toggle
plus minus gleich
English Indonesian

BERITA KARET MARET-APRIL 2016

  • Dicoret dari DNI, 35 Bidang Usaha Dibebaskan untuk Asing
  • Pengusaha Karet Sebut Paket Kebijakan Jokowi tak Tambah Lapangan Kerja
  • Pengusaha Karet Kalselteng Terancam Punah
  • Industri Crumb Rubber Indonesia Terbuka Untuk Investasi Asing
  • 140 Industri Karet Terancam Gulung Tikar Akibat Paket Kebijakan Pemerintah
  • 2 Kementerian Usul Crumb Rubber Ditangguhkan
  • Pemerintah Tutup Investasi Asing Di Bidang "Crumb Rubber"
  • Wantimpres Sepakati Crumb Rubber Masuk DNI
  • Akibat Sesat Pikir Industri Nasional Jadi Afkir
  • Masukan Gapkindo Dalam Rakortas dengan Menteri Perekonomian
  • Industri Karet Butuh Investasi Pendukung US$ 2 Miliar
  • Harga Karet Berjangka Tokyo Naik Terdongkrak Stimulus Cina
  • Thailand Bersiap-siap untuk Menjual Karet Senilai 10 Miliar Baht
  • Permintaan Karet Dunia Diperkirakan Tumbuh 4% per Tahun
  • Gapkindo Perkirakan Produksi Karet Indonesia 3,1 Juta Ton Tahun 2016
  • Vietnam Setuju Pangkas Ekspor Karet
  • Inilah Dampak Anjloknya Harga Karet
  • Impor Karet India Bulan Februari Merosot Karena Melemahnya Konsumsi
  • Alex Nurdi : Persoalan Anjloknya Harga Karet Perlu Perhatian Bersama
  • Perusahaan Besar Tetap Peluas Kebun Karet di Asia Tenggara
  • Gairahkan Harga Karet, Kementan Rangkul 4 Kementerian
  • Petani Minta Alokasi  Dana  Peremajaan
  • Halcyon Agri dan Sinochem akan Menggabungkan Bisnis Karet Alam
  • Gapkindo Komitmen Dengan Skema AETS

------------------------------------------------------------

Dicoret dari DNI, 35 Bidang Usaha Dibebaskan untuk Asing

Pengusaha asing semakin bebas berinvestasi di Indonesia. Pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi jilid X untuk mendorong investasi. Dalam paket kebijakan ekonomi ini, pemerintah telah merevisi komposisi saham Penanaman Modal Asing (PMA) dalam Daftar Negatif Investasi (DNI).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, dengan adanya revisi ini, maka ada 35 bidang usaha yang telah dikeluarkan dari DNI. Pasalnya, sektor-sektor ini sudah terbuka penuh untuk asing.

"Kalau sudah 100 persen untuk asing, maka dia keluar dari DNI. Termasuk peredaran film, boleh 100 persen," jelas Darmin di Istana Negara,seperti dilansir okezone, Kamis (11/2/2016).

Namun, dalam kesempatan kali ini Darmin tidak menyebutkan seluruhnya. Pasalnya, daftar tersebut terlalu banyak dan memakan waktu. "Saya khawatir nanti malah salah mengutip," jelas dia.

Adapun bidang-bidang usaha, yang sudah tak lagi masuk dalam DNI, antara lain:

  1. Industri crumb rubber;
  2. Cold storage;
  3. Pariwisata seperti restoran, bar, cafe, usaha rekreasi, seni, dan hiburan seperti gelanggang olah raga;
  4. Industri perfilman;
  5. Penyelenggara transaksi perdagangan secara elektronik (market place) yang bernilai Rp100 miliar ke atas;
  6. Pembentukan lembaga pengujian perangkat telekomunikasi;
  7. Pengusahaan jalan tol;
  8. Pengelolaan dan pembuangan sampah yang tidak berbahaya;
  9. Industri bahan baku obat;

 

Katariau.com, 12/02/2016

----------------------------------------------------

Pengusaha Karet Sebut Paket Kebijakan Jokowi tak Tambah Lapangan Kerja

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) menilai Paket Kebijakan Ekonomi X tentang pencabutan daftar negatif investasi industri karet remah yang alasannya untuk menambah tenaga kerja tidak relevan, mengingat pabrik yang ada saat ini kesulitan beroperasi penuh.

"Mengingat industri karet remah tidak bisa beroperasi penuh maka tidak bisa mempekerjakan pekerjanya secara optimal, sehingga dengan menambah investasi baru berakibat mematikan industri yang sudah ada, yang akhirnya tidak menambah peluang lapangan kerja," kata Ketua Gapkindo Moenardji Soedargo di Jakarta, Senin (15/2/2016).

Menurutnya, industri karet remah tidak memerlukan teknologi canggih yang memerlukan rekayasa mesin dari luar ataupun investor asing, sehingga dapat dikerjakan dan dikembangkan oleh pengusaha nasional.

Hal ini, katanya, terbukti jumlah industri karet remah anggota Gapkindo mencapai 140 pabrik tersebar di seluruh sentra produksi karet yang mayoritas merupakan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Sementarajika dilihat dari alasan pemerintah untuk menaikan daya saing pengusaha dalam negeri,dia mengatakan, Gapkindo justru menaruh harapan besar agar pemerintah dalam waktu tidak lama dapat memperbaiki struktur biaya pendanaan/perbankan dalam negeri agar pengusaha karet dapat bersaing dengan pengusaha asing.

"Di luar dari aspek biaya pendanaan dan perbankan, anggota Gapkindo secara umum telah memiliki daya saing yang tak kalah," katanya.

Gapkindo, katanya, berpandangan, pemerintah seharusnya meningkatkan produktivitas dan produksi karet alam di sektor hulu, guna mengisi kesenjanganantara tingkat produksi karet alam dengan kapasitas terpasang pabrik karet remah, sehingga meningkatkan efisiensi dan daya saing nasional.

"Revisi dengan membuka DNI industri karet remah saat ini bukanlah solusi tepat bahkan kami menilai diperlukan pembekuan pandirian pabrik karet remah yang baru," kata Soedargo.

Dikatakan, pihaknya lebih mendukung apabila pemerintah membuka ruang investasi sektor hilir perkaretan yang akan memperkuat struktur integral industri perkaretan secara menyeluruh.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Azis Pane mengatakan, dengan dicabutnya DNI maka penanaman modal asing (PMA) akan bebas masuk baik investasi baru maupun mengakuisisi pabrik karet remah yang ada.

Hal ini, katanya, akan berpeluang menimbulkan formasi pasar ologopoli regional seiring masuknya kekuatan industri karet remah nasional sehingga harga karet petani ditentukan pengusaha besar oligopolistik.

Dengan terjadinya oligopoli regional, tambah Azis, maka tatanan kertjasama yang baik akan rusak dan petani terjepit yang dikhawatirkan petani mengganti tanaman karet dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan.

"Saat ini sudah terjadi banyak petani yang menebang pohon karet karena harga karet yang tak lagi menguntungkan dan ini sangat berbahaya bagi Indonesia yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen karet dunia," katanya.

Teropongsenayan, 15/02/2016

-----------------------------------------------

Pemerintah Buka Keran Bagi Asing Berinvestasi di RI

Pengusaha Karet Kalselteng Terancam Punah

Pengusaha Karet Kalselteng menolak asing masuk berinvestasi di RI. Alasan, kondisi penghasilan karet di Indonesia, khusus Kalimantan Selatan dan Tengah sangat rendah, dalam beberapa tahun terakhir saja harga hanya Rp13 ribu perkilogram dengan 100 % kadar karet kering (K3). Akibatnya, pengusaha karet di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah terancam punah.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Kalimantan Selatan dan Tengah Andreas mengaku, heran dengan sikap pemerintah Indonesia yang membuka keran bagi asing untuk berinvestasi. "Ya, kami tolak kebijakan pemerintah itu. Ya mati lah kami pengusaha karet di daerah," ujar Andreas Winata, Minggu (14/2).

Pengusaha asing sangat siap dengan modal besar, sedang pengusaha lokal saat ini dalam kondisi sulit.Pemerintah tahu persis, sambung dia, devisa terbesar kedua Indonesia setelah migas adalah karet. Penurunan devisa yang tajam terjadi bukan karena pengusaha tidak mampu meningkatkan kinerjanya. Industri crumb rubber ini sudah lesu 5 tahun belakangan karena fundamental kompleks. "Selain minimnya bahan baku, ada lagi pengurangan permintaan dari Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang. Kemudian minyak dunia harganya turun," papar Andreas.

Andreas menanggapi terbitnya Paket Kebijakan Ekonomi X yang diumumkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution pada Kamis, 11 Februari 2016. Dalam kebijakan baru itu, pemerintah mengubah komposisi saham asing menjadi 100 % untuk industri crumb rubber yang semula hanya 49 %.

Pria enerjik ini menyebutkan, pemerintah terburu-buru mengambi keputusan pembukaan investasi asing 100 % bagi industri crumb rubber. Kedatangan investasi asing, menurutnya hanya akan menambah beban terhadap harga karet yang cenderung terus menurun. "Pemerintah seharusnya justru memberikan 'vitamin' bagi industri crumb rubber Indonesia. Industri dalam negeri itu tidak akan bisa bersaing dengan investasi asing yang bunga modal kerjanya 3%, sementara kita 13 %. Bagaimana persaingan mau setara dan sehat? Ini yang kita pertanyakan,?" ujarnya.

Kendati demikian, dia berharap pemerintah masih mau membangun industri crumb rubber domestik. Beberapa upaya yang bisa dilakukan yakni untuk jangka pendek melakukan moraturium penambahan dan kapasitas pabrik. Selain itu, bekerja sama dengan Thailand, Malaysia, dan Vietnam untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan. Untuk jangka panjang yakni hilirisasi.

"Apabila konsumsi dalam negeri masih di bawah 50 %, maka harga karet masih bergantung pada pasar global. Pemerintah seharusnya mengundang PMA untuk industri hilir," kata Andreas.

Kini anggota Gapkindo Kalselteng hanya berjumlah 17, termasuk 2 perusahaan yang tidak beroperasi. Realisasi ekspor karet Kalsel tahun 2010-2015 sebesar 619.000 ton, realisasi penjualan lokal sebanyak 173.993 ton, dan realisasi produksi 806.746 ton.

Kemudian realisasi ekspor karet Kalteng tahun 2010-2015 sebanyak 503.623 ton, realisasi penjualan lokal 40.997 ton, dan realisasi produksi 550.846 ton.

Barito Post, 15/02/2016

--------------------------------------------------------------

Industri Crumb Rubber Indonesia Terbuka Untuk Investasi Asing

Industri karet remah atau crumb rubber Indonesia terbuka 100 persen untuk investasi asing pascarevisi Daftar Negatif Investasi (DNI) yang baru diumumkan, kata Menteri Perindustrian Saleh Husin.

"Kami membuka siapa pun untuk melakukan investasi, asing maupun dalam negeri untuk industri crumb rubber, agar serapannya lebih tinggi," kata Menperin Saleh Husin di Jakarta, Selasa.

Pasalnya, pasokan karet yang melimpah belum mampu diserap oleh industri crumb rubber yang ada di dalam negeri. Menurut Saleh, pasokan karet mentah mencapai 3 juta ton per tahun, sementara serapannya baru mencapai 700 ribu ton per tahun.

Penyerapan yang minim membuat harga karet merosot, hingga petani karet enggan menanam kembali karet, yang membuat pasokan karet mentah menjadi sulit.

"Beberapa perusahaan menjadi kesulitan mendapat bahan baku karet," ujar Saleh.

Untuk itu, Saleh menyampaikan, industri crumb rubber lebih terbuka untuk investor dalam maupun luar negeri, agar penyerapan terhadap produksi karet lebih terdongkrak.

Sehingga, lanjutnya, petani kembali menanam dan menyadap karet untuk memenuhi kebutuhan industri crumb rubber nasional.

"Kami ingin petani karet lebih sejahtera. Karena selama ini mereka berhenti menyadap. Jadi, jangan hanya karena kepentingan segelintir pengusaha saja," ujar Saleh.

Antaranews.com, 16/02/2016

-----------------------------------------

140 Industri Karet Terancam Gulung Tikar Akibat Paket Kebijakan Pemerintah

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) khawatir dengan paket kebijakan ekonomi pemerintah ke sepuluh. Paket kebijakan yang diumumkan beberapa waktu lalu itu dinilai berpotensi mengancam keberadaan industri karet dalam negeri. Tercatat ada 140 industri karet yang berpotensi gulung tikar bila harus bersaing dengan asing.

Selain itu, total kapasitas produksi industri crumb rubber tersebut 5,2 juta ton per tahun. Sementara rata-rata pasokan bahan baku karet dalam negeri cuma 3,2 juta ton per tahun. Dicabutnya Daftar Negatif Investasi (DNI) untuk Penanaman Modal Asing (PMA) bagi industri karet menimbulkan ketimpangan ketersediaan bahan baku.

Selain itu, asing berpotensi mengakuisisi pabrik-pabrik karet yang sudah ada. Hal itu berpeluang menimbulkan formasi pasar oligopoli regional. Di mana harga karet akan ditentukan para pengusaha besar oligopolistik tersebut.

Gapkindo menilai, seharusnya pemerintah membuka ruang investasi di sektor hilir perkaretan yang memperkuat struktur integral industri secara holistik ketimbang menambah jumlah industri crumb rubber yang sudah kelebihan kapasitas saat ini.

Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo mengatakan, industri karet yang sudah ada saat ini kesulitan beroperasi penuh lantaran kekurangan bahan baku. Harga karet yang rendah membuat petani enggan menyadap karet.

"Bahkan yang mengkhawatirkan di sejumlah sentra produksi karet terjadi penembangan pohon karet secara masif," ujarnya, Rabu (17/2).

Upaya pemerintah menambahkan investasi baru berakit mematikan industri karet yang sudah ada. Ia bilang yang dibutuhkan industri dalam negeri adalah perbaikan struktur biaya pendanaan dari perbankan.

Ketua Petani Asosiasi Karet Indonesia (Apkarindo) Lukman Zakaria menambahkan kerjasama petani karet dengan industri karet selama ini sudah berjalan lancar. Ia mendesak agar pemerintah lebih fokus mengembangkan industri hilir, guna meningkatkan penyerapan karet dalam negeri agar harga karet petani bisa naik.

Ketua Dewan Karet Azis Pane bilang, dicabutnya DNI untuk PMA di industri karet akan memperkokoh posisi Thailand sebagai produsen karet nomor satu di dunia. "Kalau mau mengundang investor harusnya untuk industri pendukung karet bukan industri karet," terangnya.

Tribunnews, 17/02/2016

----------------------------------------------

Daftar Negatif Investasi

2 Kementerian Usul Crumb Rubber Ditangguhkan

Dewan Karet Indonesia menyatakan Kemenperin dan Kemendag telah mengajukan penangguhan pembukaan investasi asing pada industri crumb rubber kepada Kemenko Bidang Perekonomian.

Azis Pane, ketua Dewan Karet Indonesia, mengatakan pemerintah telah menyadari terjadi kesalahan penilaian ketika menetapkan industri crumb rubber akan dibuka 100 % untuk asing. Untuk itu kebijakan itu akan segera direvisi.

“BKPM juga sudah menyadari ada kesalahan. Sebelumnya, pemerintah pikir serapan karet alam ke petani kurang, sehingga harga turun, padahal yang kurang adalah serapan ke industri crumb rubber dari hilir domestik. Maka yang harus dibuka adalah hilir,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (10/3).

Menurutnya, saat ini industri crumb rubber justru kekurangan bahan baku dari petani. Adapun serapan yang minim dari sektor hilir domestik ke industri hulu seperti crumb rubber  akibat industri menengah atau intermediate belum tumbuh di dalam negeri.

Di sisi lain, kebijakan pengusaha karet Indonesia, Thailand dan malaysia mengurangi pasokan karet ke pasar internasional sebesar 616.000 ton pada tahun ini secara efektif menaikkan harga komoditas. Program aspal karet dan  dock fender  domestik juga menyebabkan peningkatan harga.

“Ini bagus. Program penghiliran karet sudah dimulai sehingga harga karet dunia naik. Selanjutnya pemerintah harus tarik sebanyak mungkin industri hulu kimia dan intermediate untuk mendukung hilir, karena jika tidak, hilir akan impor bahan baku penunjang,” tuturnya.

Moenardji Soedargo, Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), mengatakan kapasits produksi crumb rubber nasional saat ini mencapai 5 juta ton, sementara produksi karet petani hanya 3,2 juta ton per tahun.

“Kapasitas produksi crumb rubber sudah lebih dari cukup, tak perlu dibuka dari daftar negatif investasi. Sepertinya ada kesalahan , mungkin yang diinginkan pemerintah adalah industri hilir untuk asing, sementara crumb rubber di sektor hulu,” ujarnya.

Kelemahan struktur industri karet nasional, menurutnya, berada di sektor hilir, di mana serapan karet domestik hanya 600.000 ton per tahun, sementara sisanya 2,6 juta ton diekspor dalam bentuk crumb rubber dengan pasar terbesar ke Amerika Serikat, China dan Jepang.

Kelebihan Pasok

Selain  itu, kelebihan pasokan karet alam dunia menyebabkan harga komoditas semakin terpuruk dan akhirnya merugikan petani. Oleh karena itu, sebagai produsen terbesar kedua dunia setelah Thailand, Indonesia harus melakukan penghiliran di dalam negeri untuk menaikkan harga komoditas.

Adapun salah satu kesepakatan yang dicapai bersama dengan International Tripartite Rubber Council (ITRC) atau dewan karet internasional adalah menjalankan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) yakni memangkas ekspor karet 2016 untuk memperbaiki harga.

Dari tiga produsen karet terbesar dunia, Indonesia mendapatkan kuota pengurangan ekspor 240.000 ton selama April-September. Jika dijumlah dengan Thailand dan Malaysia pada periode tersebut berkurang 616.000 ton.

Kebijakan yang diputuskan dan diumumkan pada bulan lalu, lanjutnya, kini telah mengangkat harga karet sebesar US$ 300 per metrik ton, padahal pemangkasan ekspor baru berjalan efektik pada bulan depan.

“Akibat industri crumb rubber dibuka dari DNI, sejumlah pihak asing yang berminat masuk ke industri ini, terindikasi hanya ingin mendapatkan keuntungan tanpa memedulikan petani. Padahal, selama ini kami menjaga agar petani tidak mengganti pohon karet dengan yang lain,” ujarnya.

Panggah Susanto, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, mengatakan Kemenperin masih bersikap tidak perlu mengeluarkan industri crumb rubber dari DNI. Pasalnya, kondisi kekurangan bahan baku karet alam telah terjadi sejak 2014.

Adapun upaya untuk menaikkan harga karet alam selain mengandalkan pemangkasan ekspor karet pada tahun ini, pemerintah akan menyerap karet alam untuk proyek infrastruktur, utamanya pada aspal karet.

“Kebutuhan karet alam untuk aspal karet berdasarkan rapat tingkat menteri sekitar 200.000 – 250.000 ton per tahun, jumlah ini hampir sama dengan volume pemangkasan ekspor. Harapannya program ini  segera berjalan sehingga kuota pemangkasan ekspor dapat diserap domestik,” tuturnya.

Kendati demikian, lanjutnya, jumlah industri aspal karet nasional masih sangat terbatas. Pasalnya, konsumen dari aspal karet hanya pemerintah. Jika pemerintah mengeluarkan landasan hukum kuat seperti peraturan presiden untuk penggunaan aspal karet, industri dalam negeri siap berinvestasi.

Sebagai langkah awal, pada tahun ini Kemenperin akan membangun pabrik skala kecil untuk percobaan pembuatan aspal karet. Kendati teknologi yang digunakan relatif sederhana, dibutuhkan uji coba untuk produksi aspal karet dalam jumlah besar.

Moenardji mengatakan sejumlah anggota Gapkindo berminat berinvestasi pada industri aspal karet dengan syarat pemerintah mengeluarkan landasan hukum program karet untuk infrastruktur berjalan terus menerus.

Bisnis Indonesia, 11/03/2016

-----------------------------------

Pemerintah Tutup Investasi Asing Di Bidang "Crumb Rubber"

Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menutup investasi asing bidang industri crumb rubber atau karet remah dan kembali memasukkannya dalam Daftar Negatif Investasi (DNI). "Sudah diputuskan, sudah bulat," kata Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto saat ditemui, Senin (21/3/2016).

Panggah mengatakan keputusan tersebut diambil saat pihak-pihak terkait, yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Badan Koordinasi Penanaman Modal dan beberapa asosiasi menggelar rapat bersama Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Menurut Panggah, dalam rapat yang digelar Senin (21/3/2016) pagi tersebut, seluruh pihak menyepakati bahwa investasi asing untuk industri crumb rubber tidak perlu dibuka untuk pihak asing.

Diketahui, pada paket kebijakan jilid 10, pemerintah berencana mengeluarkan industri crumb rubber dari DNI yang ditetapkan pada Peraturan Presiden No. 39/2014, sehingga penanaman modal asing (PMA) di industri ini terbuka 100%.

Setelah menjadi Rencana Revisi Perpres No. 39/2014, wacana tersebut menuai banyak masukan, baik dari kalangan pengusaha, asosiasi maupun kajian Kemenperin.

Dengan demikian, lanjut Panggah, pihak Kemenperin mengkoordinasikan hal tersebut kepada Menko Perekonomian Darmin Nasution, yang pada akhirnya diputuskan melalui rapat dengan Wantimpres.

Dengan demikian, pada Perpres hasil revisi yang akan dikeluarkan, aturan investasi untuk industri crumb rubber akan mengikuti aturan sebelumnya.

"Syaratnya masih sama, yaitu, selain membutuhkan rekomendasi (investasi crumb rubber) Kementan, PMA itu kita tutup dan tidak boleh ada pengalihan PMDN ke PMA," ujar Panggah.

Bisnis.com, 21/03/2016

-------------------------------------------

Wantimpres Sepakati Crumb Rubber Masuk DNI

Sejumlah kementerian, pelaku usaha, dan petani karet di bawah koordinasi Dewan Pertimbangan Presiden menyepakati secara bulat investasi crumb rubber tetap masuk dalam daftar negative investasi untuk asing.

Sri Adiningsih, Ketua Wantimpres, mengatakan hasil diskusi menyepakati DNI crumb rubber belum saatnya dicabut, karena saat ini terjadi akses kapasitas industry crumb rubber dalam negeri.

“Kapasitas terpakai hanya 60% pada saat ini, sehingga belum perlu investasi baru di industri crumb rubber pada saat ini,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (21/3).

Panggah Susanto, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, mengatakan tingkat utilisasi industri crumb rubber dalam negeri pada tahun lalu hanya 62% dari kapasitas produksi 5,2 juta ton per tahun, sementara pasokan karet petani hanya 3,2 juta ton.

“Gagasan utama dari diumumkannya crumb rubber terbuka untuk asing adalah serapan karet petani yang rendah, padahal serapan rendah akibat permintaan global yang anjlok dan harga yang turun. Yang harus ditingkatkan adalah penghiliran di dalam negeri,” ujarnya.

Berdasarkan pemetaan, lanjutnya, pada tahun lalu industri crumb rubber di Sumatra kekurangan bahan baku 1,6juta ton, Jawa kekurangan 76.000 ton, Kalimantan kekurangan 349.000 ton, dan secara total ditambah dengan Sulawesi, Bali dan Maluku deficit pasokan mencapai 1,96 juta ton.

Pembukaan investasi untuk asing pada industry crumb rubber dapat merusak iklim usaha di sektor karet. Pasalnya, perebutan pasokan bahan baku yang sangat ketat dapat menurunkan kualitas barang yang dihasilkan.

Untuk itu, lanjutnya, rapat koordinasi yang dipimpin oleh Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih menyepakati industry crumb rubber tetap berada dalam daftar negatifinvestasi untuk asing.

Selain itu, seluruh persyaratan untuk investasi crumb rubber yang tercantum dalam Perpres No. 39/2014 tentang Daftar Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan tetap berlaku.

Adapun sejumlah syarat pada investasi sektor ini, seperti penanaman modal dalam negeri yang akan berinvestasi pada industry crumb rubber harus mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian terkait dengan kepastian pasokan bahan baku.

Kemudian, seluruh perusahaan crumb rubber penanaman modal dalam negeri (PMDN) tidak boleh beralih menjadi penanaman modal asing. Tujuan dari syarat ini agar pemerintah dapat mengontrol secara penuh konstelasi karet alam di dalam negeri.

Kesepakatan

Kesepakatan rapat yang dihadiri oleh Kemenperin, BKPM, Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, asosiasi pelaku usaha, petani karet dan lainnya ini akan ditindaklanjuti secara khusus oleh Kemenko Bidang Perekonomian, mengingat pembukaan DNI crumb rubber terlanjur diumumkan dalam Paket Kebijakan Ekonomi X.

Solusi berikutnya yang disepakati dalam rapat tersebut, lanjutnya, meningkatkan campuran karet dalam aspal untuk infrastruktur sekitar 5%-10% untuk memperbaiki sifat-sifat aspal. Dengan demikian, kualitas aspal yang digunakan lebih baik.

Berdasarkan perhitungan, pada tahun ini dibutuhkan sekitar 200.000 ton – 250.000 ton karet untuk campuran aspal. Selain itu, pemerintah juga akan mengutamakan penggunaan dock fender hasil produksi dalam negeri untuk sejumlah pelabuhan.

“Saat ini ada lima industry dock fender di dalam negeri, ini yang akan dioptimalkan. Selain itu, penggunaan karet juga akan dioptimalkan pada bantalan rel kereta api, proyek bendungan dan lainnya,” katanya.

Saatini, lanjutnya, kesepakatan yang dicapai bersama dengan International Tripartite Rubber Council (ITRC) atau dewan karet internasional dengan menjalankan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) yakni memangkas ekspor karet 2016 telah memperbaiki harga.

Dari tiga produsen karet terbesar dunia, Indonesia mendapatkan kuota pengurangan ekspor 240.000 ton selama April-Agustus. Jika dijumlah dengan Thailand dan Malaysia, total pasukan karet alam dunia pada periode tersebut dipotong 616.000 ton.

Azis Pane, Ketua Dewan Karet Indonesia, mengatakan Ketua Wantimpres Sri Adiningsih menyatakan akan membawa kesepakatan kepada penyusunan draf revisi daftar negatif investasi. Dengan demikian, perpres revisi DNI yang akan dikeluarkan tetap menutup crumb rubber untuk asing.

“Ibu Sri Adiningsih berjanji akan meneruskan kesepakatan ini ke pemerintah. Walaupun sudah diumumkan terbuka untuk asing, itu belum final. Dalam rapat para petani mempertanyakan crumb rubber dibuka untuk asing, padahal tidak menggunakan teknologi tinggi,” tuturnya.

Bisnis Indonesia, 22/03/2016

----------------------------------------------

Akibat Sesat Pikir Industri Nasional Jadi Afkir

Pemerintah mengeluarkan industri karet remah alias crumb rubber dari daftar negatif investasi (DNI). Beleid ini menjadi salah satu bagian penting dari Paket Kebijakan Ekonomi X yang digulirkan 11 Februari silam.

Padahal, sebelumnya industri jenis ini masuk dalam DNI sebagaimana diatur dalam Perpres Nomor 39 tahun 2014. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, dibukanya investasi asing untuk industri crumb rubber dimaksudkan agar serapan karet alam lebih tinggi.

Alasannya, pasokan karet yang melimpah belum mampu diserap oleh industri crumb rubber yang ada di dalam negeri.

Pasokan karet mentah, masih menurut Saleh, mencapai 3 juta ton per tahun. Sementara serapannya baru mencapai 700 ribu ton per tahun. Saleh juga beralasan, dikeluarkannya industri crumb rubber dari DNI untuk menyerap tenaga kerja lebih besar lagi.

Mencermati beleid ini, rasanya kok gimanaaa..., gitu. Terlebih lagi menyimak alasan yang dikemukakan Menperind, sungguh jadi miris dan getir.

Saya tidak tahu persis, siapa di belakang lahirnya peraturan ini. Saya juga tidak tahu, siapa pembisik Saleh Husin tentang angka-angka karet yang disodorkannya kepada publik.

Malu bertanya sesat di jalan. Pepatah klasik ini sudah akrab di telinga kita sejak masih kanak-kanak. Pesan penting dari pepatah ini adalah, kalau mau paham baiknya memang bertanya.

Tempat bertanya yang paling tepat, tentu saja, kepada pihak yang ahli, paham, dan atau tahu.

Nah, pada konteks karet, pihak yang bisa dianggap ahli, paham, dan atau tahu adalah Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) dan Dewan Karet Indonesia (Dekarindo).

Mereka punya angka yang sama sekali berbeda dengan yang keluar dari kantong Saleh Husin.

Menurut versi Gapkindo, sepanjang 2015 produksi karet di dalam negeri mencapai 3,15 juta ton. Padahal, Indonesia punya 140 pabrik crumb rubber dengan kapasitas produksi mencapai 5,2 juta ton/tahun.

Artinya, ada kekurangan pasok sekitar 2,2 juta ton. Itulah sebabnya ke-140 pabrik itu hanya bekerja sekitar 60-70% dari kapasitas produksi mereka.

Sekadar informasi saja, sebagian besar karet remah nasional diekspor. Angkanya mencapai 2,6 juta ton. Sisanya yang 600.000 ton diserap di dalam negeri. Nah, sepertinya angka inilah yang secara salah dikutip Saleh Husin.

Lalu, dengan cerobohnya Menteri itu menyatakan, serapan karet mentah industri di dalam negeri hanya 700.000 ton dari produksi yang mencapai 3 juta ton.

Cuma saran, ada baiknya sebagai Menteri Perindustrian, Saleh belajar tentang pohon industri karet. Karet alam yang tidak bisa ujug-ujug dilempar ke pabrikan produsen barang  jadi karet.

Sebelum itu ada industri antara. Mereka itulah industri crumb rubber. Nah, crumb rubber itulah yang kemudian diserap industri barang jadi karet di dalam negeri.

Hasilnya, ada ban mobil/motor/sepeda, conveyor, alas kaki, dan lainnya.Jadi, kalau Saleh Husin menyatakan serapan industri nasional terhadap karet alam sangat rendah, jelas keliru.

Faktanya, 140 industri crumb rubber anggota Gapkindo saat ini justru mengalami idle capacity sekitar 30-40%. Penyebabnya, pasok karet alam dari rakyat justru sangat terbatas, hanya 3 juta ton. Padahal, kapasitas produksi 140 pabrikan itu mencapai 5,2 juta ton.

Dengan fakta seperti ini, semestinya pemerintah terlebih dahulu meningkatkan produksi di industri hulu agar kapasitas yang sudah ada bisa dimanfaatkan.

Idealnya, industri bisa beroperasi sekitar 90% dari kapasitas terpasang untuk bisa efisien.Kalau pun ada niat melepas industri karet dari DNI, maka yang dibuka bukanlah industri  crumb rubber yang berada di sektor hulu.

Melainkan yang harus dilepaskan adalah industri hilir, yaitu pabrikan ban dan barang jadi karet lainnya. Pasanya, pasokan karet remah nasional berlimpah.

Dengan begitu, Indonesia tidak perlu repot-repot mengekspor sebagian besar crumb rubber-nya, karena daya serap industri dalam negeri sudah meningkat.

Bagaimana sebetulnya kondisi pabrikan crumb rubber kita? Petani kerap memasok karet yang belum dibersihkan dengan baik. Akibatnya, pekerjaan pabrik pengolahan karet alam dalam negeri menjadi lebih panjang ketimbang industri serupa di Malaysia atau Thailand.

Hal ini pula yang menyebabkan pabrik pengolahan karet Indonesia paling tidak efisien. Bisa dibayangkan, kalau negara lain dibiarkan membuka industri karet remah di sini, hampir bisa dipastikan industri nasional akan terkapar.

Mereka jelas kalah bersaing. Selain proses kerja yang lebih panjang tadi, juga karena mereka terbebani bunga bank yang mencekik.

Sudah bukan rahasia lagi bila bunga bank kita termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara, bahkan di dunia.

Alasan pencabutan industri karet remah dari DNI untuk menambah tenaga kerja, juga tidak relevan. Lha wong faktanya pabrik yang ada saat ini saja kesulitan beroperasi penuh karena ketiadaan bahan baku.

Bagaimana mungkin menyerap tenaga kerja tambahan, tenaga kerja yang ada saja tidak optimal.Pada saat yang sama, menambah investasi baru berasal dari luar negeri, akan mematikan industri lokal yang sudah ada.

Kalau sudah begini, jangankan menyerap tenaga kerja baru, yang terjadi justru banyak kena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Industri karet remah tidak memerlukan teknologi canggih yang memerlukan rekayasa mesin dari luar ataupun investor asing. Sejauh ini semuanya dapat dikerjakan dan dikembangkan pengusaha nasional. Itulah yang menjelaskan mengapa mayoritas industri crumb rubber anggota Gapkindo yang tersebar di seluruh sentra produksi adalah penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Sedangkan terkait peningkatan daya saing industri nasional, persoalan utama yang dihadapi pengusaha adalah mahalnya biaya dana.

Akan jauh lebih bermanfaat bila pemerintah segera membantu memperbaiki struktur biaya pendanaan/perbankan dalam negeri. Dengan cara ini, bukan hanya industri karet tapi juga dunia usaha secara umum akan lebih mampu bersaing saat berhadapan dengan pengusaha asing.

Saya juga menilai pemerintah tidak bijak dengan beleidnya kali ini. Dengan dicabutnya industri ini dari DNI, dapat dipastikan penanaman modal asing (PMA) akan membanjiri Indonesia.

Dengan modal yang besar dan murah, mereka bebas membangun investasi baru atau mengakuisisi pabrik karet remah yang ada. Ngeri, membayangkan bakal porak-porandanya industri crumb rubber nasional.

Ujung-ujungnya, Indonesia sebagai penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand pun akan tersungkur. Padahal, asal tahu saja, sebagian besar karet alam Indonesia dihasilkan oleh petani kecil dengan luas lahan tidak seberapa.

Bisa ditebak, nasib petani yang dihimpit hancurnya harga yang berkepanjangan, akan makin terpuruk.Semua bencana itu sejatinya bisa dicegah, kalau saja Pemerintah tidak gegabah dalam menerbitkan beleid.

Sayang sekali, kehati-hatian dan keberpihakan pada merah putih tampaknya sudah jadi barang langka di kalangan pejabat publik kita.

Hasilnya lahirlah kebijakan amburadul yang menyusahkan pengusaha dan petani lokal. Akibat sesat pikir industri nasional jadi afkir.

Tribunnews.com, 24/02/2016

------------------------------------------

Masukan Gapkindo Dalam Rakortas dengan Menteri Perekonomian Membahas Upaya Memperbaiki Pendapatan Petani Karet

Gapkindo adalah Gabungan Perusahaan Karet Indonesia yang berdiri sejak tahun 1971, yang beranggotakan 165 perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan (lateks pekat, RSS dan crumb rubber), pengolahan crumb rubber serta sebagai trader/eksportir.

Saat ini kapasitas pengolahan crumb rubber yang dimiliki anggota Gapkindo mencapai 5,2 juta ton, sedangkan bahan baku karet hasil perkebunan yang tersedia hanya sebesar 3,2 juta ton. Dari aspek penyerapan maka dapat disimpulkan seluruh produksi karet petani terserap habis oleh Industri crumb rubber.

Adapun produk yang dihasilkan dari anggota Gapkindo tersalurkan kepada 2 segmen pasar yaitu:

  • Sekitar 600.000 ton disalurkan ke industri hilir dalam negeri seperti pabrik ban, vulkanisir ban, otomotif part maupun industri alat kesehatan, dll
  • 2.600.000 ton diekspor ke perusahaan barang jadi karet yang tersebar di 89 negara tujuan.
  • Pergerakan harga karet sejak tahun 2011 - 2015 mengalami penurunan yang cukup besar yaitu dari rata-rata US$ 4.60/kg di tahun 2011, menjadi US$ 1,40/kg ditahun 2015 dan diawal tahun 2016 terus mengalami penurunan dan mencapai US$ 1,04 /kg di akhir Januari 2016. Sehingga devisa yang diterima dari US$ 11.7 miliar di tahun
  • 2011 menjadi US$ 3.9 miliar ditahun 2015.

Penyebab utama adalah :

  • Over supply dimana dengan harga karet yang baik sejak tahun 2008, banyak negara di Asean membuka areal baru (new planting) untuk tanaman karet dan akibatnya pertumbuhan produksi lebih tinggi dari pertumbuhan konsumsi.
  • penurunan harga minyak sebagai bahan baku karet sintetik mengalami penurunan yang kuat,
  • melemahnya pertumbuhan ekonomi negara-negara besar seperti China, Amerika dan Uni Eropa.

Atas menurunnya harga karet tersebut tiga negara ITRC secara intensif sejak pertengahan tahun 2015 melakukan pembahasan untuk menentukan langkah langkah kerja sama yang dapat memperbaiki harga karet.

Program perbaikan harga karet Indonesia dalam kerangka ITRC

(Thailand, Indonesia dan Malaysia), dalam upaya meningkatkan harga ada 3 langkah yang ditempuh ITRC saat ini yaitu:

1. SMS (Supply Management Scheme)

  • Pertumbuhan produksi ditingkat hulu (Petani/Perkebunan) "terukur per tahunnya"
  • Rl tidak bisa seenaknya tingkatkan produksinya
  • Rl Sudah saling komit dengan Thai dan Malaysia

2. AETS (Agreed Export Tonnage Scheme)

  • Bila dipandang perlu, ITRC terapkan AETS yaitu export cut back
  • Sejak berdirinya ITRC di tahun 2001. Selama 15 tahun telah dilaksanakan 4 X AETS (2002, 2009, 2012 dan 2016).
  • Dampaknya harga karet dapat ditingkatkan
  • Di Thai dan Malaysia, cut back ditanggung pemerintah
  • Di Indonesia, cut back ditanggung anggota Gapkindo, tidak ada APBN
  • Untuk tahun 2016, AETS dilakukan untuk 6 bulan yaitu mulal 1 Maret 2016-31 Agustus 2016.

Untuk pelaksanaan AETS ini anggota Gapkindo menanggung tambahan bunga untuk menahan stock sbb:

HISTORY AND COST FOR AETS IMPLEMENTATION

Phase

Meeting

Implementing

Volume of Reduction

Cost For Bank Interest

AETS

SMS

1

12-Dec-2001

2002 (Full Year)

Reduction : 10%

Allowable : 1,23 juta ton

4% pa

(2002-2003)

2

12-Dec-2008

14th ITRC Meeting

{LJdo, Bogor)

2009 (Full Year)

Ql Red: 116.00 ton

Allowable: 499.459 ton

Q2-Q4:N/A

Thailand ,ndonesia,

Malaysia: full

year 215.000

Rp 213 Miliar

3

29-Aug-2012

(Bandung)

Q4 2012

Q4: Red: 117.306 ton

Allowable: 703.956 ton

Q1 2013

Q l : Red: 70.383,6 ton

Allowable: 569.987

Rp 374 Miliar

4

28-Jan 2016

(Bangkok, Thailand)

2016 01 March to

31 Aug

Reduction:

238.000 ton

Rp 272 Miliar

Tim Bulletin

---------------------------------------

Industri Karet Butuh Investasi Pendukung US$ 2 Miliar

Industri karet olahan membutuhkan investasi hingga US$ 2 miliar (Rp 26,99 triliun) untuk membangun industri pendukung yang mampu menyediakan komponen bahan baku campuran karet alam. Selama ini, industri karet olahan terpaksa mengimpor bahan baku tersebut karena tidak tersedia di Indonesia.

"Industri hilir selalu disalahkan karena mengimpor bahan baku dari luar. Tapi bagaimana bisa kalau industri antaranya saja sampai sekarang belum ada?," kata Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Aziz Pane kepada Investor Daily di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Aziz menjelaskan, dibutuhkan sekitar 15-20 komponen bahan baku pendukung yang akan diolah bersama karet alam untuk memproduksi karet olahan. Sebagian besar komponen pendukung tersebut berupa bahan kimia yang dihasilkan dari industri antara.

"Sebenarnya industri karet olahan sangat mendambakan PT Pertamina untuk membangun industri antara yang memproduksi komponen-komponen kimia sebagai campuran crumb rubber. Pasalnya, investasinya sangat besar, bisa mencapai US$ 1-2 miliar," ujar dia.

Menurut dia, industri pendukung karet tersebut sebenarnya pernah ada di Indonesia. Tetapi hampir semua merelokasi pabrik keluar Indonesia saat krisis tahun 1998.

Aziz mengungkapkan, industri pendukung karet bisa dibangun di Sumatera Selatan. Daerah tersebut dinilai sangat strategis karena merupakan penghasil karet alam terbesar, sekaligus memiliki cadangan batubara dan gas yang cukup.

"Kita bisa undang investor untuk membangun industri kimia pendukung di sana," tutur dia.

Menurut Aziz, idealnya Indonesia harus memiliki industri karet yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. "Diantara hulu dan hilir itu harus ada industri antara, yang selama ini kita belum punya," kata dia.

Menurut dia, ketiadaan industri antara tersebut juga menyebabkan industri karet olahan di hilir susah berkembang karena tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku. Padahal, Indonesia sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia, sudah memiliki modal besar dengan tersedianya karet alam yang berlimpah.

"Kita punya potensi sangat besar untuk mengembangkan industri karet olahan. Dan untuk memaksimalkan keuntungan tersebut, kita harus membangun industri karet terintegrasi, jangan hanya di hulu dan hilirnya saja," jelas Aziz.

Karet Aspal

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah membuat proyek percontohan (pilot project) hilirisasi karet untuk aspal. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan serapan karet di dalam negeri, sekaligus menciptakan nilai tambah komoditas tersebut.

"Kami sudah mencoba skala kecil, tahun ini kita coba skala yang lebih besar. Kami akan bekerja sama dengan balai penelitian karet untuk skala setengah pabrik. Kami sedang membuat pilot plannya," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto baru-baru ini.

Panggah menegaskan pentingnya dilakukan pilot project tersebut. Pasalnya, sebelum masuk ke tahap pemasaran, harus terlebih dahulu disiapkan secara matang teknis produksi maupun produk yang dihasilkan.

"Teknologinya sudah ada, tapi benar-benar perlu dibuktikan dan teruji," ujar dia.

Karena masih dalam tahap pengkajian, menurut Panggah, aspal karet belum bisa banyak berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur pada tahun ini. "Hilirisasi ini juga masih menghadapi kendala, yakni aspal karet harganya lebih mahal 20% dibandingkan aspal biasa. Meski, umur aspal karet berdasarkan penelitian jauh lebih baik, dan lebih mudah secara perawatan," jelas dia.

Selain untuk aspal, terang Panggah, hilirisasi karet juga akan diarahkan untuk digunakan dalam pembuatan bantalan karet di pelabuhan (dock fenders), dan produk lateks. Jika diversifikasi produk-produk tersebut berhasil, penyerapan karet domestik bisa meningkat dari 550 ribu ton per tahun, menjadi 650 ribu ton per tahun.

"Sekarang kan kita produksi 3 juta ton, konsumsi dalam negeri baru 550 ribu ton. Kalau secara teknis aplikasinya bisa dijalankan, penyerapannya akan meningkat," ujar Panggah.

Investor Daily, 22/02/2016

-----------------------------------------------

Harga Karet Berjangka Tokyo Naik Terdongkrak Stimulus Cina

Harga kontrak acuan karet berjangka Tokyo Commodity Exchange (TOCOM) ditutup lebih tinggi pada Selasa menyusul langkah konsumen terbesar China yang memangkas rasio dana cadangan perbankannya dalam upaya untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi yang melambat akhir-akhir ini.

FUNDAMENTAL

Kontrak karet untuk penyerahan Agustus di Tokyo Commodity Exchange JRUc6 0#2JRU naik 0,4 yen atau 0,3% menjadi 155,5 yen (US$1,38) per kg pada jam 0025 GMT setelah turun 0,5 yen sehari sebelumnya.

Bank sentral China mengumumkan langkah pelonggaran ekonomi pada Senin, dengan menyuntikkan dana sekitar US$100 miliar dalam dalam bentuk dana tunai jangka panjang untuk membantu meringankan beban ekonomi akibat pemutusan hubungan kerja dan kebangkrutan industri akibat kelebihan kapasitas.

Jepang mulai meletakkan pondasi  untuk belanja pemerintah yang baru untuk menangkal dampak negatif dari pelemahan konsumsi rumah tangga, dan dapat menjadi contoh bagi negara-negara anggota G-20 dalam melakukan belanja fiskal untuk membantu menopang ekonomi global yang sedang lesu.

WARTA PASAR

Harga minyak mentah naik 3% pada Senin setelah China mengumumkan langkah untuk mendorong perekonomiannya, penurunan produksi minyak mentah OPEC dan Amerika Serikat, dan janji pemerintah Arab Saudi untuk membatasi volatilitas pasar.

Nilai tukar yen menguat di pasar Asia pada Selasa mencapai level tertinggi dalam dua tahun terhadap euro akibat investor yang panik mencari tempat aman dalam bentuk mata uang Jepang, sekalipun China mengambil langkah untuk menstimulasi ekonominya.

Nilai tukar dollar AS bertengger di level 112,34 yen menghapus gain 0,9% yang terjadi pada Jumat.

Rata-rata saham acuan Jepang Nikkei (XC0009692440) turun 0,3% pada perdagangan Selasa setelah Wall Street turun terus hingga penutupan dan saham global kembali jatuh untuk bulan keempat berturut-turut.

Reuters, 01/03/2016

-----------------------------------------

Thailand Bersiap-siap untuk Menjual Karet Senilai 10 Miliar Baht

Thailand kemungkinan akan menjual karet senilai lebih dari 10 miliar baht setelah pemerintah mengundang para pembeli untuk datang ke Bangkok dalam rangka mendorong penjualan dan mendongkrak harga di tengah kondisi pasar yang kelebihan pasok.

Sekitar 150 pembeli asing dari 28 negara hadir dalam pertemuan pada Senin yang diselenggarakan oleh pemerintah guna mempertemukan pembeli dan penjual, tutur Menteri Perdagangan Apiradi Tantraporn.

Meningkatnya permintaan akan membantu menaikkan harga karet di pasar lokal, kata Apiradi.

Thailand berupaya mendongkrak penjualan karet setelah harga jatuh mencapai level terendah dalam hampir tujuh tahun pada Januari menyusul melemahnya permintaan konsumen karet terbesar China akibat perlambatan ekonomi di negara tersebut. Bersama Indonesia dan Malaysia, pada bukan ini Thailand menyepakati pemangkasan ekspor karet alam. Thailand juga sudah sepakat untuk membeli karet dari petani pada harga di atas harga pasar.

“Program pengurangan ekspor bersamaan dengan memperketat pasokan selama musim rendah produksi akan membantu menopang harga hingga musim penyadapan tiba kembali,” kata Chaiyos Sincharoenkul, presiden Thai Rubber Association.

Pertemuan Bangkok juga dapat mendorong investasi, termasuk di industri ban mobil dan dapat memacu industri yang menghasilkan produk-produk olahan, tuturnya.

Harga ekspor karet Thailand naik 7,5% tahun ini, bangkit dari penurunan berturut-turut selama lima tahun hingga 2015. Harga karet di Tokyo dan Shanghai turun 2,5% tahun ini.

Bloomberg, 02/03/2016

------------------------------------------

Permintaan Karet Dunia Diperkirakan Tumbuh 4% per Tahun

Permintaan karet dunia diperkirakan naik 3,9% per tahun menjadi 31,7 juta ton pada tahun 2019, ungkap sebuah laporan terkini oleh perusahaan riset pasar berbasis di Cleveland, Ohio,  Amerika Serikat, Freedonia Group.

Menurut laporan tersebut, peningkatan permintaan karet akan dipicu oleh meningkatnya industri manufaktur ban yang mewakili pengguna karet terbesar.

Meningkatnya tingkat pendapatan  di kawasan yang sedang berkembang, terutama di kawasan Asia Pasifik, akan mendongkrak peningkatan permntaan kendaraan bermotor, memacu permintaan ban dan pada gilirannya akan mendorong permintaan karet.

“Pertumbuhan aktivitas manufaktur juga akan mendukung peningkatan permintaan karet di sektor penggunaan non-ban seperti komponen otomotif, produk karet industri, produk medis, dan alas kaki,” kata analis Elliot Woo.

Permintaan Karet Dunia (dalam ribuan ton)

2009

2014

2019

Pertumbuhan Tahunan (%)

2009

2014

Permintaan Dunia

20,672

26,150

31,650

4.8

3.9

Amerika Utara

2,577

3,395

3,825

5.7

2.4

Eropa Barat

2,205

2,510

2,630

2.6

0.9

Asia Pasifik

12,760

16,320

20,660

5.0

4.8

Amerika Tengah & Selatan

1,050

1,265

1,500

3.8

3.5

Eropa Timur

1,425

1,875

2,100

5.6

2.3

Afrika (Timteng)

655

765

945

3.7

3.8

Laporan itu juga memproyeksikan bahwa kawasan Asia Pasifik akan membukukan pertumbuhan konsumsi karet tertinggi hingga 2019 dan akan mengkonsumsi hampir dua pertiga permintaan global pada tahun itu.

“Hingga 2019, enam dari tujuh negara di dunia dengan pertumbuhan pasar karet tercepat di dunia akan berada di kawasan Asia Pasifik, dimana Iran menjadi negara nomor tujuh,” ungkap laporan tersebut.

Indonesia, India dan Thailand diperkirakan akan memperlihatkan pertumbuhan tercepat, sementara permintaan karet di China, Malaysia dan Vietnam juga akan memperlihatkan peningkatan yang cepat terdorong oleh aktivitas manufaktur mereka.

China, tutur laporan itu, masih akan menjadi pasar karet terbesar dunia yang menguasai lebih dari setengah konsumsi karet di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2019.

Permintaan karet di kawasan Amerika Tengah dan Selatan serta Afrika dan Timur Tengah juga diperkirakan mengalami kenaikan cukup signifikan terdongkrak oleh pertumbuhan industri ban di kawasan tersebut.

Namun demikian, permintaan karet di Amerika Utara dan Eropa akan berada di bawah rata-rata hingga 2019, mengingat perekonomian yang sudah mapan di kawasan tersebut akan menahan pertumbuhan industri manufaktur yang mengkonsumsi karet.

Eropa Barat diperkirakan akan membukukan pertumbuhan permintaan karet paling kecil hingga 2019.

Industri ban di kawasan tersebut telah mengalami penurunan akibat berpindahnya kegiatan operasi perusaahan produsen ban Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia. Penutupan fasilitas manufaktur ban secara permanen di Eropa Barat  akan membatasi kemampuan pasar karet negara-negara Eropa Barat untuk melakukan pemulihan pasca perlambatan ekonomi dewasa ini.

Freedonia Group, 03/03/2016

--------------------------------------------

Gapkindo Perkirakan Produksi Karet Indonesia 3,1 Juta Ton Tahun 2016

Produksi karet Indonesia tahun 2016 diperkirakan mencapai 3,1 juta ton, sedikit turun dibandingkan dengan tahun 2015, kata Moenardji Soedargo, ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) kepada wartawan, Jumat.

Produksi negara produsen karet terbesar kedua dunia itu diperkirakan akan terpengaruh oleh musin kering yang panjang yang terjadi pada semester kedua tahun 2015, kata Moenardji, namun dia memperkirakan gangguan  cuaca tidak akan terjadi di tahun 2016.

Pada bulan Oktober tahun 2015 Moenardji memperkirakan produksi tahun 2015 sebesar 3,2 juta ton.

“Musim hujan sudah dimulai sejak awal tahun dan tidak ada lagi kebakaran hutan. Jadi, situasi sudah kembali normal karena pohon karet tidak sesensitif jenis pohon lainnya,” tuturnya.

Reuters, 04/03/2016

---------------------------------

Produsen Karet Asean Pangkas Ekspor

Vietnam Setuju Pangkas Ekspor Karet

Harga karet dunia diperkirakan akan pulih tahun ini setelah Vietnam pekan lalu setuju untuk bergabung dengan tiga produsen karet lainnya di Asean untuk memangkas ekspor karetnya.

Bundit Kerdvongbundit, wakil presiden Von Bundit Co, mengatakan Konsorsium Karet Internasional Jumat lalu menyepakati rencana untuk Thailand, Indonesia dan Malaysia untuk memangkas ekspor karet sebesar 15% masing-masing selama enam bulan ke depan untuk mengurangi pasokan dan meningkatkan harga.

Ketiga negara juga sepakat untuk meningkatkan konsumsi domestik karet termasuk untuk kontruksi jalan dan kereta api.

Bundit, yang juga sekretaris jenderal Thailand Karet Asosiasi (TRA), mengatakan Thailand akan mengurangi ekspor 300.000 ton, Indonesia  sebanyak 210.000 ton an Malaysia dengan 30.000 ton.

Tahun lalu, Thailand mengekspor 3,8 juta ton karet, diikuti oleh Indonesia (3,7 juta ton), Vietnam (1 juta ton) dan Malaysia (400.000 ton).

Empat negara menyumbang 70% dari produksi karet dunia. Vietnam masih membutuhkan persetujuan dari pembuat kebijakan sebelum dapat memotong ekspor dengan tingkat yang sama sebesar 15%.

Harga karet dunia telah berada di dekat level terendah sejak tahun 2009 karena membanjirnya pasokan dan permintaan China yang lemah.

Harga karet lembaran unsmoked sekarang dihargai hanya 45 baht per kilogram, yang jauh di bawah biaya produksi petani Thailand sekitar 55-60 baht.

Thailand saat ini memproduksi sekitar 4,5 juta ton karet per tahun, diikuti oleh Indonesia (3,7 juta ton), Malaysia (700.000 ton) dan Vietnam (1,1-1200000 ton). Sementara produksi karet dunia sebesar 12,5 juta ton.

Bundit mengatakan pasokan karet akan terbatas dari Maret-Juni ketika pohon karet mengalami gugur daun dan petani menghentikan penyadapan.

Produksi karet Thailand diperkirakan akan turun sebesar 5% atau 250.000 ton tahun ini, dimana negara itu berkomitmen untuk mamangkas 200.000 hingga 300.000 pohon karet  dari 19 juta - 20 pohon karet yang ada secara  nasional,
katanya.

Sebelumnya, Von Bundit telah menandatangani nota kesepahaman dengan Qingdao Runlian Co, Shanghai Han Qing Impor & Ekspor Co dan Shanghai TingQing Industri Co untuk menjual 110.000 ton produk karet senilai 3,85 miliar baht.

Nota kesepahaman itu ditandatangani di sela-sela acara temu  bisnis untuk karet Produk yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan Thailand. Ada 147 calon pembeli dari 28 negara pada acara tersebut, yang diharapkan untuk membuat transaksi senilai 10 miliar baht.


Menteri Perdagangan  Thailand, Apiradi Tantraporn mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan lembaga negara lainnya termasuk Departemen dan Pertanian TRA untuk mengadakan roadshow di pasar internasional.

Rusia telah menunjukkan minat untuk membeli 80.000 ton karet Thai produk, sementara India tertarik untuk membeli karet dengan nilai lebih dari US $ 40 juta.

Global Rubber Market, Bangkok, 04/03/2016

--------------------------------
Inilah Dampak Anjloknya Harga Karet

Hingga saat ini harga karet di pasar global masih terpuruk. Kebijakan pemerintah mengeluarkan crumb rubber atau karet remah dari Daftar Negatif Investasi (DNI) justru berpotensi membuat harga karet Indonesia jatuh semakin dalam.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution bilang, pemerintah sedang menyiapkan program untuk membantu petani karet, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Ia menganggap tingkat kesejahteraan mereka terpuruk akibat anjloknya harga komoditas.

Karena itu, pemerintah berupaya membuat program jangka pendek agar bisa mengurangi dampak kepada petani komoditas. Misalnya program peternakan dan perkebunan agar taraf hidup petani karet meningkatkan.

Selain itu, pemerintah akan berupaya mendorong industri berbahan baku karet di dalam negeri. "Jadi ada dua blok yang bisa dikerjakan. Pertama, dari sisi pertanian karet itu sendiri dan kedua, dari sisi pengolahan," ujar Darmin usai rapat koordinasi (rakor) di kantornya, Jumat (4/3).

Hadir dalam rakor antara lain Menteri Perdagangan Thomas Lembong, pejabat Kementerian Pertanian, Kementerian Desa, Kementerian Perindustrian, Kepala Pusat Penelitian Karet Indonesia, Dewan Karet Indonesia (Dekarindo), dan Asosiasi Industri Ban Nasional (APBI), Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo).

Ketua Dewan Karet Indonesia, Azis Pane menyayangkan belum adanya program konkrit untuk membantu petani karet. Karena itu pemerintah dan pelaku usaha akan mengadakan rapat lagi untuk merumuskan program tersebut.

Di sisi lain, asosiasi memprotes kebijakan pemerintah membuka investasi crumb rubber 100% untuk asing. Dekarindo khawatir, kebijakan ini bisa membuat harga karet semakin terpuruk. Pasalnya, industri karet remah mengekspor ke Malaysia dan Thailand yang merupakan kompetitor Indonesia sebagai produsen karet alam.

Pernyataan Azis sekaligus menepis pernyataan Menteri Perindustrian Saleh Husin sebelumnya bahwa pasokan karet mentah mencapai tiga juta ton per tahun, namun penyerapannya baru 700.000 ton per tahun. Makanya ada kebijakan membuka ke investor asing.

Padahal, kata Azis, kapasitas terpasang industri ini 5,2 juta ton/tahun, sementara bahan baku hanya 3,2 juta ton (idle) banyak yang tidak terpakai. Dewan Karet berencana kirim surat protes ke Presiden Joko Widodo menolak investor asing karet remah.

Kontan, 05/03/2016

------------------------------------------------

Impor Karet India Bulan Pebruari Merosot Karena Melemahnya Konsumsi

Penurunan konsumsi di dalam negeri telah menekan impor karet alam India pada bulan Pebruari 2016. Hal itu diungkapkan oleh Dewan Karet India. Dilaporkan kalau  impor karet India di bulan Pebruari sebesar 27.280 ton atau berkurang  11,7 % dibandingkan periode  yang sama tahun lalu.

Produksi karet alam India juga merosot sebesar 12 % dibandingkan tahun lalu dengan  volume 37.000 ton dan tingkat konsumsinya menurun sebesar 0,6 % menjadi 82.500 ton. Selama ini, negaya yang menjadi sumber impor karet alam India adalah Indonesia, Vietnam dan Thailand.

Asosiasi Petani Karet Bersatu India Selatan  (UPASI), Rabu lalu menuntut pemerintah melakukan intervensi dalam mencari solusi untuk mengatasi permasalahan di perkebunan karet yang dihantam oleh penurunan produksi dan produktivitas.

Produksi karet alam India di tahun fiskal sekarang ini diperkirakan mengalami defisit dengan hanya mencapai 5,6 lakh ton. Padahal pda periode yang sama tahun sebelumnya, produksinya mencapai 6,4 lakh ton.

Walaupun begitu, tingkat konsumsi karet alam di negeri tersebut diperkirakan tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun lalu, yakni tetap berada di sekitar  10 lakh ton.

Minimnya aktivitas pembeli dan  penjual telah menyebabkan harga karet di pasar spot tetap stabil.   Menurut data traders, harga RSS 4 ditutup stabil.

Commodityonline.com, 17/03/2016

-------------------------------------------

Alex Noerdin: Persoalan Anjloknya Harga Karet Perlu Perhatian Bersama

Getah karet menjadi penghasilan utama bagi sebagian masyarakat di Sumatera Selatan (Sumsel). Ketika harga karet anjlok, ekonomi warga Sumsel terpukul.

Kian terpuruknya harga karet yang terjadi di Sumsel dan Indonesia secara umum, perlu perhatian bersama.

Dalam rapat upaya pengembangan komoditas karet yang digelar di Horison Ultima Hotel, Rabu (23/3) malam, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H Alex Noerdin mengatakan, permasalahan anjloknya harga karet perlu dibahas agar harga kembali membaik.

Menurut Alex, pemerintah harus mencari solusi agar harga karet kembali membaik dan harga tingkat petani stabil dan tidak terjadi fluktuatif yang memicu penurunan harga.

Dikatakan Alex, Pemprov Sumsel akan melakukan upaya perbaikan harga komoditas karet dengan membangun pabrik ban di hilirisasi Tanjung Api-Api.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemprov Sumsel menggandeng pemerintah pusat dan investor dalam dan luar negeri agar menanamkan investasinya di Bumi Sriwijaya.

Guna meningkatkan komoditas karet di Sumsel, pihaknya mengkombinasikan dengan mengembangkan sektor industri besar di Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api.

Pada kesempatan itu, Alex mengucapkan terima kasih atas bantuan Menteri Pertanian ke Sumsel, mulai dari kebutuhan di bidang pertanian, perkebunan dan sebagainya.

Menteri Pertanian RI, Andi Amran yang hadir pada kegiatan tersebut mengatakan, pemerintah berupaya mendongkrak harga karet di tingkat petani dengan mengurangi ekspor karet ke negara pengimpor.

Dalam kebijakan ini, pengurangan ekspor karet dari Sumatera Selatan (Sumsel) mencapai 87.210, 26 ton dari nasional 238.736 ton selama enam bulan ke depan.

Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI telah menjamin subsidi bagi petani karet untuk bisa menutupi kekurangan pendapatan yang dipastikan akan terjadi.

Sumselupdate.com, 23/03/2016

-------------------------------------

Perusahaan Besar Tetap Perluas Kebun Karet di Asia Tenggara

Perusahaan yang bergerak di bidang pertanian dan perkebunan tetap memperluas bisnis karet mereka walapun harga komoditas karet belum lama ini jatuh  ke posisi terendah selama hampir tujuh tahun

Sementara harga karet yang tertekan membuat  petani kebun plasma sulit mencari pendapatan secukupnya, perusahaan besar perkebunan justru terus menciptakan  lahan perkebunan besar di Asia Tenggara.

Di Malaysia, salah satu dari tiga eksportir karet dunia, memiliki areal yang didedikasikan untuk perkebunan karet dengan luas  meningkat 7,5% pada 2015, sementara kepemilikan petani kecil juga naik kurang dari 1%, menurut Dewan Karet Malaysia.

Di Indonesia, eksportir top lain, data terbaru pemerintah menunjukkan perkebunan karet milik perkebunan besar naik 2,5% pada tahun 2014.

Di antara perusahaan besar Asia, raksasa Thailand  Sri Trang Agro-Industri PCL sedang menyelesaikan rencana yang dimulai pada tahun 2009 untuk menanam pohon karet di lahan seluas 20.262 hektare .

Malaysia Sime Darby Bhd., Salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia, berencana untuk meningkatkan pangsa perkebunan karet di portofolio lahan pertanian menjadi sebesar 10% dari 2% selama 10 sampai 15 tahun mendatang.

Minat untuk memperluas perkebunan karet muncul di tengah kemerosotan berkepanjangan pada harga komoditas yang digunakan untuk membuat produk mulai dari ban hingga sarung tangan lateks ini.

Harga karet mencapai tingkat terendah sejak 2009 awal tahun ini, yang dipicu oleh banyaknya stok dan penurunan permintaan dari China yang terus menggerus harga.

Namun perkebunan besar terus meningkatkan perkebunan karet sebagai  investasi jangka panjang. Pertumbuhan perkebunan besar di Vietnam telah memberikan kontribusi terhadap kelebihan pasokan karet  di pasar saat ini. Namun, kenaikan produksi itu   lebih banyak menimbulkan tekanan pada harga karet.
"Pertumbuhan di perkebunan bisa baik bagi pengusaha kecil jika bersifat inklusif dan menyediakan mereka  bantuan teknis dan tingkat pengembalian yang sesuai," kata Direktur WWF Hutan Internasional, Rod Taylor.

"Namun hal itu bisa  menjadi buruk jika perluasan  itu justru membuat petani kecil tersingkir dan membuat mereka sulit bersaing,” ucapnya.

The Wall Street Journal, 24/03/2016

--------------------------------------------

Gairahkan Harga Karet, Kementan Rangkul 4 Kementerian

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa langkah untuk meningkatkan harga karet dalam negeri. Langkah itu berupa penyerapan karet yang dilakukan dengan kerja sama dari 4 kementerian lain yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Kementerian BUMN.

"Kami sudah rapat. Di sana aku tanya siapa yang butuh karet. Di situ kami sepakati 250 ribu ton di KemenPUPR, 100 ribu ton di Kemenhub, dan 100 ribu ton di BUMN," ujar Amran, Rabu (23/3) malam, saat memberi sambutan di Rapat Upaya Pengembangan Komuditas Karet Nasional, di Hotel Horison, Palembang.

Menurut Amran, dalam hal ini pemerintah akan membuka pasar dalam negeri dan membatasi ekspor karet keluar negeri sehingga pasar karet di dalam negeri akan terbuka lebar. Pasar-pasar dalam negeri tersebut adalah 4 kementerian tersebut dengan total karet sebanyak 500 ribu ton.

Selain melakukan penyerapan karet, solusi berikutnya adalah melakukan replanting peremajaan tanaman Karet. Dikarenakan tanaman karet merupakan tanaman tahunan memerlukan waktu sekitar 5-7 tahun baru bisa diproduksi, maka dalam 1-3 tahun Kementerian Pertanian (Kementan) mempunyai program akselarasi untuk memberikan benih jagung, kedelai dan padi secara gratis sebagai tanaman sela.

"Karet ini tanaman tahunan, butuh 5-7 tahun. Dalam 1-3 tahun, Kementan mempunyai program akselerasi untuk jagung, kedelai, padi. Tiga benih ini gratis untuk petani karet," pungkas Amran.

Jitunews,24/03/2016

---------------------------

Kurangi Ekspor Karet

Berbagai langkah diambil pemerintah untuk mengembalikan harga karet dari keterpurukan saat ini. Mengurangi ekspor dan memperbesar serapan pasar dalam negeri merupakan alternatif yang memungkinkan.

Dalam rapat Upaya Pengembangan Komoditas Karet Nasional di Hotel Horison Palembang, tadi malam, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengatakan, demi menjalankan kebijakan pengurangan ekspor tersebut, maka para petani karet diimbau sementara waktu beralih menanam komoditi lain. Bisa saja di lahan karet tersebut ditanami jagung, padi dan kedelai. Nanti, pemerintah akan membantu bibit secara gratis sampai krisis karet membaik dan harganya kembali stabil.

“Bantuan akan diberikan gratis kepada petani karet. Petani akan melakukan sistem taman tumpang sari di sela-sela perkebunan karet, terutama jagung,” ujar Amran. Menurut Amran, strategi tersebut sebagai solusi dari pemerintah untuk menjamin petani karet memenuhi kebutuhan di saat tidak lagi ada penghasilan dari memproduksi karet.

Selain itu, penyediaan pasar dalam negeri juga dapat dijadikan solusi untuk mengatasi lemahnya penyerapan luar negeri yang telah mengakibatkan anjloknya harga di tingkat petani karet. “Kita akan buka pasar dalam negeri dan ini sudah instruksi presiden, dan program ini kerja sama Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Perdagangan, Perindustrian, Perhubungan dan BUMN,” ucapnya lagi.

Ditegaskan Amran, akan ada penerapan sanksi kepada pedagang maupun pabrik yang melanggar berdasarkan hasil pengawasan, sesuai dengan Permendag No 53 Tahun 2009. Selain itu, dalam program ini perlunya regulasi masalah ter kait dengan pembelian bokar (bahan olah karet) bersih oleh pabrik, meningkatkan peranan pasar lelang agar lebih mudah dalam mengakomodir harga jual karet rakyat yang lebih wajar dan berkeadilan,menerapkan gerakan nasional (Gernas) peremajaan karet dengan pola tumpang sari pada masa TBM untuk menambah penghasilan perkebunan.

Mempercepat terbitnya regulasi inpres keppres guna meningkatkan penyerapan produk si karet dalam negeri. Perlu perhatian yang lebih terhadap petani karet yang terkena dam - pak penurunan harga, misalnya masuk program bansos raskin.

Di tempat yang sama, Gu ber - nur Sumatra Selatan Alex Noer - din mengatakan, kondisi karet di Sumsel perlu perhatian bersama dan pembahasan kom prehensif agar harga kembali mem baik. Pasalnya, produksi karet Sumsel merupakan peno pang utama ekspor sektor non-migas.

“Pemerintah harus mencari solusi agar harga karet kembali membaik, dan harga di tingkat petani harus stabil dan tidak terjadi fluktuatif yang memicu penurunan harga karet. Hili ri - sasi di TAA akan menjadi solusi, nantinya akan dibangun pabrik bandansebagainya, sebagai pendukung harga karet men ja di le - bih baik lagi nantinya,” katanya.

Guna meningkatkan komoditas karet di Sumsel, lanjut Alex, pihaknya mengkombinasi kan dengan mengembangkan sektor industri besar di Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api. Pemprov Sumsel menggandeng pemerintah pusat dan investor dalam dan luar negeri untuk berinvestasi di Sumsel.

Alex juga mengucapkan teri ma kasih atas bantuan Menteri Pertanian selama ini ke Sumsel. Tidak hanya ini, bantuan yang diberikan cukup beragam mulai dari kebutuhan di bidang pertanian, perkebunan dan sebagainya. Terlebih lagi, kata Alex, bagi investor yang ingin membangun pabrik-pabrik yang bahan bakunya dari kekayaan sumber daya alam Sumsel.

Untuk itu, Sumsel menjadi salah satu provinsi pendukung ketahanan pangan di Indonesia. Seperti halnya beras, kata Alex, Sumsel ditarget memproduksi 500.000 ton beras, namun Sumsel memiliki target sendiri yaitu 1,2juta ton beras. Hasilnya, Sumsel bisa mencapai 1,8 juta ton beras di tahun lalu.

“Tahun ini kita ditargetkan Menteri Pertanian 2,2 juta ton. Kalau mau ditambah lagi oleh pusat, maka kami akan menambahkan lagi target untuk Sum sel,” katanya. Dia menyebutkan, saat ini cukup banyak kendala dalam produksi beragam komoditas yang ada di Sumsel. Seperti tahun lalu ada masalah El Nino, kebakaran hutan dan lahan mem - buat produksi komoditas Sumsel terhambat.

“Kami upayakan agar Sumsel tahun ini zero asap. Sehingga komoditas Sumsel baik karet dan sebagainya tidak memiliki hambatan dalam produksinya,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkrindo), Lukman Zakaria mengapresiasi berbagai solusi yang ditawarkan oleh pemerintah. Bahkan Lukman sangat setuju dengan strategi memperbesar serapan pasar dalam negeri.

Sebab, dengan semakin tingginya kebutuhan karet, maka produksi karet yang dihasilkan petani bisa terserap maksimal. “Misalnya untuk bendung - an, peningkatan pembuatan aspal dan sebagainya. Semuanya menggunakan bahan baku karet agar penyerapan pasar dalam negeri meningkat. Tentunya itu sangat berdampak pada petani karet,” tuturnya.

Terkait dihentikannya keran ekspor hingga harga pasaran dunia membaik, menurut Lukman, hal itu tidak terlalu berpengaruh selama pro duksi Indonesia masih dira gu kan di pasar internasional. Sebab, selain perilaku petani karet yang masih sering men cu rangi dengan mencampurkan berbagai kotoran ke bahan olah karet (bokar) agar lebih berat sat di - timbang, persoalan lain yang juga dihadapi adalah kualitas bibit karet yang kurang baik.

“Di pasar dunia kita berada di urutan tiga tingkat kekotoran nya. Itu menyebabkan harga karet kita anjlok. Selain itu, yang harus juga dipikirkan pemerintah mencari solusi agar bibit karet kita menjadi terbaik,” pungkasnya,

Koran Sindo, 24/03/2016

----------------------------------------------

Petani Minta Alokasi  Dana  Peremajaan

Petani karet menuntut pemerintah agar mengalokasikan dana untuk peremajaan seperti halnya yang diterapkan dalam perkebunan kakao berupa gerakan nasional atau Gernas.

Produktivitas karet di tanah air masih relative rendah sehingga perlu ada peremajaan (replanting) perkebunan milik petani. Komoditas karet juga menghadapi tantangan adanya tren petani yang menebang pohon karet untuk diganti dengan tanaman lain karena harga komoditas itu terus merosot.

Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkrindo) Lukman Zakaria menyampaikan, tanpa ada perhatian yang intensif dari pemerintah, maka sulit mempertahankan produksi karet Indonesia yang selama ini merupakan yang terbesar kedua dunia.

“Pemerintah harusnya terlibat melalui pengalokasian  APBN untuk komoditas karet, seperti program Gernas Kakao dan Gernas Kopi. Selama ini petani jalan sendiri secara tradisioni. Produksi kita bagus. Apalagi kalau didanai,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (27/3).

Dia menjelaskan, program Gernas Karet diperlukan untuk memperbaiki infrastruktur secara menyeluruh tidak hanya untuk peremajaan perkebunan. Menurutnya, pemerintah pun harus menata serapan karet local untuk industri.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman sebelumnya mengatakan pemerintah berencana melakukan peremajaan kembali komoditas karet seluas 1 juta hektare. Namun, Amran belum menjelaskan secara spesifik berapa tahun target peremajaan kebun karet seluas 1 juta hectare tersebut.

Dalam pertemuan yang membahas khusus komoditas karet di Palembang akhir pecan lalu, Amran menyampaikan pemerintah telah menyiapkan beberapa solusi untuk mengurai persoalan produksi dan harga karet di dalam negeri.

Pertama, membuka pasar karet dalam negeri yaitu melalui konsolidasi penyerapan oleh Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR, Kementerian BUMN dan Kementerian Perindustrian dengan total serapan sebanyak 500.000 ton.

Kedua, melakukan replanting karet pada lahan 1 juta hectare melalui bantuan kredit usaha rakyat (KUR) kepada petani. Ketiga,  memberikan bantuan benih jagung gratis sebagai opsi saat pohon karet sedang diremajakan.

Kementan pun akan menyalurkan benih kedelai secara gratis sehingga petani dapat melakukan  program tumpang sari antara tanaman karet dengan jagung atau kedelai..

Sementara itu meresepon program yang dibeberkan Kementan, Lukman menyampaikan pemerintah sebaiknya tidak serta merta menyerahkan program replanting melalui KUR pada petani. Pasalnya, dia menilai saat ini petani belum memiliki wawasan dalam berhubungan dengan dunia perbankan.

Menurut Lukman, pemerintah hendaknya menyertakan avails yang dapat menjadi penengah antara petani dan perbankan. Selama ini petani melakukan usaha perkebunan dengan mengandalkan tengkulak, bukan mengajukan kreditke bank.

Dengan Sistem gernas, katanya, pemerintah pun dapat mengawasi program replanting di lapangan mulai dari pencatatan petani, penyaluran benih hingga penyaluran pupuk.

Bisnis Indonesia, 28/03/2016

-------------------------------------------------------------------

Halcyon Agri dan Sinochem akan Menggabungkan Bisnis Karet Alam

Halcyon Agri, perusahaan yang tercatat di papan utama Bursa Singapura dan perusahaan Tiongkok  Sinochem International telah sepakat untuk menggabungkan bisnis karet alam mereka guna membentuk perusahaan pengelola rantai pasokan karet alam terbesar di dunia, demikian diumumkan kedua perusahaan tersebut Senin (28/3).

Bisnis karet alam akan digabungkan di bawah Halcyon Agri yang sahamnya akan tetap tercatat di Bursa Singapura.

Sinochem International akan mendapatkan 30.07% saham di Halcyon Agri dengan harga Sin$0,75 per lembar saham secara tunai dan melakukan penawaran umum wajib (mandatory general offer/MGO) kepada seluruh pemegang saham Halcyon Agri pada harga yang sama.

Saham Halcyon Agri terakhir diperdagangan pada Sin$0,73 per saham pada tanggal 23 Maret. Perusahaan pada Senin lalu telah meminta pihak pengelola  bursa untuk mencabut kebijakan penghentian perdagangan sahamnya.

Sejumlah pemegang saham Halcyon Agri juga sudah menyiapkan pengambilalihan saham perusahaan oleh Sinochem International menyusul dilakukannya MGO dengan total pengambilalihan tidak kurang dari 53,98%, ungkap perusahaan.

Setelah MGO, Halcyon Agri akan melakukan penawaran umum sukarela (voluntary general offer/VGO) untuk GMG Global dengan perbandingan pertukaran saham 0,9333 saham Halcyon untuk setiap saham GMG Global.

Sinochem International sudah siap menerima VGO atas kepemilikan sahamnya sebesar 51,1%.

Pada akhirnya Halcyon Agri juga akan menguasai asset pengolahan karet alam milik Sinochem International di China dan Malaysia dan bisnis perdagangan saham Halcyon Agri sebanyak 280 lembar.

Pasca penyelesaian transaksi, Sinochem akan menjadi pemegang saham mayoritas Halcyon Agri yang akan menjadi perusahaan holding daro grup yang sudah diperluas.

Perusahaan menyatakan bisnis gabungan tersebut akan memiliki 153.000 ha lahan di Afrika dan Asia Tenggara, 35 fasilitas pemrosesan karet alam yang tersebar di Indonesia, Thailand, Malaysia, China dan Afrika dengan total kapasitas pengolahan 1,5 juta ton per tahun dan kemampuan penjualan lateks dan karet alam lebih dari 2 juta ton per tahun.

Transaksi tersebut membutuhkan persetujuan dari para pemegang saham Halcyon Agri melalui rapat umum pemegang saham luar biasa perusahaan. Transaksi tersebut dalam kaitannya dengan  yurisdiksi tertentu juga membutuhkan persetujuan dari pihak regulator bursa dan badan pengawas persaingan usaha. Penyelesaian akhir dari transaksi itu diperkirakan akan terjadi pada akhir kuartal ketiga tahun ini.

Channelnewsasia.com, 28/03/2016

-------------------------------------------------

Gapkindo Komitmen Dengan Skema AETS

Para eksportir karet alam yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) berkomitmen mengurangi ekspor karet sesuai skema alokasi ekspor atau agreed export tonnage scheme (AETS) mulai periode Maret hingga Agustus 2016.

Komitmen tersebut disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD) bertemakan “Kesiapan Eksportir Karet Indonesia dalam Rangka Implementasi Skema AETS Tahun 2016” yang dilaksanakan di Kementerian Perdagangan, pekan lalu.

Sesuai kesepakatan pada 4 Februari 2016 bahwa Pemerintah Indonesia, Thailand, dan Malaysia yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) sepakat mengimplementasikan mekanisme AETS untuk mengurangi pasokan karet alam di pasar dunia. Pengurangan ekspor dilakukan selama enam bulan, mulai 1 Maret-31 Agustus 2016. Alokasi pengurangan ekspor bagi tiap negara yaitu Thailand sebanyak 324.005 ton, Indonesia 238.736 ton, dan Malaysia 52.259 ton.

“Skema AETS sebagai hasil kesepakatan 3 negara ITRC merupakan salah satu cara menyiasati penurunan harga karet dengan cara pengurangan alokasi ekspor karet alam di tingkat global. Pemerintah meminta pelaku usaha berkomitmen menjalani kesepakatan itu,” ungkap Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Karyanto Suprih.

Karyanto mengatakan, pemerintah memberikan penugasan kepada GAPKINDO melalui Surat Dirjen Perdagangan Luar Negeri No.156/DAGLU/SD/2/2016 tanggal 24 Februari 2016 sebagai penanggung jawab pelaksanaan skema AETS 2016 oleh seluruh anggotanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Karyanto menjelaskan Gapkindo bertanggung jawab dan secara periodik wajib melaporkan secara tertulis pelaksanaan AETS kepada Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri dan ditembuskan kepada Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan.

Penunjukkan tersebut menurut Karyanto didasari Keputusan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 35/M-DAG/KEP/2/2007 Tentang Penugasan Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) sebagai National Tripartite Rubber Corporation (NTRC).

Pada penutupan FGD tersebut Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo dengan disaksikan Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri menyerahkan alokasi awal ekspor karet alam periode Maret 2016 kepada masing-masing eksportir karet alam. "Kami komitmen menjalankan skema AETS untuk mengurangi ekspor karet," tegasnya

Pengurangan ekspor karet kali ini merupakan yang ke-4 (Pertama tahun 2002, kedua tahun 2009 dan ketiga tahun 2012) yang dilaksanakan oleh perusahaan karet remah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 35 Tahun 2007 dimana Gapkindo ditetapkan sebagai National Tripartite Rubber Council (NTRC). Sebagai NTRC Gapkindo mengorganisir anggotanya dan mengalokasikan volume ekspor setiap anggotanya dengan penuh tanggung jawab.

Upaya memperbaiki harga karet telah menjadi perhatian pemerintah dimana Presiden Joko Widodo telah meminta jajaran menterinya untuk mengupayakan perbaikan harga guna membantu perbaikan kondisi petani karet.

Adapun harga pasaran karet crumb rubber di bursa SICOM Singapura pada saat pertemuan berlangsung telah mengalami kenaikan sebesar  300 dolar/MT dibandingkan pada saat rencana penerapan AETS dirumuskan pada tanggal 4 Februari 2016 yang lalu.

Penurunan harga karet di pasar internasional selama beberapa tahun terakhir ini telah membuat petani karet di dalam negeri mengalami kerugian karena biaya operasi yang dikeluarkannya tidak sebanding dengan harga jual karet.

Tim Bulletin

email Cetak PDF