanannya untuk bulan Juli yang berjudul ‘Natural Rubber Trends and Statistics’, ANRPC menyatakan bahwa pasokan karet alam global tumbuh hanya 0,2% selama tujuh bulan pertama tahun 2016 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Namun setiap kenaikan harga telah ditekan oleh perkiraan lemahnya permintaan, rendahnya harga minyak bumi dan lemahnya mata uang negara-negara pengekspor karet alam yang menjadi kombinasi penekanan harga, tutur ANRPC dalam laporan tersebut.

Asosiasi negara-negara produsen karet dunia itu juga mengingatkan bahwa akibat kecenderungan menggeliatnya ekonomi global, kemungkinan permintaan karet alam dunia akan menguat pada tahun 2016 dan 2017 menjadi suram dan kemungkinan akan menahan translasi dan antisipasi lambatnya pertumbuhan pasokan kesituasi bulish di pasar.

Faktor lain yang juga kurang membantu adalah perkiraan situasi pasar energi jangka pendek yang mana menurut ANRPC pasar karet alam akan kembali kurang mendapatkan dukungan dari situasi yang terjadi di pasar minyak bumi. ***

www.rubbernews.com, 30/08/2016

---------------------------------------------------

Harga Karet Naik Dipicu Pelemahan Yen

Rencana The Fed menaikkan suku bunga acuan telah menekan nilai tukar yen terhadap mata uang dolar AS dan mengerek harga karet ke level tertinggi pada kontrak terbaru.

Pada perdagangan penutupan perdagangan Senin (29/8), harga karet kontrak terbaru, Februari 2017, di Tokyo Commodity Exchange ditutup menguat 2,59% atau  3,90 poin ke 154,50 yen perkilogram.  Padahal sebelumnya, harga karet dibuka melemah 0.07 poin atau 0,10 poin ke 150,50 yen perkilogram.

Gu Jiong, analis dari Yutaka Shojii, mengungkapkan melemahnya yen telah mengerek naik harga karet. Dia mengungkapkan rencana  produsen  untuk memperpanjang  pengetatan  ekspor  juga memberikan sentimen positif.

Sementara itu, nilai tukar yen kemarin terpantau melemah 0.53% atau 0,54 poin ke 102,37 per dolar AS pada pukul 14.03 WIB setelah dibuka di posisi 102,07 yen per dolar.

Saat Gubernur Federal Reserve Jannet Yellen berpidato di Jackson Hole, pelaku pasar menangkap sinyal bahwa The Fed segera melakukan penaikan suku bunga acuan.

Investor di pasar pun menangkap sinyal rencana penaikan tersebut akan dilakukan lebih cepat dari prediksi pasar, yakni September.

Setelah Yellen berpidato, saham Asia di luar Jepang mulai jatuh. Adapun saham Tokyo terlihat menguat sebab yen melemah. Gubernur Bank of JapanHaruhiko Kurda berjanji akan memberikan stimulus jika diperlukan.

Suluh Wicaksono, Analis PT Cerdas Indonesia Berjangka, mengungkapkan mata uang yang paling diuntungkan atas rencana Yellen untuk menaikkan Fed Fund Rate (FFR) adalah yen.

Atas rencana  The Fed itu Gubernur BoJ Haruhiko tidak perlu mengeluarkan amunisi kebijakan untuk melemahkan yen, namun demikian, yen sebagai aset safe haven masih terbilang kuat sebab masih berada di level 102 yen per dolar.

Faktor Yen

Pada perdagangan Senin (29/08) nilai tukar yen terpantau melemah 0.44% atau 0,45 poin menjadi 102,27 yen per dolar dari posisi 101,82 yen per dolar.

“Pelemahan yen sangat diinginkan Jepang. Sebab, jika mata uang jepang melemah maka ekspor akan positif,” ungkapnya saat dihubungi Bisnis.

Selama ini, nilai yen tetap stabil pada level 100 yen per dolar . Namun, tidak menutup kemungkinan perlemahan yen akan mencapai 104 yen per dolar  pada saat The Fed menaikkan FFR.

Nilai tukar yen memperpanjang pelemahannya menyusul pernyataan Gubernur Bank of Japan Haruhiko Komda  yang terus menunjukkan kesiapannya untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut.

Seperti dilansir Bloomber, saham produsen alat listrik dan mesin mobil menguat pasca pelemahan yen terhadap dolar AS sebesar 1,3% pada Jumat lalu akibat pernyataan Yellen tentang kemungkinan kuat kenaikan suku bunga AS.

Di sisi lain, Gubernur BoJ  menyatakan akan ada ruang yang cukup bagi kebijakan moneter lebih lanjut melalui pelonggaran kuantitatif dan kualitatif maupun pemangkasan suku bunga negatif yang lebih dalam.

Suluh menjelasan, komoditas yang langsung berpengaruh pada rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga adalah emas, perak, tembaga dan komoditas logam lainnya.

Adapun harga komoditas karet dan crude oil tidak berpengaruh langsung terhadap rencana itu.

Bisnis Indonesia, 30/08/2016

------------------------------------------------------------------

Bursa Karet Regional

Bappebti Akan Evaluasi

Kemenetrian Perdagangan akan mengevaluasi bursa karet regional yang melibatkan tiga negara (Indonesia, Malaysia dan Thailand) setelah beroperasi pada akhir Agustus 2016, untuk memastikan target sasaran pembentukan sarana perdagangan ini tercapai.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Bachrul Choiri, mengatakan bursa karet regional yang akan menjadi tandingan bursa komoditas karet Jepang itu telah mulai berjalan.

“Nanti akan kami evaluasi per 3 bulan. Sekarang kami minta selama 3 bulan dievaluasi mengenai sasarannya,” jelas Bachrul di Jakarta, Jumat (2/9)/.

Pembentukan bursa regional ini, tutur Bachrul, dilakukan agar tercipta referensi harga untuk kawasan Asia. Bursa karet regional ini bersifat sukarela atau voluntary. Skemanya, sistem dari tiap negara akan didaftarkan dalam bursa ini. nantinya keluar referensi harga untuk lingkup Asia.

Bappebti masih menggodok skema harga referensi yang akan dikeluarkan. Pasalnya, tiap negara anggota di bursa ini memiliki standar karet yang berbeda. Indonesia dan Malaysia menggunakan standar SIR 20, adapun Thailand menggunakan standar harga karet RSS3.

“Nah ini akan diolah, apakah akan keluar satu-satu atau secara rata-rata. Ini yang masih kami akan bahas. Tapi sistemnya, kuantitas delivery nya dan quatotation sudah disepakati. Ini sudah formally run,” ujar Bachrul.

Seperti diketahui, bursa karet regional ini juga dibentuk untuk menyelematkan harga karet mentah agar lebih stabil.

Serapan Karet

Untuk menekan jatuhnya harga karet, pemerintah bersama pelaku usaha di sektor karet pun tengah menggodok kembali rencana penerbitan Intruksi Presiden (Inpres) soal penyerapan karet.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia, Azis Pane, mengatakan pihaknya telah menggelar diskusi dengan Kementerian Kordinasi Bidang Perekonomian (Kemenko Bidang Perekonomian) terkait tertundanya penerbitan Inpres penyerapan karet dalam negeri tersebut.

Dari diskusi dengan Kemenko Perekonomian, Azis menyebutkan institusi itu meminta penjelasan industri mana yang akan difokuskan dalam Inpres penyerapan karet. Tak adanya fokus, diklaim menjadi penyebab Inpres itu tidak kunjung diterbitkan.

Dalam kajian Dewan Karet, industri yang akan diajukan untuk menyerap karet utama adalah industri ban. Sebab, industri ini menyerap 82% produksi karet nasional. Sementara itu, sebanyak 60% hasil produksinya diekspor ke negara lain.

Dalam Inpres itu, beberapa poin yang akan diusung yakni untuk meningkatkan industri ban. Selain itu, Inpres tersebut juga mengandung beberapa hal terkait upaya untuk mendukung peningkatan penggunaan karet dalam proyek infrastuktur nasional. Tujuan akhirnya, Inpres tersebut diharapkan dapat menerek naik permintaan dan harga karet nasional.

Bisnis Indonesia, 05/09/2016

----------------------------------

Pemangkasan Ekspor Berlanjut, Karet Ditutup Menguat 0,76%

Harga karet ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Senin (5/9/2016) menyusul kesepakatan pembatasan ekspor.

Harga karet untuk pengiriman Februari 2017, kontrak teraktif di Tokyo Commodity Exchange, menguat menguat 0,76% atau 1,20 poin ke 158,30 yen per kilogram (kg).

Sebelumnya, pergerakan harga karet dibuka naik 0,19% atau 0,30 poin di posisi 157,40.

Di sisi lain, nilai tukar yen hari ini dibuka melemah 0,13% atau 0,14 poin ke 104,08 per dolar AS meski kemudian berbalik menguat tipis 0,02% atau 0,02 poin ke posisi 103,92.

Seperti dilansir Bloomberg hari ini, International Rubber Consortium sepakat untuk melanjutkan pemangkasan ekspor sebanyak 85.000 ton tahun ini.

“Kelanjutan pembatasan ekspor memberikan sentimen positif pada harga karet,” ujar Masayo Kondo dari trader komoditas Commodity Intelligence, seperti dikutip Bloomberg, Senin (5/9/2016).

Sementara itu, nilai tukar yen terpantau menguat 0,45 poin atau 0,43% ke posisi 103,47 yen per dolar AS pada pukul 13.58 WIB.

Bisnis.com, 05/08/2016

-------------------------

Musim Hujan Kendurkan Harga Karet

Setelah berhasil menguat pada empat hari terakhir, kini harga karet berjangka menembus harga terendah dalam tiga minggu terakhir karena musim hujan yang menurunkan kualitas karet.

Pergerakan harga karet berjangka untuk pengiriman Februari 2017, pada kontrak teraktif di Tokyo Commodity Exchange, terpantau melemah hingga 2,3 poin atau 1,45% pada perdagangan Selasa (6/9) menjadi 156,1 yen (US$1,51) per kilogram. Adapun pergerakan harga karet sempat dibuka pada posisi 158,50 yen per kg.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim menuturkan negara penghasil karet seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam saat ini sedang masuk musim pancaroba dan penghujan. Musim penghujan membuat hasil panen karet tidak sebagus biasanya.

Alasannya, air hujan menurunkan kualitas karet saat menderes (menyadap) dilakukan. Ketika musim hujan datang, katanya, komoditas karet, kakao dan gandum pun akan mengalami penurunan harga.

Selain musim, sentimen lain yang berpengaruh pada harga karet yakni indeks dolar yang sempat menguat, karena rencana the Fed untuk menaikkan suku bunga acuan. Namun, rencana penaikan Fed Fund Rate (FFR) terhadap karena data AS yang kurang baik dari target yang ditetapkan.

Pengetatan harga karet belakangan ini juga disebabkan oleh rencana bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) yang berencana menggelontorkan stimulus untuk melemahkan nilai tukar yen terhadap dolar. Bila yen mengalami pelemahan, katanya, komoditas yang berada di bursa Jepang akan mengalami peningkatan.

Nilai tukar yen memperpanjang pelemahannya menyusul pernyataan Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda yang terus menunjukkan kesiapannya untuk mengeluarkan kebijakan moneter lebih lanjut.

“Investor menahan posisi mereka setelah penguatan beberapa hari terakhir,” ujar Korakod Kittipol, marketing manager Thai Hua Rubber, seperti dilansir Bloomberg.

Dia melanjutkan, pelemahan harga karet tertahan menyusul hujan yang terus berlanjut di Thailand sehingga mengurangi aktivitas penyadapan. Seperti dilansir Bloomberg, Otoritas Karet Thailand menyatakan pada senin bahwa hujan yang tersebar di Thailand mencapai 40% di kawasan selatan dan mengganggu menyadap karet.

Saat ini, harga karet bursa berjangka masih ditentukan Tokyo. Tiga negara penghasil karet, yakni Indonesia, Thailand dan Vietnam pun ingin jadi penentu harga karet  di bursa.berjangka. Ibrahim menurutkan untuk menjadi penentu harga diperlukan kesiapan pasar fisik, tranasksi multilateral dan bilateral atau sistem perdagangan alternatif (SPA).

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (Bappebti), Bachrul Choiri sebelumnya mengungkapkan  harga jaret sempat  dibawah US$ 1, akan tetapi setelah pengaturan dilakukan, maka harga bisa mencapai US$ 1,5 per kg. Saat ini Bappebti tengah mencoba membuat pasar regional karet.

Saat ini, tiga negara penghasil karet di Asia menguasai 80% produksi karet di dunia.

Bisnis Indonesia 07/09/2016

email Cetak PDF